Mobil Mikroplastic Journey Edukasi Siswa MIN 2 Mojokerto, Guru Singgung Sampah MBG

oleh -94 Dilihat
Siswa MIN 2 Mojokerto antusias belajar di Mobil Microplastic Journey.
Siswa MIN 2 Mojokerto antusias belajar di Mobil Microplastic Journey. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Mojokerto – Lebih dari 200 siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Mojokerto diajak mengenal bahaya mikroplastik melalui program Mikroplastic Journey milik Ecoton.

Untuk pertama kalinya hadir di Mojokerto, mobil edukasi tersebut membawa siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 belajar tentang perjalanan plastik hingga berubah menjadi mikroplastik, sumber paparannya, serta dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan.

Tak sekadar menerima materi, para siswa juga berperan sebagai peneliti cilik. Mereka mengambil sampel dan mengamati keberadaan mikroplastik pada sejumlah media yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti udara dalam dan luar ruangan, air, daun, hingga kulit tangan.

Salah satu kelompok, yakni Kelompok 7, meneliti keberadaan mikroplastik pada udara di dalam dan luar ruangan.

Hasil pengamatan pada udara dalam ruangan menemukan 2 fiber, 2 filamen, dan 9 fragmen. Sementara pada udara luar ruangan ditemukan 3 fiber dan 2 fragmen.

Mikroplastik juga ditemukan pada kulit tangan siswa, dengan total 35 fiber, 5 filamen, dan 1 fragmen. Adapun sampel daun mengandung 4 fiber, 6 fragmen, dan 2 filamen.

Temuan tersebut membuat siswa menyadari bahwa mikroplastik dapat berada di berbagai media yang bersentuhan dengan aktivitas mereka sehari-hari.

Jazila, siswa kelas 5A sekaligus Ketua Kelompok 7, mengaku baru mengetahui bahwa membakar sampah tidak serta-merta menghilangkan plastik.

“Rumahku dekat tempat pembuangan sampah, baunya sering sampai rumah. Ada juga tetanggaku yang bakar sampah, asapnya sampai kecium di rumahku. Awalnya aku ngira kalau asap bakar sampah dan sampah dibakar itu bisa hilang terkena angin. Ternyata bakar sampah malah bikin mikroplastik terbentuk dan mengotori udara,” ujar Jazila.

Setelah melakukan penelitian, Jazila dan teman-temannya menemukan mikroplastik di udara dalam ruangan berupa fiber, filamen, dan fragmen.

“Jadi tidak boleh bakar sampah. Bakar sampah bikin kita batuk-batuk dan sesak napas,” katanya.

Temuan mikroplastik pada daun di sekitar lokasi pembakaran sampah juga memperkuat pemahaman siswa mengenai dampak pembakaran plastik.

Alby, siswa kelas 5, mengatakan, “Berarti membakar plastik itu menghasilkan mikroplastik, karena kita menemukan banyak mikroplastik di daun yang ada di dekat pembakaran sampah.”

Edukasi mengenai mikroplastik turut mendorong MIN 2 Mojokerto memperkuat pengelolaan sampah di lingkungan madrasah.

Yuli Indah Lestari, guru kelas 5, menyampaikan ketertarikannya untuk mempelajari pengolahan sampah organik, termasuk pembuatan ecoenzym, serta berkunjung ke Ecoton.

Salah satu persoalan yang kini dihadapi madrasah adalah banyaknya sampah sisa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Di sekolah banyak sampah sisa MBG. Kami ingin belajar bagaimana mengolahnya, termasuk belajar ecoenzym, dan ingin berkunjung ke Ecoton,” ujar Yuli Indah Lestari.

MIN 2 Mojokerto juga berencana mengembangkan Madrasah Mart sebagai bagian dari upaya membangun budaya peduli lingkungan di sekolah.

Madrasah tersebut juga membuka peluang kolaborasi dengan Refilin untuk mendorong penggunaan produk isi ulang sekaligus mengurangi sampah kemasan sekali pakai.

Kepala MIN 2 Mojokerto Saichul Adenan, mengapresiasi kehadiran program Mikroplastik Journey di madrasahnya.

Menurut Saichul, edukasi yang diberikan Ecoton sejalan dengan program madrasah dalam membangun budaya peduli lingkungan.

“Terima kasih karena program Ecoton sejalan dengan program madrasah, yaitu berbudaya lingkungan. Ini sangat membantu kami untuk mengurangi sampah plastik sampai zero waste,” ujar Saichul.

Kegiatan Mikroplastik Journey di MIN 2 Mojokerto menjadi bagian dari upaya Ecoton mendekatkan edukasi mikroplastik kepada pelajar.

Melalui praktik langsung, siswa tidak hanya mengetahui bahaya mikroplastik secara teori. Mereka juga melihat sendiri bahwa pencemaran plastik dapat ditemukan pada udara yang dihirup, daun di sekitar mereka, hingga tubuh manusia.

Ecoton mendorong sekolah dan madrasah agar edukasi mikroplastik tidak berhenti pada pengetahuan. Perubahan kebiasaan juga dinilai penting, mulai dari tidak membakar sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, mengolah sampah organik, hingga membangun lingkungan sekolah yang lebih sehat dan minim sampah.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.