KabarBaik.co – Ketua Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI PC PMII) Bojonegoro, Salisus Agustin Zainur Rohmah, menyoroti penanganan stunting di Kabupaten Bojonegoro. Ia menilai meski prevalensi stunting menunjukkan tren menurun, persoalan di lapangan masih jauh dari tuntas.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, angka stunting di Bojonegoro tercatat 12 persen. Angka ini menurun dari 14,1 persen pada 2023 dan jauh lebih rendah dibanding beberapa tahun sebelumnya yang sempat menyentuh 24 persen.
Hingga Mei 2025, Dinas Kesehatan mencatat 1.357 balita stunting dengan prevalensi sekitar 2,0 persen dari total balita yang terpantau. Pemerintah daerah menargetkan angka stunting turun hingga 9 persen pada 2025.
Namun, menurut Salisus, capaian tersebut tidak boleh membuat pemerintah berpuas diri. “Stunting bukan sekadar angka yang bisa dipamerkan dalam laporan. Pertanyaannya, apakah anak-anak di pelosok desa benar-benar sudah mendapat gizi cukup? Apakah posyandu di tingkat dusun berjalan efektif? Itulah yang harus dijawab pemerintah,” tegasnya, Jumat (19/9).
Salisus juga mengkritik penanganan stunting yang kerap hanya ramai dalam program seremonial, tetapi minim evaluasi terhadap akar masalah. “Kalau kita jujur, masih banyak ibu hamil yang kesulitan akses makanan bergizi. Masih ada keluarga yang belum paham pola asuh dan gizi seimbang. Selama masalah dasar ini tidak disentuh serius, angka stunting hanya akan jadi bahan klaim, bukan perubahan nyata,” ujarnya.
Salisus menekankan pentingnya transparansi data serta keberanian pemerintah membuka persoalan lapangan secara apa adanya. “Kita butuh keberanian pemerintah untuk tidak sekadar mengejar target 9 persen, tetapi memastikan setiap balita benar-benar lepas dari ancaman stunting. Jangan sampai ada gap antara laporan di atas kertas dengan realita di desa,” pungkasnya. (*)






