KabarBaik.co, Surabaya – Kinerja impor Jawa Timur pada awal tahun 2026 menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat nilai impor sepanjang Januari–Februari 2026 mencapai 5,19 miliar dolar AS, atau tumbuh 13,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 4,60 miliar dolar AS.
Pelaksana Tugas Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, menjelaskan bahwa kenaikan tersebut terutama didorong oleh lonjakan impor sektor nonmigas. Nilai impor nonmigas tercatat naik 23,97 persen, dari 3,68 miliar dolar AS menjadi 4,56 miliar dolar AS.
“Peningkatan nilai impor ini dipicu oleh sektor nonmigas yang tumbuh cukup tinggi,” ujarnya, Jumat (3/4).
Sebaliknya, impor sektor migas justru mengalami penurunan cukup dalam. Nilainya turun 31,01 persen, dari 0,92 miliar dolar AS menjadi 0,63 miliar dolar AS. Penurunan ini terjadi pada hampir seluruh komponen, mulai dari minyak mentah yang turun 31,30 persen menjadi 49,61 juta dolar AS, hingga hasil minyak yang merosot 44,19 persen menjadi 369,32 juta dolar AS.
Pada kelompok komoditas nonmigas, sebagian besar komoditas utama mencatatkan peningkatan. Lonjakan tertinggi terjadi pada komoditas perhiasan atau permata (HS 71) yang naik drastis hingga 467,66 persen menjadi 514,87 juta dolar AS, dengan sebagian besar berasal dari Singapura.
Selain itu, impor mesin dan perlengkapan listrik (HS 84) juga meningkat 22,02 persen menjadi 31,01 juta dolar AS, dengan Tiongkok sebagai negara asal utama. Komoditas pupuk (HS 31) turut mencatat kenaikan sebesar 20,55 persen atau 33,74 juta dolar AS, yang mayoritas dipasok dari Rusia.
Namun demikian, tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Impor besi dan baja (HS 72) justru menurun 28,93 persen, dari 317,68 juta dolar AS menjadi 225,78 juta dolar AS, yang sebagian besar masih berasal dari Tiongkok.
Secara keseluruhan, sepuluh golongan barang utama (HS 2 digit) memberikan kontribusi sebesar 61,14 persen terhadap total impor nonmigas Jawa Timur selama dua bulan pertama 2026. Dari sisi pertumbuhan, kelompok komoditas tersebut meningkat 29,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi ini mencerminkan tingginya aktivitas industri dan kebutuhan bahan baku di Jawa Timur, seiring dengan pemulihan dan ekspansi ekonomi pada awal tahun.






