Iran di Ambang Kekacauan: Nasib Republik Islam Pasca Kematian Khamenei dalam Serangan AS-Israel

oleh -116 Dilihat
IMG 20260301 103149

KabarBaik.co, Tehran– Di tengah dentuman bom dan rudal yang masih bergema di langit Persia, Republik Islam Iran menghadapi ujian terberat sejak Revolusi 1979. Kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari telah menciptakan kekosongan kekuasaan yang mengancam stabilitas negara.

Dengan serangan militer yang terus berlanjut, harga minyak dunia melonjak, dan ancaman perang regional membayang, Iran kini berada di persimpangan. Antara kontinuitas rezim teokratis atau gejolak revolusi baru.

Khamenei, yang memimpin selama 37 tahun sebagai “penjaga revolusi,” tewas di kediamannya di Tehran saat sedang menjalankan tugas rutin. Serangan yang dijuluki Epic Fury oleh Presiden AS Donald Trump dan Lion’s Roar oleh Israel tidak hanya menargetkan fasilitas nuklir dan militer, tapi juga kepemimpinan puncak Iran.

Menurut laporan media setempat, putri, cucu, menantu laki-laki, dan menantu perempuan Khamenei juga menjadi korban, yang memperburuk trauma nasional. Trump, melalui Truth Social, menyebut Khamenei sebagai “orang paling jahat dalam sejarah” dan mendesak rakyat Iran untuk bangkit melawan rezim, menyebut ini sebagai “kesempatan emas untuk perdamaian Timur Tengah.”

Pasca kematian Khamenei, Iran mengumumkan 40 hari masa berkabung nasional dan 7 hari libur resmi. Namun, di balik duka, negara ini dilanda kekacauan. Serangan balasan Iran dengan rudal balistik ke Israel dan basis AS di Teluk Persia telah menewaskan ratusan, termasuk korban sipil.

Di Tehran, demonstrasi anti-perang bercampur dengan dukungan IRGC (Pengawal Revolusi Islam), yang kini mengambil alih kendali sementara di beberapa provinsi. Analis memperingatkan potensi “decaptitation strike” ini bisa memicu perpecahan internal, dengan IRGC yang memiliki unit independen siap bertindak tanpa perintah pusat.

Harga minyak global naik 15 persen dalam semalam, mengancam ekonomi dunia, sementara jutaan warga Iran dilaporkan menghadapi pemadaman listrik dan kekurangan pasokan akibat kerusakan infrastruktur.

Ekonomi Iran, yang sudah terpuruk karena sanksi, kini di ambang kolaps. Dengan arsenal rudal yang masih aktif, Iran berjanji “hukuman berat,” tapi tanpa pemimpin tunggal, responsnya terfragmentasi. Beberapa analis dari Council on Foreign Relations memprediksi kemungkinan IRGC mengambil alih sepenuhnya jika proses suksesi gagal, berpotensi mengubah Iran menjadi negara militeristik yang lebih agresif.

Proses Pergantian: Dari Konstitusi ke Realitas Krisis

Menurut Konstitusi Iran Pasal 111, Majelis Ahli Kepemimpinan (Assembly of Experts), yang terdiri atas 88 ulama senior, bertanggung jawab memilih Pemimpin Tertinggi baru. Proses ini harus dimulai segera pasca kematian itu, dengan voting internal tertutup. Namun, dalam situasi krisis ini, sidang mungkin terganggu karena beberapa anggota Majelis dilaporkan juga tewas atau terluka dalam serangan.

Sementara itu, kekuasaan dipegang oleh dewan sementara tiga orang. Yakni, Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Kehakiman Gholam Hossein Mohseni Eje’i, dan seorang ulama dari Dewan Garda. Dewan ini menjalankan tugas harian, termasuk komando militer, tapi tidak memiliki otoritas penuh.

Transisi tersebut mirip dengan tahun 1989 saat Ruhollah Khomeini wafat, di mana Khamenei terpilih dalam hitungan hari meski kurang kredensial agama. Kini, dengan serangan berlanjut, proses bisa memakan waktu lebih lama, memicu spekulasi tentang perebutan kekuasaan.

Calon Pengganti yang Beredar: Antara Kontinuitas dan Perubahan
Sebelum kematiannya, Khamenei dilaporkan menyerahkan daftar tiga calon rahasia ke Majelis Ahli, tapi nama-namanya belum terungkap. Berikut sejumlah calon yang beredar berdasarkan analisis media.

Mojtaba Khamenei (56 tahun, putra Khamenei): Frontrunner garis keras dengan hubungan dekat IRGC. Pendukungnya melihatnya sebagai penerus dinasti, tapi kritikus khawatir ini akan memicu kontroversi anti-nepotisme.

Hassan Khomeini (53 tahun, cucu Ruhollah Khomeini): Mewakili faksi reformis, lebih moderat dan berpotensi membuka dialog dengan Barat. Namanya populer di kalangan pemuda, tapi ditentang hardliner.

Alireza Arafi (67 tahun): Pemimpin sistem seminari nasional, anggota Dewan Garda dan Majelis Ahli. Simbol kontinuitas ulama tradisional.

Mohsen Araki dan Mohsen Qomi: Insider dekat Khamenei, dengan kredensial agama kuat dan pengalaman institusional.

Gholam Hossein Mohseni Eje’i: Kepala kehakiman, dengan latar belakang keamanan nasional, bisa menjadi pilihan stabil di tengah krisis.

Lainnya seperti Sadeq Larijani atau Ali Larijani juga disebut, tapi persaingan faksi bisa memicu konflik internal. Siapa pun yang terpilih, nasib Iran bergantung: apakah tetap garis keras anti-Barat, atau menuju reformasi di tengah tekanan eksternal?

Situasi ini sangat dinamis. Dengan Trump menyatakan serangan akan berlanjut “sepanjang diperlukan,” dunia menahan napas menanti langkah selanjutnya dari Tehran. Apakah ini akhir dari Republik Islam, atau awal babak baru? Hanya waktu yang akan menjawab. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.