KabarBaik.co, Jombang— Di tengah suasana desa yang tenang, sebuah pemakaman umum di Dusun Medeleg, Desa Tampingmojo, Tembelang, Jombang, menyimpan kisah yang telah hidup puluhan tahun di benak masyarakat.
Sekilas, tempat ini tampak seperti makam pada umumnya berdampingan dengan rumah warga, tanpa kesan menyeramkan. Namun, cerita-cerita yang beredar menjadikannya dikenal sebagai salah satu lokasi yang diselimuti aura mistis.
Makam Medeleg tak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga tujuan sebagian orang untuk menjalani ritual tertentu.
Warga sekitar menyebut, sejak dulu hingga kini, tempat ini kerap didatangi pengunjung dari berbagai daerah, dengan tujuan yang beragam mulai dari mencari ketenangan batin hingga harapan akan peningkatan derajat hidup.
Supono, juru kunci makam, menuturkan bahwa sebenarnya tidak ada yang berbeda secara fisik dari pemakaman tersebut. Namun, di bagian tengah area makam terdapat sebuah sumuran tua yang diyakini sebagai tempat pertapaan tokoh yang dikenal sebagai Ki Ageng Gedhe Medeleg.
“Di tengah makam itu ada tempat pertapaan. Itu yang membuat orang datang ke sini,” ujar Supono dalam keterangannya, Sabtu (25/4).
Sumuran tersebut berbentuk lingkaran dari susunan batu bata merah kuno tanpa perekat semen. Kini, bangunan itu telah dipagari dan diberi atap seng sederhana. Meski tampak biasa, keberadaannya dipercaya memiliki nilai spiritual yang kuat.
Menurut cerita yang berkembang, Ki Ageng Gedhe Medeleg diyakini sebagai sosok penjaga makam. Ia disebut-sebut kerap menampakkan diri, baik dalam wujud pria bertubuh besar berjubah putih maupun seekor macan putih. Beberapa pengunjung bahkan mengaku pernah mengalami kejadian ganjil setelah berkunjung.
“Ada yang merasa diikuti sampai rumah. Dulu pernah ada pengunjung dari luar kota yang juga mengalaminya,” kata Supono.
Cerita-cerita seperti ini semakin memperkuat kesan angker yang melekat pada makam tersebut. Tak jarang, pengunjung datang dengan membawa perlengkapan ritual seperti kembang setaman dan dupa. Di beberapa sudut area makam, sisa-sisa perlengkapan itu masih terlihat.
Meski begitu, Supono menegaskan bahwa setiap pengunjung yang ingin memasuki area pertapaan harus mengikuti tata cara tertentu. Salah satunya adalah membersihkan diri dengan air wudhu yang telah disediakan, serta mengucapkan salam sebagai bentuk permisi.
“Harus dalam keadaan suci, lalu mengucapkan salam sebelum masuk,” ujarnya.
Di balik nuansa mistis yang menyelimuti, Makam Medeleg tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Sebuah ruang yang mempertemukan tradisi, kepercayaan, dan cerita yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (*)







