KabarBaik.co, Bojonegoro – Kemenag Bojonegoro menggelar rukyatul hilal untuk menentukan awal 1 Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2) sore. Pengamatan dilakukan di puncak Bukit Wonocolo, tepatnya di rumah singgah Texas Wonocolo, Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan.
Rukyatul hilal merupakan metode pengamatan langsung terhadap hilal atau bulan sabit muda pertama sesaat setelah matahari terbenam pada tanggal 29 bulan Qamariah. Metode ini menjadi salah satu rujukan penting dalam penetapan awal bulan Hijriah, termasuk Ramadhan dan Syawal, baik oleh pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan Islam seperti Nahdlatul Ulama.
Dari hasil pemantauan sempat terkendala mendung tipis akibat hujan yang turun pada sore hari. Meski begitu, proses rukyat tetap dilaksanakan sesuai jadwal.
Kepala Kemenag Bojonegoro Amanulloh menyebut kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan dalam penentuan awal Ramadhan dan Syawal. Menurutnya, Bukit Wonocolo menjadi salah satu titik pemantauan (matlak) dari 96 lokasi rukyat yang tersebar di Indonesia.
“Bukit Wonocolo ini salah satu lokasi tertinggi di Bojonegoro yang ufuknya terlihat cukup jelas. Selain itu, ada nilai historis karena pada tahun 2012 hilal pernah terlihat di lokasi ini dan menjadi pertimbangan penentuan awal Ramadhan saat itu,” ujarnya.
Ia menambahkan dari hasil pengamatan akan dilaporkan sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat pemerintah pusat melalui Kementerian Agama RI. Amanulloh juga mengungkapkan kemungkinan adanya perbedaan awal Ramadhan dengan Muhammadiyah yang telah menetapkan awal puasa lebih dahulu.
“Perbedaan itu mungkin saja terjadi, dan mari kita saling menghormati,” tutupnya.
Sementara itu, anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag Bojonegoro, Moch Charis, menjelaskan secara kasatmata langit relatif cerah meski tertutup mendung tipis. Namun berdasarkan perhitungan astronomi (hisab), posisi hilal diperkirakan masih berada di bawah ufuk.
“Secara hisab, posisi hilal hari ini sekitar minus satu derajat di bawah ufuk. Secara keilmuan, kondisi itu membuat hilal sangat mungkin tidak dapat terlihat,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, bulan Syaban berpotensi digenapkan menjadi 30 hari. Meski demikian, keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah.
Charis menegaskan penetapan Bukit Wonocolo sebagai tempat rukyat bukan semata karena ketinggian, melainkan melalui survei teknis yang mempertimbangkan keterbukaan pandangan ke arah barat.
“Tidak semua tempat tinggi memiliki sudut pandang ufuk yang ideal. Lokasi ini sudah melalui berbagai pertimbangan dan survei,” pungkasnya. (*)







