Pengakuan Sedih Mahasiswi Melahirkan Sendiri di Kos, Tangis Pecah saat Bertemu Ibu

oleh -110 Dilihat
WhatsApp Image 2026 08 23 at 3.47.00 PM
Saat ALSU bertemu dan menangis memeluk ibunya (Tangkapan layar)

KabarBaik.co, Surabaya — Di ruang yang sederhana namun penuh haru, ALSU, 24, mahasiswi asal Temanggung yang kini menjadi tersangka setelah melahirkan seorang diri di kamar kos hingga bayinya meninggal dunia, akhirnya dipertemukan dengan ibunya.

Pertemuan penuh emosi ini terjadi berkat kebijaksanaan Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan yang memberikan kesempatan kepada anak dan ibu untuk saling bertatap muka, berbicara, serta memohon maaf dengan setulus hati.

Pertemuan ini terungkap dari unggahan instagram @luthfie.daily. Di video itu ALSU menceritakan kronologi kelam yang terjadi di kamar kosnya di kawasan Gubeng Kertajaya, Surabaya.

Kronologi Kelam di Balik Pintu Kamar Kos

Dengan suara tertahan dan pandangan menunduk, ALSU menceritakan semuanya dari awal. Hubungannya dengan pria yang menjadi ayah dari bayinya hanya berjalan sembilan bulan. Sejak Juni 2026, komunikasi mereka putus begitu saja, saat ia menyampaikan kabar kehamilannya.

“Pacaran lama? Baru 9 bulan. Terus sekarang di mana? Sudah enggak komunikasi sejak bulan Juni. Tahu kamu hamil? Sudah enggak pingin ketemu. Terus pertanggungjawabannya gimana? Ngomongin tentang tanggung jawab jauh gitu, enggak komunikatif gitu,” ungkap ALSU pelan.

Di Surabaya, ALSU mengaku hidup seorang diri menuntut ilmu di Universitas. Orang tuanya berada jauh di Temanggung, Jawa Tengah. Ia memilih menanggung semuanya sendirian takut, malu, bingung hingga hari persalinan tiba tanpa ada siapa pun di sisinya.

Diceritakan, Pada pukul 08.00 pagi, ia mulai merasakan kontraksi di tempat tidur. Siang harinya, air ketuban pecah. Tanpa bantuan siapa pun, tanpa tenaga medis, bayi itu lahir ke dunia. Namun, ALSU membiarkan bayinya terbaring di lantai.

“Kamu taruh di lantai itu saja bayi itu. Iya, tadi baru ari-arinya berdarah kayak gunting bedah. Bayi itu dibiarkan di lantai. Gagal napas dan dehidrasi,” ujarnya dengan suara bergetar.

Bayi itu menggigil kedinginan hanya dilapisi selembar kain. Pagi harinya, ibu kos mendengar suara tangisan bayi dan mengetuk pintu yang tak kunjung dibuka. Pintu pun akhirnya dijebol. Bayi yang masih bernapas segera dibawa ke rumah sakit bersama ibunya, namun nyawa si kecil tak tertolong meninggal dua jam sebelum tiba di rumah sakit.

“Bayi itu dibiarkan di situ berjam-jam. Tidak ada upaya untuk menyelamatkan. Saya buang saja,” aku ALSU singkat namun menghancurkan hati siapa pun yang mendengarnya.

“Yang Membuat Saya Sedih… Menyesal Sama Orang Tua”

Saat ditanya Luthfie apa yang paling dirasakan sekarang, jawaban ALSU sederhana namun menyayat hati.

“Terus perasaan kamu gimana sekarang? Poin mana yang membuat kamu sedih? Menyesal sama orang tua,” ucapnya pelan dengan mata berkaca-kaca.

Melihat kepedihan di mata anak muda itu, Luthfie yang juga seorang ayah, luluh. Ia tahu hukuman terberat bagi ALSU bukanlah penjara, melainkan penyesalan seumur hidup. Namun sebelum itu, ada satu hal yang harus diselesaikan, pertemuan dengan ibunya.

“Orang tua itu ya paling sedih ya kehilangan anak. Kenapa perlakukan anak itu kayak gitu? Kan itu sedih yang membuat kamu sedih. Kamu biarkan di situ berjam-jam… Enggak perlu lakukan kayak gitu terus hilang rasa kasihan saya sama kamu. Tapi, orang tuanya ada? Ada. Sudah minta maaf belum? Ya sudah sana suruh ketemu bapak ibunya suruh minta maaf lagi. Hari ini kan sudah lewat magrib, saya kasih kesempatan biarkan ketemu orang tuanya biar dia minta maaf,” Ujar Luthfie.

Pertemuan Penuh Air Mata: “Boleh Bu, Boleh…”

Dan saat itu juga, pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah gemetar. Itu ibunya yang datang dari jauh, yang baru mengetahui segalanya, yang harus menahan rasa sakit sekaligus rasa sayang pada anaknya.

“Ibu mau ketemu sama anaknya sekarang?” tanya Luthfie.

“Boleh Bu, boleh…” jawab ALSU dengan suara pecah.

Di hadapan ibunya, ALSU tak mampu berkata-kata selain memohon ampun memohon maaf atas dosanya kepada anak yang baru lahir, sekaligus memohon maaf kepada orang tuanya yang telah membesarkannya dengan penuh harapan.

Tak ada teriakan, tak ada amarah. Hanya pelukan yang penuh air mata, di mana seorang ibu kembali merangkul anaknya yang tersesat, dan seorang anak menyadari bahwa di dunia ini, cinta seorang ibu tak pernah berubah bahkan saat ia berada di titik terendah sekalipun.

Kisah ini menjadi pengingat yang menyakitkan namun penting, bahwa di balik setiap kasus yang menjadi sorotan publik, ada manusia yang terluka, ada keluarga yang hancur, dan ada kesempatan untuk bertobat.

ALSU tetap akan menjalani proses hukum sebagai tersangka, namun pertemuan sore itu menjadi bukti bahwa di sela-sela ketegasan hukum, masih ada ruang untuk kemanusiaan, kasih sayang, dan harapan untuk memulai kembali. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Sugiantoro
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.