Imbas PG GMM Belum Giling, PT SGN Siap Tampung Tebu Blora 200 Rit per Hari

oleh -133 Dilihat
WhatsApp Image 2026 05 29 at 8.44.05 AM
Pertemuan Perwakilan PT Sinergi Gula Nusantara dan Perwakilan APTRI Kabupaten Blora bersama Bupati Blora (Ist)

​KabarBaik.co, Blora – PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) bergerak cepat menyelamatkan nasib para petani tebu di Blora, Jawa Tengah. Langkah ini diambil menyusul belum beroperasinya Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (PG GMM), yang sempat memicu kekhawatiran petani akan potensi gagal panen.

Komitmen tersebut disepakati dalam pertemuan antara perwakilan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), para petani tebu Blora, dan jajaran PG Rendeng PT SGN pada Kamis (28/5).

Melalui PG Rendeng, PT SGN menyatakan kesiapannya untuk menampung tebu petani Blora dengan kapasitas sekitar 150 hingga 200 rit per hari. Strategi jangka pendek ini krusial dilakukan agar tebu tidak terlambat digiling, yang bisa memicu penurunan rendemen (kadar kandungan gula) serta mengganggu pasokan gula nasional.

“Kami berkomitmen menyerap tebu petani Blora demi menyelamatkan hasil panen mereka karena PG GMM belum beroperasi,” ujar Regional Head 1 Jateng PT SGN, Edy Purnomo dalam keterangan tertulisnya, Kamis (29/5).

​Tak sekadar menggelar pertemuan teknis dengan petani, di hari yang sama manajemen PT SGN juga langsung menghadap Bupati Blora beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di Pendopo Kabupaten.

​Edy menjelaskan situasi yang dihadapi petani Blora saat ini memang cukup pelik. Jarak antara lahan petani ke PG Rendeng terpaut sekitar 70 kilometer lebih jauh dibandingkan ke PG GMM yang selama ini menjadi mitra utama mereka. Konsekuensinya, biaya logistik dan angkut yang harus ditanggung petani otomatis membengkak.

Merespons kendala tersebut, Edy memastikan bahwa penyerapan tidak hanya bertumpu pada satu pabrik. SGN akan membuka pintu beberapa pabrik gula terdekat lainnya di wilayah Jawa Tengah dan Madiun.

“Penyerapan dilakukan secara bertahap sesuai jadwal giling. Kami juga terus berkoordinasi dengan pihak PG GMM maupun Bulog,” tambahnya.

Sementara itu, pihak APTRI dan petani berharap ada penyesuaian skema jaminan rendemen yang kompetitif dari pemerintah. Langkah ini diharapkan mampu menambal kerugian petani akibat tambahan biaya distribusi tersebut.

​Direktur Operasional PT SGN, Kuntoro Boga Andri, menegaskan bahwa sebagai bagian dari BUMN, pihaknya wajib hadir menjadi bantalan bagi petani di tengah tantangan operasional yang ada.

“Kami terus melakukan koordinasi lintas pabrik gula untuk mengatur kapasitas giling dan distribusi tebu secara bertahap, sehingga pelayanan kepada petani tetap berjalan optimal,” tegas Kuntoro.

Langkah taktis PT SGN ini pun langsung mendapat lampu hijau dan apresiasi tinggi dari pemerintah daerah. Bupati Blora langsung menginstruksikan Kepala Dinas Pertanian (Kadisperta) Blora untuk bergerak cepat melakukan pemetaan.

“Kadisperta diminta memetakan potensi tebu petani per kecamatan hingga kelurahan agar semuanya bisa terakomodir oleh PT SGN,” ungkap Bupati Blora.

Bupati dan Forkopimda mendorong agar proses eksekusi penyerapan di lapangan berjalan secepat mungkin. Pasalnya, jika tebu terlalu lama mendekam di lahan dan telat ditebang, kadar gulanya akan merosot tajam dan memicu kerugian ekonomi yang besar bagi petani.

Upaya penyelamatan tebu di Blora ini menjadi krusial. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, Jawa Tengah merupakan salah satu lumbung tebu nasional, dan Blora memegang potensi tebu rakyat yang sangat besar.

Keberlanjutan musim giling tahun ini menjadi pertaruhan penting demi menjaga stabilitas dan mempercepat target swasembada gula konsumsi tanah air. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.