Lahan Apel di Kota Batu Menyusut Drastis, Tersisa 700 Hektare

oleh -311 Dilihat
IMG 20260412 WA0020 1
Hasil panen apel di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. (Foto: P. Priyono) 

KabarBaik.co, Batu – Luasan lahan tanaman apel di Kota Batu terus mengalami penyusutan signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Jika pada masa kejayaannya di era 1980-an mencapai sekitar 3.000 hektare, kini hanya tersisa sekitar 700 hektare.

Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan bahwa kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena apel merupakan salah satu identitas khas Kota Batu yang harus dijaga keberlangsungannya. “Apel Batu ini bukan sekadar komoditas ekonomi, tapi juga identitas daerah. Ini yang harus kita jaga bersama,” tegasnya, Minggu (12/4).

Menurut Nurochman, penyusutan lahan dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari alih fungsi lahan, perubahan pola tanam petani, hingga tekanan ekonomi yang membuat sebagian petani beralih ke komoditas lain.

Meski demikian, sejumlah wilayah seperti Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, masih konsisten mempertahankan budidaya apel. Petani setempat tetap menanam varietas unggulan seperti apel Anna dan Manalagi di tengah berbagai keterbatasan.

Dalam kunjungannya, Nurochman bersama Wakil Wali Kota Heli Suyanto juga berdialog langsung dengan petani. Sejumlah persoalan yang dihadapi antara lain keterbatasan pupuk bersubsidi, infrastruktur jalan usaha tani, hingga kebutuhan penguatan koperasi dan penyediaan bibit unggul.

Selain itu, ia menyebut pertumbuhan sektor pertanian di Kota Batu masih berada di kisaran 1,5 persen, sehingga perlu adanya upaya bersama untuk meningkatkan produktivitas. “Kita perlu mendorong produktivitas melalui inovasi, pendampingan, serta penguatan kelembagaan petani agar sektor ini tetap bertahan,” ujarnya.

Sebagai bagian dari strategi adaptasi, sebagian petani kini mulai menerapkan pola tanam tumpangsari dengan komoditas lain seperti jeruk guna menjaga kestabilan pendapatan. Pemerintah Kota Batu pun mulai menggenjot langkah penyelamatan komoditas apel melalui penguatan kelembagaan petani, peningkatan kualitas bibit, serta perbaikan infrastruktur pendukung dari hulu.

“Kita ingin apel Batu tetap hidup dan memiliki daya saing, serta terus memberikan manfaat ekonomi bagi petani,” ungkap Nurochman. Ia mengingatkan bahwa tanpa upaya bersama, bukan tidak mungkin apel sebagai ikon Kota Batu hanya akan menjadi sejarah di masa depan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: P. Priyono
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.