Kadin Jatim Buka Akses Kerja Disabilitas Lewat Pelatihan Pelayanan Prima

oleh -105 Dilihat
WhatsApp Image 2026 08 11 at 12.13.59 PM scaled
Pelatihan bagi penyandang disabilitas di Kadin Institute, Surabaya (Irma Hari Trisiawardani)

KabarBaik.co, Surabaya – Pelatihan keterampilan menjadi salah satu pintu untuk membuka kesempatan kerja yang lebih luas bagi penyandang disabilitas. Upaya tersebut dilakukan Kadin Institute bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur serta Plan International melalui pelatihan pelayanan prima yang diarahkan hingga pemagangan dan peluang penyerapan di dunia industri.

Pelatihan yang berlangsung selama empat hari, Senin (3/8) hingga Kamis (6/8), di Kadin Institute, Surabaya, tersebut diikuti sekitar 280 peserta. Sebanyak 20 peserta di antaranya merupakan penyandang disabilitas, khususnya tuna netra.

Program itu tidak hanya berfokus pada pemberian materi, tetapi juga dirancang untuk memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja. Peserta dibekali sejumlah kompetensi, mulai dari digital marketing, pelayanan prima atau service excellence, administrasi retail, administrasi dasar hingga literasi finansial.

Direktur Kadin Institute Nurul Indah Susanti mengatakan pelatihan tersebut menjadi tahap awal sebelum peserta mendapatkan pengalaman melalui program pemagangan.

“Kami memberikan beberapa pelatihan, mulai dari digital marketing, service excellence atau pelayanan prima, administrasi retail, administrasi dasar, hingga literasi finansial. Setelah pelatihan, mereka akan dimagangkan dan harapannya bisa diserap oleh industri sesuai dengan kompetensinya,” kata Nurul di Surabaya, Selasa (11/8).

Menurut Nurul, proses pelatihan juga menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Salah satu kemampuan yang terlihat menonjol dari peserta tuna netra adalah komunikasi dan kemampuan berbicara.

“Alhamdulillah, selama empat hari kita latih, anak-anak bisa menyerap materi dengan baik. Ternyata kalau kita melatih anak yang memiliki kebutuhan khusus, kelebihannya ada di bicaranya. Bagus bicaranya, komunikasinya cukup bagus dan mereka sangat antusias menerima materi,” ujarnya.

Temuan tersebut mendorong Kadin Institute menyiapkan pelatihan lanjutan berupa pendalaman public speaking. Materi tersebut diharapkan semakin memperkuat kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi peserta sebelum mereka terjun ke lingkungan kerja.

“Kita akan berikan lagi pendalaman terkait public speaking dalam waktu dekat. Kita kuatkan lagi dua hari public speaking. Tadi kan pelayanan prima, ternyata mereka punya kelebihan. Itu yang akan kita latih,” kata Nurul.

Selain penguatan kompetensi, Kadin Institute juga membuka akses pemagangan bagi 20 peserta penyandang disabilitas. Salah satu peluang yang tengah dijajaki adalah pemagangan di sejumlah stasiun radio di Surabaya.

Nurul mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan Ketua Persatuan Radio di Surabaya untuk membuka kesempatan tersebut. “Kami sudah menghubungi Pak Ismet selaku Ketua Persatuan Radio di Surabaya dan beliau bersedia menerima 20 anak ini untuk magang di radio. Setelah itu, bagaimana penyerapannya, kami kembalikan kepada industri,” tuturnya.

Menurut dia, pengalaman selama pelatihan memperlihatkan bahwa keterbatasan fisik tidak serta-merta membatasi kemampuan seseorang untuk berkembang. Justru, potensi lain dapat muncul dan menjadi kekuatan apabila diberikan ruang untuk diasah.

“Saya melihat dari hasil hari ini, anak-anak luar biasa. Allah memberikan sesuatu itu ada kekurangan, tetapi di balik kekurangannya ternyata ada kelebihan. Suara dan gaya bicaranya sungguh luar biasa. Mereka sangat antusias ketika diberikan materi pelayanan prima,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto mengatakan program tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan yang setara sesuai kompetensinya.

“Harapannya anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus ini bisa diterima oleh industri dan terserap, bisa bekerja seperti layaknya orang lain. Mendapatkan fasilitas yang sama seperti orang lain dan tentunya sesuai dengan kompetensi yang dimiliki,” kata Adik.

Ia menambahkan penguatan kompetensi peserta juga dapat dilanjutkan melalui sertifikasi. Kadin Institute diketahui bekerja sama dengan LSP Public Relations Nusantara untuk mendukung proses pelatihan dan sertifikasi sesuai kebutuhan peserta.

“Perangkat instrumennya disesuaikan dengan kebutuhan asesi. Kebetulan di Kadin Institute juga bekerja sama dengan LSP Public Relations Nusantara yang memungkinkan untuk melatih dan men-sertifikasi hasil pelatihan Kadin Institute sesuai dengan kebutuhan asesinya,” ujarnya.

Bagi peserta, pelatihan tersebut bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun keberanian dan kesiapan menghadapi dunia kerja.

