Jauh dari Tanah Air, Merah Putih Tetap Berkibar di Saint Petersburg

oleh -173 Dilihat
Permira1
Dok Foto Permira

KabarBaik.co, Rusia — Tak ada gang kampung yang dihiasi bendera Merah Putih. Tak terdengar riuh lomba 17 Agustus dari halaman halaman rumah atau perkantoran. Namun, ribuan kilometer dari Indonesia, semangat kemerdekaan justru menemukan bentuknya sendiri di sebuah balai budaya di Saint Petersburg.

Di Balai Budaya Suzdalskiy, masyarakat Indonesia dan warga Rusia berkumpul dalam satu perayaan. Tari Indang dari Sumatera Barat membuka acara, lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang, sementara sejumlah permainan rakyat seperti lompat karet hingga makan biskuit di dahi menghadirkan keriuhan yang biasanya begitu lekat dengan suasana Agustusan di tanah air.

Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu digelar oleh Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia (Permira) Saint Petersburg, organisasi yang menjadi wadah mahasiswa Indonesia di Rusia.

Di Saint Petersburg, Permira tidak hanya menjadi ruang berkumpul bagi para pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan jauh dari tanah air, tetapi juga berperan memperkenalkan budaya Indonesia dan membangun hubungan dengan masyarakat setempat.

Untuk kali keempat berturut-turut, Permira Saint Petersburg menyelenggarakan perayaan kemerdekaan di Balai Budaya Suzdalskiy dengan dukungan KBRI Moskow, Komite Hubungan Luar Negeri Pemerintah Kota Saint Petersburg dan Oblast Leningrad.

Mengusung tema “Hari Indonesia”, perayaan tahun ini memadukan kekhidmatan seremoni kemerdekaan dengan semarak festival budaya. Kemerdekaan tidak hanya diperingati sebagai catatan sejarah, tetapi dihadirkan sebagai ruang perjumpaan antara masyarakat Indonesia, Rusia, dan tamu dari berbagai negara.

Bagi mahasiswa Indonesia yang hidup jauh dari negeri sendiri, suasana tersebut menjadi cara untuk menghadirkan kembali sebagian kecil kampung halaman. “Di Saint Petersburg, kita berkumpul dengan rasa yang sama: cinta dan bangga terhadap tanah air,” kata Ketua Umum Permira Saint Petersburg Fikria Shaleha bersama Wakil Ketua Umum Farell Umar Rayhan.

Mereka mengakui, perayaan 17 Agustus di perantauan terasa berbeda. Tidak ada suasana kampung halaman, hiasan Merah Putih di setiap jalan, maupun kemeriahan lomba seperti yang biasa ditemukan di Indonesia. Namun, justru di tengah keterbatasan jarak itulah identitas Indonesia dirawat. “Jarak tidak pernah membuat kita berhenti menjadi Indonesia,” ungkapnya.

Permira2

Dari Upacara ke Arena Permainan

Kekhidmatan mewarnai bagian awal acara. Setelah Tari Indang menyambut para tamu, hadirin kemudian menyanyikan Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Federasi Rusia sebagai simbol persahabatan kedua negara.

Suasana kemudian hening ketika peserta mengheningkan cipta untuk mengenang para pahlawan yang gugur dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sekaligus para korban gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026.

Naskah Proklamasi kemudian dibacakan mahasiswa Pavlov First State Medical University of St. Petersburg, Heinz Muhafizan Guderian.

Nah, setelah seremoni selesai, atmosfer berubah. Arena balai budaya disulap menjadi ruang permainan rakyat Indonesia. Lompat karet menguji kelincahan, baris-berbaris menuntut kekompakan, sementara permainan kursi panas, batewah, dan makan biskuit di dahi memancing gelak tawa.

Permainan yang bagi banyak orang Indonesia merupakan bagian dari kenangan masa kecil tersebut menjadi pengalaman budaya tersendiri bagi masyarakat Rusia dan tamu internasional. Di sinilah perayaan seperti ini menemukan makna lain. Tradisi yang sederhana menjadi medium untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat asing.

