KabarBaik.co, Gresik – Hubungan antara kepemimpinan dan demensia di usia senja adalah topik yang penting, terutama karena semakin banyak tokoh masyarakat, pemimpin organisasi, dan pejabat publik yang tetap aktif pada usia lanjut.
Data nasional Indonesia menunjukkan bahwa demensia meningkat tajam seiring bertambahnya usia. Meskipun dapat terjadi pada usia lebih muda (young-onset dementia), sebagian besar kasus ditemukan pada kelompok lanjut usia.
Perkiraan sebaran berdasarkan kelompok umur adalah:

Gambaran Demografi di Indonesia
– Sekitar 90–95% kasus demensia terjadi pada usia ≥65 tahun
– Usia rata-rata saat diagnosis umumnya berada pada kisaran 70–80 tahun, meskipun sering kali diagnosis terlambat
– Demensia onset muda (<65 tahun) hanya sekitar 5–10% dari seluruh kasus
– Karena perempuan memiliki harapan hidup lebih panjang, jumlah penyandang demensia perempuan cenderung lebih banyak dibanding laki-laki.
Tren di Indonesia
Indonesia sedang mengalami penuaan penduduk (aging population), sehingga jumlah penyandang demensia diperkirakan terus meningkat:
– Sekitar 1,2 juta orang hidup dengan demensia pada awal dekade 2020-an.
– Diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 2 juta pada sekitar tahun 2030.
– Dapat mencapai lebih dari 4 juta pada sekitar tahun 2050 jika tren penuaan penduduk berlanjut.
Beberapa poin yang dapat dipahami diantaranya:
1. Usia bukan penentu utama kemampuan memimpin
Banyak pemimpin tetap memiliki kebijaksanaan, pengalaman, dan ketajaman mengambil keputusan pada usia lanjut. Namun, seiring bertambahnya usia, risiko demensia memang meningkat sehingga kesehatan kognitif perlu dipantau secara berkala.
2. Demensia dapat memengaruhi kualitas kepemimpinan
Gangguan ini dapat menyebabkan:
– Penurunan daya ingat.
– Kesulitan mengambil keputusan yang kompleks.
– Berkurangnya kemampuan merencanakan strategi.
– Perubahan kepribadian dan penilaian (judgment).
Bila sudah cukup berat, kondisi ini dapat mengganggu kemampuan menjalankan amanah kepemimpinan.
3. Deteksi dini sangat penting
Tanda-tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
– Sering lupa informasi penting yang berulang.
– Sulit mengikuti rapat atau diskusi yang kompleks.
– Kesulitan mengelola administrasi atau keuangan.
– Perubahan perilaku yang tidak seperti biasanya.
Penilaian oleh dokter, khususnya dokter yang menangani gangguan saraf atau memori, dapat membantu membedakan penuaan normal dari demensia.
4. Kepemimpinan yang sehat membutuhkan sistem, bukan hanya individu
Organisasi yang baik memiliki mekanisme evaluasi, pembagian tugas, dan kaderisasi sehingga keberlangsungan kepemimpinan tidak bergantung pada satu orang saja.
Perspektif moral
Dalam Islam, amanah kepemimpinan menuntut kemampuan untuk menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Ketika kondisi kesehatan, termasuk fungsi kognitif, sudah tidak memungkinkan seseorang menjalankan amanah secara optimal, evaluasi dan regenerasi merupakan bagian dari menjaga kemaslahatan bersama.
Pendekatan terhadap isu ini sebaiknya tetap mengedepankan penghormatan kepada para pemimpin senior. Diagnosis demensia tidak boleh didasarkan pada dugaan atau kesan semata, melainkan harus melalui penilaian medis yang menyeluruh.
Penilaian demensia dilakukan secara bertahap. Tidak cukup hanya dengan satu tes, tetapi menggabungkan wawancara, pemeriksaan klinis, tes kognitif, dan bila perlu pemeriksaan penunjang.
Beberapa contoh yang dapat menjadi rujukan terkait demensi dan kepemimpinan:
1. Pemerintahan dan jabatan publik
Di banyak negara demokrasi, mekanisme yang digunakan bukanlah pemeriksaan diagnosis demensia secara rutin, melainkan:
– Pembagian kewenangan kepada wakil atau kabinet;
– Pengambilan keputusan secara kolektif;
– Mekanisme evaluasi kemampuan menjalankan jabatan bila muncul keraguan yang serius;
– Prosedur pengunduran diri atau penggantian sesuai konstitusi atau aturan organisasi.
