KTA Jombang Siapkan Pentas Teater Hajatan, Sentil Pergeseran Nilai Sosial dan Budaya Modernisasi

oleh -127 Dilihat
Komunitas TomboAti Jombang saat mempersiapkan pertunjukan teater 'Hajatan' yang mengangkat pergeseran nilai sosial masyarakat di tengah modernisasi. (istimewa)
Komunitas TomboAti Jombang saat mempersiapkan pertunjukan teater 'Hajatan' yang mengangkat pergeseran nilai sosial masyarakat di tengah modernisasi. (istimewa)

KabarBaik.co, Jombang – Komunitas TomboAti (KTA) Jombang tengah menyiapkan pertunjukan teater ke-47 bertajuk ‘Hajatan’. Lewat pentas ini, KTA mengajak penonton melihat perubahan nilai sosial masyarakat Jawa di tengah derasnya modernisasi.

‘Hajatan’ akan dipentaskan dalam program Talenta Dinas Kebudayaan Jawa Timur di gedung Cak Durasim, Surabaya pada 12 September 2026. Selanjutnya, pertunjukan digelar di Gedung Kesenian Jombang pada 26-27 September 2026.

Salah satu crew KTA, Alfi Rizqoh, mengatakan ide cerita berangkat dari keresahan melihat masyarakat yang semakin individualistis.

Padahal, masyarakat Jawa dikenal dengan budaya guyub, rukun dan gotong royong. Nilai itu salah satunya terlihat saat warga bersama-sama membantu tetangga yang menggelar hajatan.

“Dulu masyarakat Jawa terkenal guyub rukun ketika ada sebuah hajatan, saling bergotong royong. Sekarang karena adanya modernisasi, jadinya mereka hanya individu-individu,” kata Alfi, Selasa (11/8).

Fenomena itu kemudian divisualisasikan di atas panggung. Warga yang awalnya berkumpul dan bergotong royong perlahan sibuk dengan telepon genggam masing-masing.

Mereka berada di tempat yang sama, tetapi tidak benar-benar saling berinteraksi.

“Awalnya guyub ketika tidak ada HP, entah itu ngobrol, ngopi, dan lain-lain. Sekarang meskipun mereka nongkrong bersama, tapi mereka sibuk dengan HP-nya masing-masing. Dekat tapi jauh istilahnya,” ujarnya.

Selain penggunaan HP, ‘Hajatan’ juga menyentil masuknya budaya populer hingga gaya hidup modern. KTA menilai perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi pola interaksi, tetapi juga nilai moral dan solidaritas masyarakat.

Hajatan yang dahulu identik dengan rasa syukur dan kebersamaan, dalam cerita tersebut digambarkan dapat berubah menjadi ajang gengsi. Salah satunya melalui fenomena sound horeg hingga munculnya hajatan tandingan demi menunjukkan acara yang lebih meriah.

Sutradara ‘Hajatan’, Muhammad Qowy, mengatakan pergeseran juga terlihat dalam tradisi rewang. Jika dahulu warga membantu dengan sukarela, kini bantuan terkadang dikaitkan dengan imbalan atau buwuhan.

“Kalau dulu penuh dengan rasa guyub, gotong royong, saling membantu tanpa pamrih. Tapi hajatan di masa kini, rata-rata orang itu sudah beralih moral. Mereka kalau membantu berharap ada imbalan,” kata Qowy.

Menurutnya, persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi gengsi.

“Di masa kini itu hajatan sudah bukan menjadi ajang rasa syukur, tapi ajang rasa gengsi,” ujarnya.

Naskah ‘Hajatan’ sendiri tidak diadaptasi dari karya sastra. Cerita lahir dari riset dan pengamatan anggota KTA terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dari sisi artistik, KTA juga mencoba keluar dari bentuk realis yang selama ini menjadi ciri mereka. Dalam produksi kali ini, dialog dipadukan dengan olah tubuh serta unsur tradisi, modern dan absurd.

“KTA terbiasa dengan bentuk-bentuk pertunjukan realis. Di sini akhirnya kita keluar dari bentuk itu, kita menuju ke bentuk non-realis,” jelas Qowy.

Sekitar 30 personel terlibat dalam produksi tersebut. Durasi pertunjukan saat latihan sekitar 40 menit dan masih dapat berkembang setelah seluruh elemen pertunjukan digabungkan.

Lewat ‘Hajatan’, KTA tidak bermaksud menolak modernisasi. Mereka hanya ingin mengingatkan bahwa kemajuan zaman seharusnya tidak membuat nilai guyub, gotong royong dan kepedulian terhadap sesama ikut hilang.

“Intinya, naskah ini mengangkat tentang pergeseran nilai sosial yang ada di masyarakat dengan adanya modernisasi yang masuk,” ujar Alfi.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.