Panggung kemudian diisi beragam pertunjukan. Ada stand-up comedy, pembacaan puisi Aku dan Karawang Bekasi karya Chairil Anwar, hingga duet lagu Adu Rayu. Panggung pun tidak hanya menjadi milik orang Indonesia. Kolektif seni Rusia Studio Vokal Folk-Show ‘Yarmarka Junior di bawah asuhan Maria Romanovna Muresh turut mempersembahkan sejumlah lagu Rusia, antara lain Sankt-Peterburg, Za Tikhoy Rekoy, dan Moya Rossiya.

Pertukaran tersebut membuat “Hari Indonesia” tidak berhenti sebagai acara komunitas. Indonesia ditampilkan, tetapi Rusia juga mendapat ruang untuk memperkenalkan budayanya.

Konsul Kehormatan Republik Indonesia untuk Saint Petersburg dan Oblast Leningrad, Valery Radchenko, menyebut tarian, musik, kuliner, dan permainan interaktif sebagai ruang dialog yang dapat mempererat persahabatan kedua negara.

Perayaan tersebut juga berlangsung dalam momentum 76 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia. Dukungan pemerintah setempat dan KBRI Moskow membuat kegiatan itu sekaligus menjadi panggung diplomasi budaya di tingkat masyarakat.

Pemerintah Saint Petersburg dan Oblast Leningrad dalam sambutannya turut menyoroti kerja sama dengan Indonesia di berbagai bidang, mulai dari pendidikan dan kepemudaan hingga industri, pariwisata, investasi, dan lingkungan hidup.
Dengan demikian, kehadiran Permira di Saint Petersburg tidak berhenti pada aktivitas internal mahasiswa. Organisasi tersebut menjadi salah satu ruang tempat identitas Indonesia diperkenalkan dan dipertemukan dengan masyarakat setempat.

Pemira3

Merawat Indonesia dari Perantauan

Bagi diaspora yang telah lama menetap di Saint Petersburg, perayaan tersebut memiliki nilai emosional tersendiri.
Ngambar Rukmi, diaspora Indonesia yang telah belasan tahun tinggal di Saint Petersburg, mengapresiasi kerja panitia dan relawan yang membuat perayaan tersebut berlangsung meriah dan berkesan.

Pernyataan serupa juga disampaikan Riskafiani, mahasiswi Saint Petersburg State University. Menurutnya, kebersamaan dalam perayaan itu membuat jarak dengan tanah air terasa lebih dekat.

Sementara itu, Ketua Panitia Daryn Adriel melihat perayaan tersebut sebagai ruang kekeluargaan bagi mahasiswa dan diaspora Indonesia yang bekerja maupun menetap di Saint Petersburg. “Di mana kita berada, pada akhirnya kita menjadi satu,” ujarnya.

Kalimat itu mungkin menjadi inti dari seluruh perayaan. Sebab, bagi mereka yang tinggal jauh dari Indonesia, menjadi Indonesia bukan semata soal berada di tanah kelahiran. Identitas itu juga dirawat melalui ilmu yang dipelajari, karya yang dibuat, budaya yang diperkenalkan, dan hubungan yang dibangun dengan masyarakat setempat.

Karena itu, ketika flashmob kolosal yang memadukan Wonderland Indonesia dan Gemu Fa Mi Re menutup rangkaian acara, yang bergema di Balai Budaya Suzdalskiy bukan hanya musik. Ada pesan sederhana yang tersisa: Indonesia bisa dibawa ke mana saja. Bahkan hingga ke Saint Petersburg.

Dan, pada perayaan 17 Agustus yang digelar jauh dari kampung halaman tersebut, Permira Saint Petersburg bersama mahasiswa dan diaspora Indonesia menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak selalu dirayakan di tanah air untuk tetap terasa dekat. Dari Saint Petersburg, Merah Putih tetap menyala. melalui budaya, kebersamaan, dan orang-orang Indonesia yang memilih untuk terus bersama membawa Indonesia. Merdeka! (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.