KabarBaik.co, Banyuwangi – Melimpahnya hasil tangkapan ikan layang di Desa Bomo, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, belum sepenuhnya memberikan keuntungan bagi nelayan. Saat tangkapan mencapai sekitar 1 ton sehari, harga ikan justru dapat turun karena daya serap pasar dan daya simpan ikan segar yang terbatas.
Kondisi tersebut mendorong Kelompok Usaha Bersama (KUB) Bahari Desa Bomo mengembangkan produk olahan perikanan agar hasil tangkapan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Salah satu upayanya dilakukan melalui inovasi pengemasan berbasis film yang dapat memperpanjang masa simpan sekaligus meningkatkan daya tarik produk.
Melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), tim dosen UNIBA kemudian memberikan pendampingan kepada KUB Bahari dalam diversifikasi produk dan modernisasi teknologi pengemasan. Program tersebut didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.
Dosen Teknologi Hasil Perikanan Universitas PGRI Banyuwangi (UNIBA) sekaligus ketua tim pengabdian, Miratis, mengatakan selama ini ikan layang hasil tangkapan nelayan dijual langsung kepada konsumen di sekitar pantai, pasar tradisional, maupun tengkulak.
“Hasil tangkapan ikan layang bisa mencapai 1 ton dalam satu hari. Ketika tangkapan melimpah, harga jualnya menjadi murah karena tidak sebanding dengan daya serap pasar,” ujar Miratis.
Harga ikan layang di tingkat nelayan selama ini berkisar Rp9.000 hingga Rp15.000 per kilogram, tergantung jumlah tangkapan dan musim. Ikan yang tidak habis terjual biasanya dikonsumsi keluarga nelayan dan diolah secara sederhana seperti digoreng, dipepes, atau dibakar.
Menurut Miratis, kondisi tersebut menunjukkan perlunya diversifikasi produk agar ikan tidak hanya dijual dalam bentuk segar. Produk olahan juga perlu didukung kemasan yang mampu menjaga kualitas sekaligus meningkatkan nilai jual.
Oleh karenanya nelayan dikenalkan dengan kemasan berbasis edible film atau kemasan ramah lingkungan. Teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan higienitas, memperpanjang masa simpan, serta menjaga kualitas dan cita rasa produk olahan perikanan.
“Melalui inovasi kemasan berbasis film ini, kami ingin membantu anggota KUB Bahari menaikkan kelas produk olahannya. Kemasan yang memadai tidak hanya melindungi produk dari kontaminasi luar, tetapi juga memberikan nilai tambah sehingga produk memiliki daya saing tinggi,” katanya.
Pendampingan juga mencakup teknik pengolahan yang higienis, branding, hingga strategi pemasaran digital. Langkah tersebut diharapkan membuat produk olahan KUB Bahari tidak hanya mampu bertahan lebih lama, tetapi juga memiliki peluang masuk ke pasar ritel modern dan toko oleh-oleh.
Ketua KUB Bahari Desa Bomo, Nuryanto, menyambut baik pendampingan tersebut. Ia berharap program tersebut dapat terus berlanjut sehingga produk olahan perikanan mampu memberikan tambahan pendapatan bagi nelayan dan mendorong perekonomian masyarakat pesisir.
“Kami berterima kasih atas kepedulian dan pendampingan yang diberikan. Harapannya kerja sama ini dapat terus berlanjut sehingga bisa mendongkrak perekonomian masyarakat pesisir Desa Bomo secara berkelanjutan,” ujar Nuryanto. (*)








