Ketika Bay Area Menjadi Rumah Kedua Indonesia

oleh -180 Dilihat
SAN FRANCISCO1
Sajian Gamelan Sekar Jaya di Ashkenaz Music and Dance Community Center, Berkeley. (Dok KJRI SF)

KabarBaik.co- Di penghujung 2025, ketika angin dingin Teluk San Francisco mulai menurunkan suhunya, kehangatan justru datang dari pergerakan diaspora Indonesia di Bay Area. Di berbagai sudut kota—dari Millbrae hingga Berkeley, dari Silicon Valley hingga Fremont, beragam komunitas Indonesia merangkai penutup tahun dengan solidaritas, budaya, olahraga, hingga perayaan spiritual. Semua bergerak dalam satu benang merah, kebersamaan.

Konsul Jenderal RI San Francisco Yohpy Wardhana menyebut, dinamika diaspora di Bay Area sebagai energi yang tidak pernah padam. “Di mana pun mereka berada, diaspora Indonesia selalu punya cara untuk saling menguatkan. Ini kekuatan kita,” ujar Yohpy pada salah satu kegiatan komunitas, awal Desember 2025 lalu, seperti dikirimkan ke redaksi KabarBaik.co.

Solidaritas di Awal Desember

Desember dibuka dengan aksi kemanusiaan dari Alzheimer Indonesia (ALZI) San Francisco, yang ikut menggalang donasi lintas negara untuk korban banjir dan longsor di Batu Hula dan Sinyar-nyar, Sipirok. Melalui kolaborasi dengan ALZI Netherlands, ALZI Indonesia, dan ALZI Medan, terkumpul Rp 23.283.000 yang disalurkan langsung kepada warga terdampak.

Koordinator ALZI SF Angelica Susanto mengatakan, keterhubungan diaspora bukan soal jarak, tetapi empati. “Banyak dari kami sudah lama tidak pulang, tapi hati kami tetap ada di tanah air. Begitu ada kabar bencana, respon teman-teman cepat sekali,” ungkap Angelica Susanto.

Menurut dr Etiya Ekayana dari ALZI Medan, bantuan tersebut menjadi suplai penting untuk penanganan darurat. “Obat-obatan, ATS, dan kebutuhan lansia serta anak-anak sangat membantu kondisi di lapangan,” kata Etiya.

Memperkuat Jejaring Profesional di Silicon Valley

Di tengah hiruk-pikuk industri teknologi global, Indonesian Professional Association (IPA) Bay Area kembali merajut jejaring profesional melalui company visit ke Google Campus. Puluhan profesional Indonesia hadir, saling berbagi pengalaman, dan membangun relasi baru di pusat inovasi dunia.

Ketua IPA Bay Area Dion Pratama menilai, kegiatan ini bukan hanya ajang belajar teknologi terbaru. “Kami ingin memastikan diaspora Indonesia punya tempat bertumbuh. Networking seperti ini penting agar profesional Indonesia makin terlihat dan punya kontribusi besar di ekosistem Silicon Valley,” jelas Dion.

SAN FRANCISCO

Panggung Budaya: Dari Gamelan hingga Sinema Diaspora

Tak hanya profesional, kreativitas diaspora juga bergema di panggung budaya. Gamelan Sekar Jaya kembali tampil dalam Ashkenaz December Show di Berkeley, menghadirkan energi Bali lewat tabuhan Gong Kebyar dan Jegog. Penonton—baik diaspora maupun warga lokal—larut dalam suasana yang memadukan tradisi Indonesia dengan atmosfer seni Bay Area yang progresif.

Sementara di ranah sinema, film pendek “Daly City” karya sutradara diaspora asal Surabaya, Nick Hartanto, mulai mencuri perhatian setelah masuk tahap Oscar Shortlist Voting. Daly City mengangkat kisah seorang anak Indonesia dan ibunya yang membawa Chinese takeout ke potluck gereja sambil mengakuinya sebagai masakan keluarga, sebuah narasi yang menyentuh tema identitas, rasa malu, dan pencarian belonging, isu yang sangat dekat bagi banyak diaspora.

