KabarBaik.co – Puluhan mahasiswa Eksekutif Mahasiswa (EM) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) menggelar ziarah ke makam aktivis HAM Munir Said Thalib di TPU Sisir, Kota Batu, Minggu (7/9). Agenda memperingati dua puluh satu tahun terbunuhnya Munir ini menjadi rangkaian kegiatan rutin tahunan bertajuk September Hitam.
Ketua EM FH UB, Helmi Fauzan Risnanda mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mengenang perjuangan Munir sekaligus menyerukan kembali penuntasan kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia.
“Tujuan kita di sini untuk mengenang almarhum Cak Munir. Beliau adalah sosok yang berani bersuara lantang terhadap ketidakadilan. Ini menjadi pergerakan bersama EM Fakultas Hukum untuk ikut menyuarakan agar kasus Munir segera dituntaskan,” tegas Helmi.
Menurut Helmi, selain ziarah, agenda September Hitam juga diisi dengan diskusi publik dan pameran seni. Tahun ini, EM FH UB dan EM Fakultas Ekonomi UB akan menggelar diskusi pada 13 dan 15 September 2025, sementara EM FH UB menjadwalkan diskusi publik dan pameran seni antara 17 hingga 30 September 2025.
Helmi menekankan pentingnya menjamin ruang akademik, kebebasan berpikir, serta kebebasan bersuara bagi mahasiswa. Ia mendesak agar kasus Munir dan tragedi Kanjuruhan dimasukkan ke dalam kategori pelanggaran HAM berat. “Jika dimasukkan kategori pelanggaran HAM berat, maka kasus tidak bisa kadaluarsa dan penyelesaiannya bisa terus diperjuangkan,” jelasnya.
Munir Said Thalib, merupakan alumni Universitas Brawijaya dan pendiri KontraS. Dia dibunuh pada 7 September 2004 dalam penerbangan menuju Belanda. Ia tewas setelah mengonsumsi jus jeruk yang telah dicampur racun arsenik dalam perjalanan di atas langit Rumania. Dua dekade berlalu, kasus ini belum menemukan titik terang. (*)