Prinsipnya adalah kapasitas menjalankan fungsi jabatan, bukan usia atau diagnosis.
2. Dunia korporasi
Banyak perusahaan besar memiliki succession planning yang terdokumentasi. Bila CEO mengalami penyakit progresif, dewan direksi biasanya:
– memperkuat peran COO atau wakil CEO;
– membentuk komite transisi;
– membatasi keputusan yang memerlukan persetujuan tunggal;
– mempercepat proses regenerasi kepemimpinan.
Langkah-langkah ini bertujuan menjaga kesinambungan organisasi dan mengurangi risiko tata kelola.
3. Organisasi pelayanan demensia
Kajian sistematis mengenai kepemimpinan di fasilitas pelayanan demensia menunjukkan bahwa organisasi yang berhasil umumnya menerapkan:
– Kepemimpinan kolektif;
– Pengambilan keputusan bersama;
– Umpan balik rutin;
– Budaya organisasi yang kuat;
– Pelibatan banyak pihak dalam perubahan organisasi. Pendekatan ini membuat organisasi tidak bergantung pada satu individu saja.
4. Regulasi kapasitas mental di Inggris
Di Inggris, penerapan undang-undang mengenai kapasitas mental menekankan bahwa:
– Kapasitas harus dinilai berdasarkan keputusan tertentu(decision-specific)
– Seseorang tidak dianggap tidak mampu hanya karena memiliki diagnosis demensia
– Keputusan diambil dengan prinsip kepentingan terbaik (best interests)apabila kapasitas memang telah hilang
Pelajaran yang dapat diterapkan pada organisasi kemasyarakatan atau keagamaan
Apabila seorang pemimpin masih menjabat tetapi mulai mengalami penurunan kognitif, organisasi dapat menerapkan pendekatan bertahap:
1. Asesmen, bukan asumsi
2. Musyawarah kolektif untuk keputusan strategis
3. Delegasi bertahapkepada wakil atau tim harian
4. Pembatasan keputusan berisiko tinggisampai ada penilaian yang memadai
5. Suksesi yang dipercepat namun bermartabat, sesuai AD/ART organisasi
6. Menghormati jasa pemimpin, sambil mengutamakan keberlangsungan amanah organisasi
Kriteria diagnosis demensia
Diagnosis ditegakkan bila terdapat:
– Penurunan fungsi kognitif pada satu atau lebih domain (memori, bahasa, perhatian, fungsi eksekutif, visuospasial, atau kognisi sosial).
– Gangguan tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari dan kemandirian.
– Tidak dijelaskan oleh delirium atau gangguan psikiatri lain.
Tingkatan keparahan demensia umumnya dinilai berdasarkan derajat gangguan fungsi kognitif dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari. Salah satu pembagian yang paling praktis adalah menjadi tiga tingkat:
1. Demensia Ringan (Mild Dementia)
– Lupa terhadap kejadian yang baru terjadi
– Sulit menemukan kata yang tepat saat berbicara
– Kesulitan mengelola keuangan atau pekerjaan yang kompleks
– Masih mandiri dalam aktivitas dasar (makan, mandi, berpakaian), tetapi mulai memerlukan bantuan pada aktivitas yang – lebih rumit (belanja, memasak, mengatur obat)
2. Demensia Sedang (Moderate Dementia)
– Gangguan memori semakin jelas, termasuk lupa anggota keluarga atau tempat yang dikenal.
– Disorientasi waktu dan tempat.
– Kesulitan berkomunikasi.
– Perubahan perilaku seperti mudah marah, gelisah, atau berkeliaran (wandering).
– Membutuhkan bantuan dalam aktivitas sehari-hari seperti berpakaian, mandi, dan menggunakan toilet.
3. Demensia Berat (Severe Dementia)
– Kehilangan kemampuan mengenali orang terdekat.
– Kemampuan berbicara sangat terbatas atau tidak dapat berkomunikasi.
– Tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan penuh.
– Gangguan berjalan, menelan, hingga akhirnya tirah baring.
– Sangat rentan mengalami infeksi, malnutrisi, dan komplikasi lainnya.
Perlu diingat bahwa skor MMSE atau MoCA tidak secara langsung menentukan tingkat keparahan demensia. Kedua tes tersebut menilai fungsi kognitif, sedangkan penentuan keparahan demensia harus mempertimbangkan kemampuan fungsional pasien, perubahan perilaku, dan tingkat kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.
Dalam praktik klinis, kombinasi MMSE atau MoCA + CDR + penilaian aktivitas sehari-hari (ADL/IADL) memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai tingkat keparahan demensia.