Dukungan dari berbagai komunitas Indonesia di Bay Area, termasuk Friends of Indonesia dan Indonesia Lighthouse, memperlihatkan bagaimana diaspora bergerak bersama, saling menopang, dan tampil melalui berbagai medium budaya.

Olahraga dan Harmoni Musik di Fremont

Momentum kebersamaan mencapai puncaknya dalam perayaan 5 tahun Gowes San Francisco dan 1 tahun Angklung Cakrawala di Fremont. Ratusan diaspora berkumpul dalam acara yang memadukan olahraga dan seni musik.

Sejak berdiri pada 2020, komunitas Gowes Indo SF telah melakukan sekitar 250 kali gowes rutin dan menempuh lebih dari 6.000–8.000 km. Ketua Gowes Indo SF Arie Quick, menyebut gowes sebagai ruang pertemuan lintas usia dan profesi. “Setiap Sabtu kami berkumpul, bukan hanya untuk bersepeda, tapi juga untuk menyambung persaudaraan. Itu yang membuat komunitas ini hidup,” tutur Arie.

Ketua Angklung Cakrawala, Thomas Liong, menggambarkan musik angklung sebagai simbol kebersamaan. “Angklung itu harmoni dari perbedaan. Nada-nada yang tidak sama, kalau dimainkan bersama, bisa menghasilkan keindahan. Itu cerminan diaspora kita,” terang Thomas Liong.

Dalam sambutannya, Konjen Yohpy Wardhana mengutip Nelson Mandela. “Sport has the power to unite people in a way that little else does.”

Kutipan itu terasa pas, mengingat acara juga dihadiri berbagai organisasi diaspora: Angklung Cendrawasih, Saung Angklung SF, Indonesia Lighthouse, ALZI SF, PSI, IMC SFBA, dan lainnya.

Perayaan Natal: Ruang Damai Masyarakat Diaspora

 Menjelang akhir bulan, kehangatan Natal bersama menutup rangkaian kegiatan komunitas. Bertema “Damai Sejahtera dari Tuhan”, perayaan yang digelar KJRI San Francisco bersama Forum Kerja Sama Gereja Indonesia (FKGI) Bay Area itu menghadirkan ratusan diaspora dan jemaat lokal di West Bay Community Center.

Pendeta Michael Santoso dari FKGI menyebut perayaan ini sebagai ruang refleksi bagi diaspora yang hidup jauh dari kampung halaman. “Di sini kami merayakan iman, tetapi juga merayakan persaudaraan. Banyak yang datang tidak saling kenal, tapi pulang dengan perasaan menjadi bagian dari satu keluarga besar,” ujar sang pendeta.

Bay Area, Rumah Kedua Diaspora Indonesia

Rangkaian kegiatan sepanjang Desember menunjukkan satu hal: Bay Area bukan sekadar tempat tinggal para perantau Indonesia. Ia telah menjadi ekosistem diaspora yang lengkap—dengan jejaring sosial, budaya, profesional, hingga keagamaan yang saling terhubung.

Konsul Pensosbud KJRI San Francisco, Mahmudin Nur Al-Gozaly, menilai pergerakan diaspora tahun ini menciptakan dasar bagi kolaborasi yang lebih besar.

“Kami melihat komunitas bergerak makin solid. KJRI tidak hanya mendukung, tetapi berjalan bersama mereka untuk membentuk ekosistem diaspora yang inklusif dan kreatif,” tegas Mahmudin.

Di akhir tahun, ketika lampu-lampu pergantian tahun dinyalakan di sepanjang Bay Area, diaspora Indonesia berdiri dengan kisah dan pencapaian yang makin kaya. Dari solidaritas kemanusiaan, jejaring profesional, seni, olahraga, hingga perayaan iman, semuanya memperlihatkan satu wajah: Indonesia yang hadir, berdaya, dan tetap saling merawat—meski berada ribuan kilometer dari tanah air. (Ari Sufiati/ Indonesia Light House)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.