Hal itu dirasakan Fadlakal Jamal Aswar (29), penyandang disabilitas tuna netra asal Surabaya yang tergabung dalam Komunitas Mata Hati. Jamal mengatakan sebelumnya telah mengikuti sejumlah pelatihan, tetapi materi pelayanan prima memberikan pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan maupun pekerjaan.

“Di pelayanan prima saya mendapatkan lumayan banyak pengetahuan tambahan, baik secara akademis maupun praktik,” kata Jamal.

Menurut dia, pelayanan yang baik sebenarnya berawal dari kemampuan seseorang dalam mengelola dirinya sendiri. Sikap positif tersebut kemudian dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan orang lain.

“Kalau kita ingin melayani dengan baik, maka kita harus baik dulu dengan diri kita. Kita harus bahagia, kita harus selesai dengan diri kita. Kalau kita bahagia, kita juga bisa membuat orang lain bahagia,” ujarnya.

Bagi penyandang tuna netra, kata Jamal, membaca ekspresi wajah dan bahasa tubuh menjadi tantangan tersendiri karena informasi visual tidak dapat diterima secara langsung. Karena itu, materi pelayanan prima memberikan perspektif baru mengenai cara membangun komunikasi dengan pelanggan.

“Body language dan ekspresi itu kami tidak bisa mendapatkan input dari melihat. Itu menjadi pekerjaan rumah bagi kami. Kesulitan kami adalah bagaimana membaca ekspresi dan body language. Senyum adalah fondasi dari pelayanan prima,” tuturnya.

Jamal yang sehari-hari berkegiatan sebagai musisi, pernah bekerja sebagai barista dan kini juga berperan sebagai koordinator website di Komunitas Mata Hati. Ia berharap keterampilan yang diperoleh dari pelatihan dapat memperkuat kemampuan dirinya dan teman-teman penyandang disabilitas untuk berkontribusi lebih luas.

“Harapannya, pelatihan ini bisa menjadikan kapabilitas saya dan teman-teman bertambah agar bisa berkontribusi di masyarakat. Jumlah penyandang disabilitas cukup besar. Sayang kalau hanya menjadi sekumpulan manusia. Kami harus bisa berkontribusi, mulai dari yang paling kecil di rumah, lingkungan, hingga negara,” katanya.

Ia juga mengajak penyandang disabilitas untuk terus mengembangkan kemampuan dan tidak berhenti pada posisi sebagai penerima bantuan.
“Jangan terus meminta untuk dikasihani, tetapi mulailah untuk berkontribusi,” tegasnya.

Semangat serupa dirasakan Lestari Daeng Baba, peserta asal Sidoarjo yang juga merupakan penyandang disabilitas tuna netra. Ia mengaku sempat merasa gugup sebelum mengikuti pelatihan. Namun, setelah mengikuti berbagai materi, rasa gugup tersebut berubah menjadi pengalaman baru yang membuatnya lebih memahami cara menghadapi berbagai karakter orang dalam memberikan pelayanan.

“Awalnya takut karena sedikit gugupan. Tetapi dengan ikut ini ada banyak hal tentang bagaimana melayani orang dengan baik. Selama ini saya hanya tahu dari drama dan sebagainya. Dengan pelatihan ini saya jadi tahu bagaimana seharusnya melayani orang secara prima,” ujarnya.

Dalam kesehariannya, Lestari membantu orang tuanya menjalankan usaha katering sekaligus menjalani kuliah secara daring di Universitas Terbuka. Menurutnya, materi pelayanan prima sangat relevan dengan aktivitas sehari-hari, terutama ketika berhadapan dengan pelanggan yang memiliki karakter berbeda-beda.

“Kalau bekerja di tempat lain dan melayani banyak orang, sangat penting memahami bahwa sifat setiap orang berbeda. Saya sangat terkesan dengan materi itu sehingga bisa memahami bagaimana melayani mereka dengan baik,” katanya.

Salah satu materi yang dianggap paling bermanfaat adalah cara menghadapi pelanggan yang menyampaikan keluhan.
“Misalnya biasanya saya tidak tahu bagaimana ketika ada yang komplain. Dengan pelatihan ini saya jadi tahu,” ujarnya.

Bagi Lestari, pelatihan juga memberikan pengalaman sosial yang membuatnya semakin percaya diri. Bertemu dengan peserta lain dan belajar bersama membuat suasana pelatihan terasa menyenangkan.

“Kesan saya sangat baik dan seru. Bisa belajar dengan teman-teman, jadi merasa lebih bahagia dan nyaman,” tuturnya.

Kadin Institute menyebut program pengembangan kompetensi bagi penyandang disabilitas tersebut tidak berhenti pada pelatihan Agustus. Program serupa direncanakan kembali digelar setelah Oktober dan dilaksanakan secara berkelanjutan sesuai kebutuhan.

Melalui perpaduan pelatihan keterampilan, penguatan public speaking, pemagangan dan sertifikasi, program tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi sekaligus memperoleh akses yang lebih luas ke dunia kerja.

Pada akhirnya, pendidikan keterampilan bukan hanya soal memperoleh sertifikat, tetapi juga tentang menciptakan kesempatan. Ketika kompetensi mendapat ruang untuk berkembang dan dunia industri membuka pintu secara lebih inklusif, penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.