Yang penting, diagnosis demensia saja tidak otomatis berarti seseorang tidak layak memimpin. Penilaian harus didasarkan pada kemampuan fungsional yang nyata, bukan sekadar label diagnosis atau hasil satu tes kognitif. Dalam praktik, bila terdapat keraguan mengenai kapasitas seorang pemimpin, evaluasi menyeluruh oleh dokter sering kali melibatkan pemeriksaan neuropsikologis, penilaian fungsi sehari-hari, dan masukan dari keluarga atau rekan kerja—lebih tepat daripada menarik kesimpulan hanya dari dugaan atau usia.
Jadi, bila pertanyaannya adalah mulai pada tingkat mana terdapat risiko menurunkan kompetensi dan kinerja seorang pemimpin, jawabannya adalah demensia ringan sudah dapat menimbulkan risiko, terutama pada jabatan yang membutuhkan fungsi eksekutif dan pengambilan keputusan yang kompleks. Pada demensia sedang, gangguan tersebut umumnya sudah cukup berat sehingga kemampuan menjalankan amanah kepemimpinan akan terdampak secara signifikan.
Apabila seorang pemimpin yang masih aktif diduga atau telah didiagnosis mengalami demensia, tujuan utamanya adalah menjaga keselamatan, kualitas pengambilan keputusan, serta keberlangsungan organisasi, sambil menghormati martabat orang tersebut. Pendekatan yang bijaksana adalah melakukan transisi secara bertahap dan terencana, bukan mendadak jika situasi masih memungkinkan.
Beberapa langkah taktis yang dapat dipertimbangkan adalah:
1. Lakukan evaluasi medis dan kapasitas secara berkala
2. Batasi keputusan yang berisiko tinggi
3. Delegasikan tugas operasional
4. Terapkan sistem checks and balances
5. Rencanakan suksesi sejak dini
6. Optimalkan kondisi kesehatan
7. Komunikasi yang bijaksana
Dalam konteks organisasi kemasyarakatan atau keagamaan, termasuk tradisi Nahdlatul Ulama, prinsip musyawarah, amanah, dan kemaslahatan dapat menjadi landasan. Jika kemampuan seorang pemimpin mulai menurun sehingga berpotensi mengganggu pelaksanaan amanah, memperkuat peran wakil, memperluas musyawarah, dan menyiapkan regenerasi merupakan langkah yang selaras dengan menjaga kepentingan bersama, tanpa mengurangi penghormatan atas jasa dan pengabdiannya.
Perlu diingat bahwa tidak semua penurunan daya ingat berarti demensia, dan tidak semua orang dengan demensia kehilangan kapasitas mengambil semua keputusan. Karena itu, setiap langkah sebaiknya didasarkan pada penilaian individual yang objektif, bukan asumsi berdasarkan usia atau dugaan semata.
Bagi praktisi klinis dan organisasi, terdapat kaidah epidemiologi yang sering digunakan:
Prevalensi demensia hampir berlipat ganda setiap 5 tahun setelah usia 65 tahun.
Artinya, seseorang berusia 85 tahun memiliki risiko demensia yang jauh lebih tinggi dibandingkan seseorang berusia 65 tahun, sehingga skrining terhadap keluhan kognitif pada lansia menjadi semakin penting.
Meskipun hampir tidak ada negara atau organisasi yang memiliki protokol khusus berjudul “pemimpin dengan demensia”, banyak negara dan institusi telah menerapkan prinsip-prinsip tata kelola (governance) untuk menghadapi situasi ketika kapasitas kognitif seorang pemimpin mulai menurun. Pendekatan yang digunakan lebih menekankan penilaian kapasitas (capacity), tata kelola organisasi, dan suksesi, bukan diagnosis penyakit semata.
Dalam perspektif tata kelola modern, ini dikenal sebagai risk-based governance: organisasi tidak menunggu sampai terjadi kegagalan kepemimpinan, tetapi membangun mekanisme yang memastikan organisasi tetap berjalan baik meskipun kapasitas individu pemimpin berubah. Prinsip ini sejalan dengan praktik tata kelola yang baik di sektor publik maupun swasta.
“Hormat kepada para sesepuh, peduli pada kesehatan otak, dan bijaksana dalam regenerasi kepemimpinan.”
Wallahul muwaffiq ila aqwamith-thariq…
*) Heri Munajib, Neurologist PP Perhimpunan Pusat Dokter Nahdlatul Ulama






