Pertama di Indonesia, Ecoton Luncurkan Mobil Laboratorium Mikroplastik

oleh -93 Dilihat
Sofi Azilan Aini menjelaskan kepada pengunjung Mobil Laboratorium Mikroplastik 3 cara masuk mikroplastik dalam tubuh manusia melalui mulut, hidung dan pori-pori kulit. (Foto: Ist)
Sofi Azilan Aini menjelaskan kepada pengunjung Mobil Laboratorium Mikroplastik 3 cara masuk mikroplastik dalam tubuh manusia melalui mulut, hidung dan pori-pori kulit. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Surabaya – Upaya mengedukasi masyarakat tentang bahaya mikroplastik kini dilakukan dengan cara yang lebih dekat dan interaktif. Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) meluncurkan Mobil Laboratorium Mikroplastik bertajuk “Microplastic Journey”, laboratorium edukasi keliling pertama di Indonesia yang memungkinkan masyarakat melihat langsung keberadaan mikroplastik di lingkungan sekitar.

Peluncuran dilakukan di Kecamatan Kenjeran, Kota Surabaya, Senin (3/8), sebagai bagian dari Program MOZAIK (Mission for Zero Plastic Leakage) dalam rangka Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution Kali Tebu Surabaya.

Program tersebut merupakan kolaborasi Ecoton Foundation bersama UNDP Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Pemerintah Kota Surabaya, Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Kementerian Lingkungan Hidup, serta organisasi nirlaba asal Uni Emirat Arab, Clean Rivers.

Kenjeran dipilih sebagai lokasi peluncuran karena menjadi kawasan pesisir yang menerima aliran berbagai sungai. Sampah plastik yang terbawa arus sungai berpotensi terurai menjadi mikroplastik akibat paparan sinar matahari, gelombang, dan proses alami lainnya sebelum akhirnya mencemari ekosistem laut dan masuk ke rantai makanan manusia.

Associate Director sekaligus Program Manager Clean Rivers, Reinier van der Lely, mengaku terkejut setelah menemukan partikel mikroplastik di permukaan tangannya saat mengikuti demonstrasi di mobil laboratorium tersebut.

“Polusi plastik bukan lagi masalah yang jauh dari kehidupan kita, tetapi tantangan global yang berdampak langsung pada kesehatan manusia. Pengurangan penggunaan plastik dan pengelolaan sampah yang lebih baik harus menjadi tanggung jawab bersama melalui kolaborasi lintas negara, pemerintah, organisasi, dan masyarakat,” katanya.

Mobil laboratorium itu dirancang sebagai sarana edukasi bergerak yang dapat menjangkau berbagai kalangan, mulai dari siswa TK hingga SMA/SMK, mahasiswa, komunitas, instansi pemerintah, perusahaan, hingga masyarakat umum.

Di dalamnya tersedia mikroskop stereo dan mikroskop portabel, peralatan preparasi serta analisis mikroplastik, alat uji kualitas air dan udara, hingga berbagai media edukasi dan permainan yang mengenalkan pentingnya pemilahan sampah, konservasi sungai, serta pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

Melalui konsep learning by doing, peserta dapat mengamati mikroplastik secara langsung, mempraktikkan analisis sederhana, menguji kualitas lingkungan, hingga mengikuti kegiatan citizen science untuk memahami kondisi lingkungan di sekitar mereka.

Ecoton berharap pengalaman tersebut dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat agar mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tidak membuang sampah ke sungai, tidak membakar sampah, serta mengelola sampah dengan benar agar tidak berakhir di laut.

Selain itu, masyarakat juga diajak menjaga kebersihan sungai sebagai langkah mencegah sampah plastik terbawa hingga ke wilayah pesisir.

Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fitrah Tanah Kali Kedinding, Rudi, menyambut baik kehadiran laboratorium keliling tersebut sebagai media pembelajaran yang mudah dijangkau masyarakat.

“Edukasi seperti ini sangat penting dikenalkan kepada para santri sejak dini. Kami berharap dapat berkolaborasi dengan Ecoton agar para santri tidak hanya memahami persoalan mikroplastik secara teori, tetapi juga melihat langsung buktinya melalui laboratorium ini. Harapannya, mereka menjadi generasi yang peduli lingkungan dan mampu mengajak masyarakat mengurangi sampah plastik serta menjaga kebersihan sungai,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan Erlyta, siswi kelas VIII SMP Negeri 58 Surabaya. Setelah mengikuti demonstrasi, ia mengaku baru mengetahui bahwa mikroplastik dapat menempel pada tubuh manusia.

“Saya tidak menyangka di tangan saya ditemukan mikroplastik jenis film yang salah satunya berasal dari plastik kresek. Dari sini saya jadi tahu bahwa mikroplastik ada di sekitar kita, bahkan bisa menempel di tubuh kita,” ucapnya.

Erlyta mengatakan pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa membakar sampah bukan solusi karena menghasilkan partikel dan zat berbahaya. Ia pun berkomitmen mengurangi penggunaan plastik serta tidak lagi membakar sampah.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Nurifa Handayani, mengapresiasi inovasi edukasi yang dikembangkan Ecoton.

“Mobil Laboratorium Mikroplastik menjadi sarana edukasi yang sangat menarik karena masyarakat dapat melihat langsung keberadaan mikroplastik di sekitar mereka. Harapannya, kesadaran masyarakat semakin meningkat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sebagai bagian dari upaya melindungi kesehatan manusia dan lingkungan,” ujarnya.

Ecoton berharap Microplastic Journey dapat menjangkau lebih banyak daerah di Indonesia sehingga semakin banyak masyarakat memahami keterkaitan antara sampah plastik, sungai, laut, dan kesehatan manusia. Melalui edukasi yang lebih dekat dengan masyarakat, gerakan mencegah kebocoran sampah plastik ke lingkungan diharapkan semakin meluas.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.