Pengakuan Sedih Suami di Mojokerto yang Bunuh Ibu Mertua dan Lukai Istri

oleh -193 Dilihat
WhatsApp Image 2026 05 07 at 7.58.09 PM
Satuan saat dengan Kapolres Mojokerto (Istimewa)

KabarBaik.co, Mojokerto – Seorang suami di Mojokerto menganiaya istrinya hingga kritis. Ia juga menganiaya mertuanya hingga tewas.

Suami itu adalah Satuan, 43. Ia membacok istrinya Sri Wahyuni, 36 dan menewaskan ibu mertuanya Siti Arofah, 54, di rumah kontrakan di Puri, Mojokerto.

Di balik peristiwa tragis ini, tersimpan kisah tentang konflik rumah tangga, tekanan ekonomi, hingga dugaan perselingkuhan yang memicu emosi pelaku.

Dalam pengakuannya, Satuan mengungkap bahwa persoalan dengan istrinya telah berlangsung lama. Ia merasa tidak dihargai, terlebih ketika kebutuhan ekonomi keluarga terus meningkat di tengah penghasilannya yang tidak menentu.

Sehari-hari, Satuan bekerja serabutan, bahkan mengamen dari lampu merah ke lampu merah. Penghasilannya pun jauh dari cukup. Dalam sehari, ia mengaku pernah hanya membawa pulang uang Rp 4 ribu, namun di waktu lain bisa mendapatkan hingga ratusan ribu rupiah.

Di sisi lain, ia menilai istrinya kerap menuntut berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi, mulai dari uang belanja, biaya sekolah anak, hingga kebutuhan pribadi. Kondisi itu diperparah dengan utang yang menumpuk, termasuk pinjaman ke rentenir yang harus dibayar hingga jutaan rupiah setiap pekan.

“Kalau semua permintaannya tidak dipenuhi, dia tidak mau mengurus anak,” ujarnya. Kamis (7/5).

Satuan juga mengaku kerap membawa anaknya saat bekerja karena tidak ada yang menjaga di rumah. Baginya, sang anak adalah satu-satunya yang kini terus terlintas di pikirannya.

“Yang saya pikirkan sekarang cuma anak saya. Saya tidak bisa tidur, makan pun sulit,” katanya.

Hubungan Satuan dengan sang istri disebut semakin memanas karena dugaan perselingkuhan. Ia mengaku mengetahui hal tersebut dan berusaha menahan emosi, namun situasi justru semakin memburuk.

Puncaknya terjadi saat konflik melibatkan ibu mertua. Menurut Satuan, kemarahannya meledak secara spontan saat situasi memanas. Ia juga menyebut hubungan dengan mertuanya tidak harmonis, bahkan merasa diperlakukan berbeda berdasarkan kondisi ekonomi.

“Kalau ada uang dianggap menantu, kalau tidak ada ya tidak dianggap,” ucapnya.

Kini, Satuan hanya bisa menyesali perbuatannya. Namun penyesalan itu datang terlambat. Sementara satu nyawa telah melayang, dan keluarganya harus menghadapi luka mendalam akibat tragedi ini. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.