KabarBaik.co, Malang – Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus meluas. Hingga Selasa (4/8) malam, luas area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 50 hektare. Kobaran api bahkan telah merembet ke kawasan Watu Gede dan semakin mendekati wilayah administrasi Kabupaten Malang.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang, Purwoto mengatakan, posisi api kini hanya berjarak sekitar 500 meter dari wilayah administrasi Kabupaten Malang jika diukur melalui jalur darat. Menurutnya, kobaran api yang semula hanya terpantau di Blok Bantengan kini terus bergerak ke arah barat akibat kondisi angin.
“Kobaran api yang semula terpantau di Blok Bantengan kini merembet hingga ke kawasan Watu Gede dan semakin mendekati wilayah administrasi Kabupaten Malang,” ujar Purwoto dalam keterangan resminya, Rabu (5/8).
Meluasnya kebakaran berdampak langsung terhadap aktivitas pariwisata Gunung Bromo. Balai Besar TNBTS memutuskan menutup sementara tiga jalur wisata menuju Gunung Bromo mulai Senin (3/8) pukul 22.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Tiga akses yang ditutup meliputi jalur Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang serta jalur Senduro di Kabupaten Lumajang. Sementara itu, wisatawan masih dapat memasuki kawasan Gunung Bromo melalui pintu masuk Cemoro Lawang di Kabupaten Probolinggo maupun Wonokitri di Kabupaten Pasuruan.
Penutupan jalur tersebut membuat operasional jip wisata dari Tumpang harus menyesuaikan rute perjalanan. Seluruh perjalanan menuju Bromo kini dialihkan melalui wilayah Pasuruan.
Sekretaris Paguyuban Jip Tumpang, Wahyu Prasetyo mengatakan, pihaknya telah menginformasikan perubahan rute beserta jadwal keberangkatan kepada seluruh wisatawan yang telah melakukan pemesanan.
“Sudah kami sampaikan kepada wisatawan yang booking, jadwal keberangkatan lebih awal dan rute melalui Pasuruan,” katanya.
Sementara itu, proses pemadaman masih berlangsung. Tim gabungan melakukan penyemprotan menggunakan mobil pemadam milik Balai Besar TNBTS serta membuat sekat bakar untuk menahan laju api agar tidak semakin meluas.
Namun upaya tersebut masih menghadapi berbagai kendala. Medan yang berupa lereng curam dan tebing menyulitkan petugas menjangkau titik api. Di sisi lain, cuaca cerah berawan disertai embusan angin berkecepatan sedang membuat api terus merambat ke vegetasi di sekitarnya.
Purwoto mengatakan, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah tambahan mobil tangki air untuk memperkuat operasi pemadaman. BPBD Provinsi Jawa Timur telah mengirimkan satu unit mobil tangki air yang direncanakan mengambil pasokan air dari Ranupani.
Penanganan kebakaran melibatkan BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Malang, BPBD Kabupaten Probolinggo, Balai Besar TNBTS, Kodim Probolinggo, Polres Probolinggo, Muspika Poncokusumo, Pemerintah Desa Ngadas, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, serta unsur pendukung lainnya.
Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS, Bambang Suriyono, membenarkan bahwa hingga Selasa malam kobaran api belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Api bahkan terus bergerak menuju kawasan Watu Gede. “Sampai ke Watu Gede, masih belum padam,” ujar Bambang.
Ia menjelaskan, proses pemadaman tetap mengutamakan keselamatan personel mengingat kondisi medan yang cukup berbahaya. Dari sisi peralatan, bantuan armada dan perlengkapan telah diperoleh dari BPBD Kabupaten Probolinggo maupun BPBD Kabupaten Malang.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kabupaten Malang, kebakaran pertama kali terpantau pada Senin (3/8/2026) di kawasan kaldera Bromo, tepatnya di Bukit Jantur atau Blok Bantengan yang berada di wilayah administrasi Kabupaten Probolinggo.
Vegetasi yang terdampak meliputi hutan cemara gunung, mentigen, akasia, hingga semak belukar. Hingga kini, Balai Besar TNBTS masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kebakaran yang terjadi di kawasan tersebut. (*)








