KabarBaik.co – Jawa Timur dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pusat ekonomi syariah nasional. Selain karena lebih dari 90 persen penduduknya beragama Islam, provinsi ini juga memiliki infrastruktur penunjang yang kuat, mulai dari 7.125 pondok pesantren hingga lebih dari 52 ribu masjid yang tersebar di berbagai wilayah.
“Berbagai keunggulan dan potensi ini menjadi peluang bagi perkembangan ekonomi syariah yang lebih signifikan di masa depan, khususnya di Jawa Timur,” ujar M. Solikudin dari Unit Usaha Syariah Bank Jatim saat menjadi pembicara dalam kegiatan Business Coaching bertema Optimalisasi Pembiayaan Syariah dalam Mendukung Pemberdayaan dan Pengembangan Pelaku Usaha Syariah di Masjid Al Akbar Surabaya, Jumat (12/9).
Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Festival Ekonomi Syariah (FESyar) 2025 Regional Jawa yang digelar oleh Bank Indonesia Perwakilan Jatim pada 12–14 September 2025. Hadir pula sebagai pembicara, Senior Business Development Islamic Ecosystem BSI Kanwil Surabaya, Dr. Rahadi Kristiyanto SH, MH, serta Wakil Ketua IV Baznas Jatim, Dr. KH Husnul Khuluq M.Pdi.
Solikudin menjelaskan, kinerja perbankan syariah di Jatim terus menunjukkan tren positif. Sepanjang Januari–Juni 2025, penyaluran pembiayaan perbankan syariah di Bank Jatim mencapai Rp 67,31 triliun. “Alokasi kredit syariah sejak 2019 hingga 2025 tumbuh lebih dari 12 persen secara tahunan,” ujarnya.
Jatim juga semakin meneguhkan diri sebagai pusat ekosistem industri halal nasional. Hal ini terlihat dari fasilitas sertifikasi halal produk, program One Pesantren One Product (OPOP), hingga kehadiran Kawasan Industri Halal yang memperkuat daya saing provinsi ini.
Dukungan serupa juga datang dari PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). Menurut Rahadi Kristiyanto, Jatim memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat ekonomi syariah nasional. BSI, kata dia, terus mendorong literasi dan inklusi keuangan syariah agar semakin banyak masyarakat memahami pentingnya sistem keuangan berbasis syariah.
“Perbankan syariah sudah menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam berbagai rasio keuangan, bahkan melampaui rata-rata industri. Ini menandakan kepercayaan masyarakat terhadap bank syariah semakin meningkat,” ucapnya.
BSI juga melihat potensi besar dalam pengintegrasian ekosistem Islam di Jatim, yang dinilai dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi syariah di masa depan.
Di sisi lain, Wakil Ketua IV Baznas Jatim, KH Husnul Khuluq, menyoroti besarnya potensi penghimpunan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf). Secara nasional, potensinya mencapai Rp 321 triliun per tahun, sementara Jatim diperkirakan menyumbang sekitar 10 persen atau Rp 32 triliun.
“Namun, potensi besar ini belum tergarap optimal. Tahun ini, target penghimpunan Ziswaf nasional Rp 58 triliun. Untuk Jatim, realisasinya baru Rp 358 miliar yang tercatat. Jika dihitung dengan yang tidak tercatat, bisa mencapai Rp 1,9 triliun,” jelasnya.
Dana Ziswaf tersebut sebagian besar digunakan Baznas untuk zakat produktif berupa modal usaha bagi pelaku ultra mikro. Selain itu, dialokasikan untuk program sosial lainnya seperti beasiswa pendidikan, santunan anak yatim, dan bedah rumah.
“Harapannya, zakat produktif ini dapat mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Mustahik bisa naik kelas menjadi muzaki, dan bantuan modal usaha UMKM diharapkan mampu menekan praktik rentenir di pasar-pasar tradisional,” tambah Husnul.
Dengan potensi besar dari sisi keuangan syariah, ekosistem halal, hingga Ziswaf, Jawa Timur dipandang memiliki fondasi kuat untuk tumbuh sebagai pusat ekonomi syariah nasional.






