KabarBaik.co – Kasus tragis kematian Bintang Balqis Maulana, santri Ponpes Al Islahiyah Kediri, telah menimbulkan beban psikologis yang berat bagi keluarganya. Sang ibu, Suyanti, seorang ibu tunggal dengan enam anak, merasakan tekanan yang mendalam atas kejadian yang menimpa anak lelakinya.
Dalam upaya membantu keluarga mengatasi trauma yang mereka alami, Polresta Banyuwangi telah mengirimkan tim konselor untuk memberikan dukungan trauma healing.
Tim tersebut, yang dipimpin oleh Bhabinkamtibmas Desa Karangharjo Bripka Widodo, Briptu Rossy Oktavia, dan Ipda Oky Prasetyo, secara intensif mendengarkan keluh kesah keluarga korban.
“Kami mendengarkan keluhan keluarga dan membantu mereka terhubung dengan sumber daya dan pihak terkait yang diperlukan dalam menghadapi permasalahan ini, sebagai bentuk empati dan dukungan psikologis,” kata Rossy.
Dukungan ini akan terus diberikan selama proses hukum berlangsung, seiring dengan kebutuhan pendampingan yang mungkin dibutuhkan oleh keluarga.
Sementara itu, Suyanti mengaku merasa lega dengan kehadiran pihak kepolisian di rumah mereka. Dia berharap agar proses hukum terhadap anaknya dapat berjalan dengan lancar dan keadilan dapat ditegakkan.
“Lega, dan terima kasih atas perhatiannya kepada kami. Semoga proses hukum berjalan dengan baik dan adil,” ungkap Suyanti.
Meskipun berkomitmen untuk mengikuti prosedur hukum yang berlaku, keluarga juga menegaskan bahwa mereka menginginkan transparansi dan keadilan dalam penyelesaian kasus ini.
Yanti juga menyoroti bahwa pihak pondok pesantren telah mengucapkan belasungkawa secara langsung kepada keluarga, namun masih ada aspek kelalaian dari pihak pesantren yang perlu diungkap.
“Pesantren, bersama Gus Muh, telah memberikan belasungkawa dan sumbangan duka cita, namun hal ini tidak mengurangi tuntutan pertanggungjawaban dari pihak pesantren,” tegas Yanti.
Keluarga ini berharap bahwa melalui proses hukum yang transparan dan adil, kebenaran akan terungkap dan keadilan akan ditegakkan bagi anak mereka yang telah menjadi korban.(Ikhwan)