Hasil SEA V Cup 2026: Takluk 0-3 dari Thailand, Investasi Voli Putri Indonesia

oleh -81 Dilihat
VENISA INDONESIA
Venisa, pemain muda timnas voli putri Indonesia. (AVC)

KabarBaik.co, Thailand — Langkah menarik dan bervisi diambil Marcos Sugiyama, pelatih kepala timnas voli putri Indonesia, saat menghadapi ketangguhan Thailand pada laga kedua Leg 2 SEA V Cup 2026. Bertanding di 700th Anniversary Chiang Mai Sports Complex, Thailand, Sabtu (8/8) sore, skuad Merah Putih harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan kekalahan tiga set langsung 0-3 (18-25, 17-25, 12-25).

Namun, di balik skor telak tersebut, terdapat narasi lain yang tidak kalah penting. Yakni, keberanian melakukan rotasi dan memberikan pengalaman kepada pemain-pemain muda Indonesia di panggung internasional.

Dalam pertandingan melawan kekuatan utama Asia Tenggara tersebut, Sugiyama memberikan kesempatan lebih besar kepada sejumlah pemain muda. Geofanny Eka Cahyaningtyas, Gendhis, dan Syelomitha Wongkar termasuk nama-nama yang mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuan. Venisa Dwi Oktaviani juga merupakan bagian dari skuad yang dibawa Sugiyama pada SEA V Cup 2026.

Keputusan tersebut tidak datang tanpa konteks.

Sehari sebelumnya, Jumat (7/8), Indonesia baru saja menjalani pertandingan panjang dan melelahkan melawan skuad Vietnam. Garuda Putri sempat tertinggal dua set sebelum bangkit dan memenangkan pertandingan 3-2 dengan skor 20-25, 18-25, 25-22, 25-20, 15-9.

BACA JUGA:  Geofanny Eka: Satu Senjata Mematikan Gresik Phonska Plus di Proliga 2026

Kemenangan tersebut sekaligus membawa Indonesia dalam sejarah baru. Untuk kali pertama sukses menundukkan The Golden Star Warriors sejak 2019 silam.

Pertandingan melawan Vietnam jelas menguras energi. Indonesia harus bermain lima set untuk mengamankan kemenangan, sedangkan sehari setelahnya mereka sudah harus berhadapan dengan Thailand, tim voli putri yang menempati rangking ke-17 dunia, sementara Indonesia baru di posisi ke-53.

Situasi itu bisa jadi pertimbangan penting bagi Sugiyama untuk tidak memaksakan seluruh pilar utama tampil dalam kondisi yang kurang ideal. Ersandrina Devega, Mediol Yoku, Arsela Nuari, Tisya Amallya, hingga Maradanti Namira.

Apalagi, Thailand sebelumnya juga sudah menunjukkan kualitasnya ketika mengalahkan Indonesia 3-1 pada Leg 1 SEA V Cup di Hanoi. Dalam pertandingan tersebut, Thailand menang 25-21, 32-34, 25-21, dan 25-19.

BACA JUGA: Arneta Putri Amelian, Simfoni Jari-Jemari dari Pasir Grobogan di Proliga 2026

Dengan kondisi tersebut, pertandingan di Chiang Mai ini menjadi ruang yang cukup ideal bagi Indonesia untuk menguji kedalaman skuad.

Keputusan Sugiyama juga sejalan dengan kebutuhan jangka panjang tim nasional. PBVSI sebelumnya memasang target Indonesia finis sebagai runner-up SEA V Cup 2026. Target tersebut disampaikan Ketua Umum PP PBVSI Imam Sudjarwo saat melepas skuad Merah Putih di Padepokan Voli Jenderal Polisi Kunarto, Sentul, pada 19 Juli 2026.

Untuk mencapai target tersebut sekaligus membangun tim yang lebih kompetitif dalam jangka panjang, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar enam atau tujuh pemain inti. Kedalaman skuad menjadi faktor penting, terutama ketika turnamen berlangsung dengan jadwal yang padat. Ke depan juga bersiap ke Asian Games.

BACA JUGA: Medi Yoku: Konsistensi Sang Kapten, Inspirasi Akar Rumput

Di lapangan, keberanian pemain muda Indonesia menghadapi Thailand patut diapresiasi. Mereka mendapat pengalaman langsung menghadapi tim yang memiliki pengalaman dan kualitas permainan tinggi. Bukan hanya di level Asia Tenggara, melainkan juga Asia dan dunia dengan turnamen VNL itu.

Meski demikian, pertandingan tersebut juga memperlihatkan sejumlah pekerjaan rumah.

