SAAT tugas memapahku, aku mendapat momen langka yang kelak mengendap menjadi catatan yang tak terlupa. Kunjungan ke reruntuhan tempat Perjanjian Hudaibiah. Ia bukan sekadar nama. Tapi, gema sejarah yang mengguncangkan arah peradaban. Ia seperti oasis makna di tengah gurun sejarah itu, yang luas dan tajam.
Di sinilah, di Hudaibiah, Nabi Muhammad SAW menorehkan diplomasi langit. Menggoreskan tinta kesabaran dan hikmah. Di tanah nan sunyi itu, dulu bergemuruh urusan besar umat manusia. Di sinilah kemuliaan ditampakkan dalam wujud kesabaran, bukan kemenangan senjata.
Sebagai anak kampung yang bertumbuh di antara sawah dan suara jangkrik malam, bagiku gurun pasir ini bukan hanya sekadar bentang lembar peta. Namun, metafora dari batin yang sedang belajar menampung keheningan. Perjalanan menuju barat Kota Makkah itu seperti perjalanan menuju diri sendiri. Setiap debu yang beterbangan adalah kisah masa lalu yang berbisik: “Lihatlah ke dalam, bukan hanya ke luar.”
Baca juga: Panggilan Langit
Di sela-sela perjalanan, sebuah momen kecil justru menjelma menjadi gerbang refleksi yang tak terduga. Pedagang di pinggir jalan menawarkan segelas susu Unta. Putihnya bagai kesucian yang mengalir dari kedalaman sejarah Arab. Ketika kuteguk, terasa seperti bumi yang memberi restu melalui puting-puting keikhlasan hewan gurun itu.
Pedagang itu juga menawarkan air kencing Unta, yang diyakini sebagian orang sebagai obat. Di sinilah aku belajar bahwa dalam dunia yang tampak remeh, bisa tersembunyi nilai dan kepercayaan yang mengakar kuat. Tidak semua yang asing harus dicemooh. Kadang kebijaksanaan datang dalam bentuk yang tak lazim.
Ketika Rasulullah dan para sahabatnya datang ke Hudaibiah dengan niat umrah, mereka membawa niat suci, bukan pedang. Tapi, jalan ke Baitullah saat itu dihadang oleh ketegangan politik dan kebencian Quraisy. Di sinilah, sejarah mencatat, Perjanjian Hudaibiah ditandatangani, sebuah kesepakatan yang di mata sebagian sahabat terlihat merugikan. Namun, di mata langit adalah kemenangan besar.
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (QS. Al-Fath: 1)
Kemenangan, dalam pandangan Allah SWT, bukanlah tentang jumlah musuh yang tumbang, melainkan tentang tegaknya hikmah di atas ego. Rasulullah menerima isi perjanjian yang tampak merendahkan. Bahkan, nama beliau sendiri harus ditulis tanpa gelar kenabiannya. Tapi, bukankah emas tetap emas, meski tak diberi mahkota?
Baca juga: Sepuntung Asap di Tanah Suci
Ketika kulangkahkan kaki di reruntuhan tempat saksi bisu itu, aku seakan mendengar gema suara Umar bin Khattab yang dulu sempat mempertanyakan keputusan Nabi. Tapi tak lama, beliau pun berserah dan melihat hasilnya kemudian. Hudaibiah adalah pelajaran bahwa dalam kesabaran, sering kali bersemayam kemenangan yang sejati.
“Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (mencelakai) kamu dan tangan kamu dari (mencelakai) mereka di tengah kota Mekah setelah Allah mmenangkan kamu atas mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Fath: 24)
Langit seperti sedang membisikkan padaku bahwa ziarah ini bukan tentang bangunan yang telah rapuh, tapi tentang kebijaksanaan yang tetap tegak. Bagi anak kampung sepertiku, gurun ini seperti cermin yang memantulkan wajah batin: penuh debu, tapi juga cahaya.
Susu unta yang kuteguk itu lebih dari sekadar cairan. Ia seperti sari kehidupan yang diajarkan langsung oleh semesta. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya sebagian dari apa yang kalian gunakan sebagai obat adalah dalam susu unta dan air kencingnya.” (HR. Bukhari)
Baca juga: Hajar Aswad dan Nama Ibu
Bukan hanya kandungan biologisnya yang penting, tapi juga pesan bahwa penyembuhan bisa datang dari sumber yang tak kita duga. Sama seperti kemenangan yang datang dari perjanjian yang tampak lemah. Aku belajar bahwa Allah SWT menanamkan rahmat-Nya di tempat-tempat tersembunyi, dan hanya mereka yang bersedia meneguk kehidupan dengan rasa syukur yang akan menemukannya.
Ketika matahari menyentuh horison dan gurun mulai mendingin, aku duduk sejenak. Di hadapanku, pasir seperti membuka kitab rahasia, dan reruntuhan Hudaibiah seperti ayat-ayat batu yang tetap mengajarkan hikmah. Di saat itulah aku sadar. Aku bukan sekadar pelancong dalam sejarah, tetapi peziarah dalam jiwa.
Langit malam menggantung seperti sajadah raksasa. Bintang-bintang adalah huruf-huruf yang tak terucap, tapi bisa dibaca oleh hati yang hening. Aku merenungi perjalanan Nabi yang tak mudah. Tekanan dari luar dan dalam, tapi tetap sabar, tetap lembut. Di saat itulah aku mengerti makna sabar bukan berarti diam, melainkan kemampuan untuk bergerak tanpa kehilangan arah.
Ketika kutinggalkan Hudaibiah, tak ada oleh-oleh yang kubawa kecuali jejak yang tercetak dalam batin. Tapi bukankah itu yang lebih abadi? Reruntuhan itu mengajariku bahwa yang fana bisa menyimpan makna kekal, dan yang tampak lemah bisa menjadi sumber kekuatan.
Baca juga: Gurun, Gelap, dan Malaikat Tambal Ban
Perjalanan ini bukan sekadar lintasan geografis, tapi ziarah menuju kedalaman jiwa. Dan aku, anak desa yang dibesarkan oleh sungai kecil dan langit yang bersahaja, kini membawa kembali sepotong langit Hudaibiah ke dalam hidupku. Sebuah langit yang mengajarkan bahwa sejarah adalah kitab terbuka, dan kita adalah pembacanya yang harus belajar menangkap hikmah di balik sunyi, sabar di balik kecewa, dan rahmat di balik reruntuhan.
Dan pada akhirnya, aku tahu, bukan langkahku yang paling penting, tapi kesadaran bahwa aku sedang melangkah. Dan seperti yang diajarkan oleh Rasulullah, kemenangan sejati bukan milik mereka yang menang cepat, tapi milik mereka yang tetap lurus dalam menapaki jalan panjang. “Dan barang siapa bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura: 43). (*/bersambung)







