KabarBaik.co, Surabaya – Kenaikan harga avtur sejak awal April mulai memberi tekanan pada sektor pariwisata nasional. Lonjakan biaya bahan bakar penerbangan tersebut memaksa maskapai melakukan penyesuaian tarif, yang berujung pada naiknya harga tiket pesawat. Kondisi ini dinilai berpotensi menahan laju pergerakan wisatawan, terutama menuju destinasi yang sangat bergantung pada transportasi udara.
Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra, Agoes Tinus Lis Indrianto, mengatakan bahwa avtur merupakan salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya operasional maskapai, dengan porsi mencapai 30 hingga 40 persen. Kenaikan harga avtur secara langsung berdampak pada kebijakan maskapai dalam menjaga keberlanjutan operasional.
“Maskapai pada akhirnya harus melakukan penyesuaian, yang paling cepat adalah menaikkan harga tiket. Selain itu, ada juga pengurangan frekuensi penerbangan serta efisiensi operasional,” ujarnya, Selasa (14/4).
Menurutnya, dampak kenaikan tiket pesawat akan sangat terasa pada destinasi wisata unggulan yang bergantung pada akses udara, seperti Bali dan Labuan Bajo. Wisatawan cenderung menunda atau mempertimbangkan ulang perjalanan, terutama untuk tujuan non-prioritas.
Penurunan jumlah kunjungan wisatawan tersebut berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian daerah tujuan wisata. Sektor perhotelan, agen perjalanan, hingga pelaku usaha kuliner dan UMKM lokal menjadi pihak yang paling terdampak.
“Pariwisata memiliki multiplier effect yang besar. Ketika jumlah wisatawan turun, dampaknya tidak hanya pada hotel dan travel agent, tetapi juga masyarakat lokal yang menggantungkan hidup dari aktivitas pariwisata,” jelasnya.
Meski demikian, Agoes menilai perjalanan yang bersifat wajib, seperti perjalanan dinas dan bisnis, relatif tidak akan terpengaruh oleh kenaikan harga tiket. Sebaliknya, perjalanan wisata pribadi berpotensi mengalami penurunan karena faktor biaya.
Di tengah kondisi tersebut, ia melihat peluang bagi pengembangan pariwisata domestik berbasis jalur darat. Wilayah seperti Jawa Timur dinilai memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan melalui konsep perjalanan darat atau road trip.
Sejumlah destinasi di jalur lintas selatan, seperti Tulungagung dan Pacitan, disebut memiliki daya tarik yang tidak kalah dengan destinasi populer lainnya. Momentum ini dinilai tepat untuk memperkuat promosi wisata daerah, didukung pengembangan infrastruktur dan sinergi antarwilayah.
“Ini saat yang tepat bagi daerah, khususnya Jawa Timur, untuk lebih aktif mempromosikan destinasi wisata. Namun harus dibarengi dengan kesiapan infrastruktur dan kolaborasi antar daerah,” ujarnya.
Untuk menjaga keberlanjutan sektor pariwisata, Agoes menekankan pentingnya peran pemerintah melalui kebijakan dan insentif. Ia juga menyoroti perlunya keterlibatan BUMN, khususnya maskapai, sebagai penyeimbang di tengah tekanan biaya, bukan semata berorientasi pada keuntungan.
“Jika tidak ada intervensi, dampaknya akan semakin terasa. Pemerintah memiliki ruang melalui kebijakan tarif dan pajak. BUMN juga diharapkan bisa menjadi penyeimbang dalam menjaga stabilitas industri,” pungkasnya.