Pekerjaan Rumah Timing Block, Defense hingga Cover

Dalam pengamatan sepanjang laga, variasi serangan Indonesia belum sekomplet Thailand. Ini juga tampak pada laga uji coba melawan timnas Korea Selatan pada Jui lalu, Beberapa serangan terbilang masih analog. Sangat bergantung pada bola-bola tinggi yang kemudian diselesaikan sebatas dengan pukulan keras. Pada situasi tertentu, koordinasi blok juga terlihat terlambat membaca arah serangan lawan.

Persoalan lain terlihat ketika Indonesia harus mengantisipasi bola pantulan dari blok. Koordinasi defense dan cover belum selalu berjalan rapi sehingga beberapa peluang untuk membangun serangan balik terlewat.

BACA JUGA: Sosok Venisa Dwi Oktaviani: Spiker Muda yang Mencuri Perhatian dari Balik Ekspresi Cool

Hal-hal semacam itu memang sulit diperoleh hanya melalui sesi latihan. Pemain muda membutuhkan pengalaman menghadapi situasi pertandingan sebenarnya, terutama ketika berhadapan dengan lawan yang mampu memberikan tekanan secara konsisten.

Thailand kemudian mampu memanfaatkan pengalaman tersebut. Indonesia kesulitan menjaga konsistensi permainan hingga akhirnya menyerah 18-25 pada set pertama, 17-25 pada set kedua, dan 12-25 pada set ketiga.

Kekalahan ini tentu bukan hasil yang diinginkan. Namun, dari perspektif pembangunan tim, laga tersebut memberikan pelajaran yang sangat berharga.

Indonesia kini memiliki kesempatan untuk melihat sejauh mana para pemain muda mampu berkembang setelah mendapat pengalaman menghadapi Thailand. Jam terbang seperti ini penting untuk membentuk keberanian, pengambilan keputusan, sekaligus pemahaman taktik ketika mereka nantinya harus menjadi bagian penting dari tim utama.

Filipina Bukan Lawan yang Bisa Diremehkan

Setelah menghadapi Vietnam dan Thailand, Indonesia masih memiliki satu pertandingan terakhir di Leg 2, yakni melawan Filipina pada Minggu (9/8). Pertandingan tersebut dijadwalkan berlangsung pukul 13.00 WIB.

Di atas kertas, Indonesia memiliki modal positif. Sebab, pada Leg 1 mampu mengalahkan Filipina 3-1. Namun, hasil pertandingan Filipina melawan Vietnam pada Sabtu (8/8) siang, membuat laga terakhir Indonesia menjadi jauh lebih menarik.

Filipina secara mengejutkan berhasil mengalahkan Vietnam 3-1. Berdasarkan hasil laga, pertandingan berakhir dengan skor 25-22, 23-25, 21-25, dan 22-25 dengan kemenangan Filipina. Artinya, Filipina mampu bangkit setelah kehilangan set pertama dan kemudian merebut tiga set berikutnya.

Hasil tersebut menjadi alaram bagi Indonesia bahwa Filipina tidak bisa dipandang sebelah mata.

Indonesia memang pernah mengalahkan Filipina pada Leg 1 maupun sejumlah turnamen lain. Namun, situasi pada Leg 2 tampaknya berbeda. Filipina kini datang dengan kepercayaan diri setelah mengalahkan Vietnam dengan skor 3-1, sementara Indonesia harus melewati pertandingan lima set melawan Vietnam.

Karena itu, laga terakhir di Chiang Mai akan menjadi ujian penting bagi konsistensi sekaligus kedalaman skuad Garuda Putri.

Kekalahan yang Bisa Menjadi Investasi

Dengan satu pertandingan tersisa, Indonesia masih mempunyai kesempatan menutup Leg 2 dengan hasil positif.

Bagi Sugiyama, pertandingan melawan Filipina juga bisa menjadi kesempatan untuk kembali mengukur perkembangan para pemain yang sebelumnya mendapat kepercayaan menghadapi Thailand.

Kekalahan 0-3 dari Thailand memang pahit dari sisi hasil. Tetapi jika pengalaman tersebut mampu diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas teknik, keberanian mengambil keputusan, serta kematangan membaca permainan, pertandingan di Chiang Mai dapat menjadi investasi penting bagi masa depan tim nasional.

Regenerasi tidak selalu berjalan melalui kemenangan.

Kadang, pemain muda memang harus merasakan tekanan, menghadapi lawan yang lebih matang, melakukan kesalahan, kemudian belajar dari kesalahan tersebut.

Dan itulah nilai lain yang tersimpan di balik kekalahan Indonesia dari Thailand.

Garuda Putri kini memiliki satu kesempatan terakhir untuk membuktikan bahwa pengalaman pahit tersebut bukan sekadar kekalahan, melainkan bagian dari proses membangun tim yang lebih dalam, lebih matang, dan lebih siap bersaing di level Asia Tenggara. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.