ITS Kembangkan Benwit, Bensin dari Kelapa Sawit Sebagai BBM Alternatif di Tengah Krisis Energi

oleh -503 Dilihat
WhatsApp Image 2026 04 07 at 4.20.32 PM
Peneliti dari ITS Dr Eng Hosta Ardhyananta ST MSc memperlihatkan hasil produksi Bensin Sawit (Dok. ITS)

KabarBaik.co, Surabaya– ITS mengembangkan metode pembuatan bahan bakar alternatif berbahan baku kelapa sawit rendah emisi. Isu krisis energi dan tuntutan untuk transisi energi hijau mendorong akademisi ITS untuk melahirkan inovasi alternatif ini.

Inovasi sebagai jawaban dan untuk menunjukkan dukungan terhadap energi terbarukan dan berkelanjutan ini dilakukan oleh dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS Dr Eng Hosta Ardhyananta bersama timnya.

Hosta yang merupakan ahli di bidang polimer, komposit, dan nanomaterial mengatakan fokus penelitian ini berada pada pengurangan residu yang dihasilkan dari proses produksi.

“Fokus dari inovasi kami ini adalah bagaimana mengonversi minyak mentah kelapa sawit yang padat menjadi produk bensin biogasoline yang siap digunakan,” terang Hosta dalam keterangannya, Rabu (8/4).

Dalam prosesnya, tim ITS memanfaatkan metode catalytic cracking, yakni teknik pemecahan molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil menggunakan katalis. Awalnya, proses ini menggunakan katalis berbasis alumina (γ-Al₂O₃) yang berperan sebagai ‘gunting molekuler’ untuk memecah trigliserida dalam Crude Palm Oil (CPO) menjadi fraksi hidrokarbon ringan.

Melalui pendekatan ini, konversi biogasoline dapat mencapai sekitar 60 persen, meskipun masih membutuhkan suhu operasi tinggi hingga 420 derajat Celsius.

Pengembangan lebih lanjut kemudian dilakukan dengan menghadirkan katalis bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO) dengan komposisi seimbang. Kombinasi ini bekerja secara sinergis, di mana NiO berperan dalam memutus rantai karbon, sementara CuO membantu menghilangkan kandungan oksigen.

Hasilnya, proses reaksi menjadi lebih efisien dengan penurunan suhu operasi hingga 380 derajat Celsius serta peningkatan rendemen biogasoline hingga mencapai 83 persen.

Produk bensin nabati yang dihasilkan didominasi oleh hidrokarbon rantai pendek pada rentang C5 hingga C11, yang merupakan komponen utama bensin komersial. Selain itu, sebagian produk samping berupa gas dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor.

Sementara residu cair yang menyerupai minyak dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif lain, sehingga mendukung konsep produksi yang minim limbah.

“Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor,” papar Hosta.

WhatsApp Image 2026 04 07 at 4.26.42 PM
Proses uji coba implementasi bensin sawit (benwit) dengan percobaan blending dengan BBM pada sepeda motor konvensional (Dok. ITS)

Tak hanya unggul secara teknis, Hosta sebagai ketua peneliti menjelaskan bahwa riset ini turut mempertimbangkan life cycle assessment (LCA) dalam prinsip terbarukan dan berkelanjutan. Hasil analisis menunjukkan bahwa proses produksi biogasoline dari CPO memiliki jejak karbon yang sangat rendah, sehingga sejalan dengan prinsip energi bersih dan berkelanjutan.

Sistem produksi yang menerapkan zero emission yang dikembangkan tim peneliti ITS ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Hosta juga menerangkan bahwa rancangan inovasinya tersebut didedikasikan untuk kemandirian teknologi Indonesia. Hingga saat ini, teknologi inovasinya sudah diimplementasikan pada mesin-mesin pertanian yang memiliki fleksibilitas modifikasi yang tinggi.

Menurut Hosta, hal ini dipilih karena mesin pertanian lebih terbuka untuk adaptasi dengan bahan bakar alternatif.

“Melalui biogasoline sawit ini juga, para petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bensin yang berasal dari minyak bumi yang harganya fluktuatif,” ungkap Hosta.

Lahirnya kemandirian teknologi dalam produksi bensin tentu akan menekan nilai jual kepada masyarakat. Diketahui juga bahwa hingga saat ini, produsen minyak dan gas di Indonesia masih bergantung pada alat dan mesin produksi milik pihak dari luar negeri, seperti Amerika Serikat.

Ke depannya, Hosta ingin terus mengembangkan inovasinya sehingga dapat terimplementasi lebih luas lagi dengan kapasitas produksi yang lebih besar. Dengan demikian, diharapkan dapat menjawab ancaman krisis energi di Indonesia. Hal tersebut juga turut menjawab SDGs poin ke-13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Fadlilatul Taufany mengaku akan berkoordinasi dengan pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, agar produk inovasi ini dapat diuji coba sebagai proyek nasional.

“Minimal dengan adanya inovasi ini akan mengurangi beban Indonesia akan ketergantungan ekspor impor,” kata Fadlilatul.

Sementara itu, Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati menyampaikan bahwa inovasi bensin sawit (Benwit) karya tim peneliti ITS tersebut bisa membantu pemerintah Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

“Ini kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah isu krisis bahan bakar akibat konflik di wilayah Timur Tengah saat ini,” kata Bambang. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.