KabarBaik.co – Di tengah geliat transisi menuju kendaraan ramah lingkungan, pasar mobil listrik di Indonesia justru menunjukkan gejala perlambatan pada pertengahan tahun 2025. Padahal, awal tahun sempat mencatat lonjakan signifikan.
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, mengungkapkan bahwa ada sejumlah faktor yang menghambat penetrasi kendaraan listrik di pasar domestik. Salah satunya adalah persoalan harga yang dinilai masih terlalu tinggi untuk sebagian besar konsumen Tanah Air.
“Harga mobil listrik ini relatif mahal. Sementara mayoritas masyarakat kita membeli mobil di kisaran harga di bawah Rp 300 juta, sedangkan mobil listrik rata-rata di atas Rp 500 juta,” ujar Kukuh, Jumat (4/7).
Ia juga menyoroti bahwa pasar mobil listrik saat ini masih terbatas pada kalangan tertentu. Kebanyakan pembeli berasal dari kelompok menengah ke atas yang sebelumnya sudah memiliki kendaraan pribadi. Artinya, mobil listrik lebih banyak dibeli sebagai kendaraan kedua atau ketiga, bukan oleh konsumen pemula.
“Pembeli mobil listrik itu rata-rata sudah punya mobil sebelumnya. Jadi, bukan first time buyer,” tambahnya.
Di luar soal harga dan segmentasi pasar, Kukuh menyebut bahwa daya beli masyarakat yang melemah turut memberi andil besar dalam penurunan penjualan kendaraan, baik listrik maupun konvensional.
“Secara keseluruhan, pasar otomotif sedang tertekan. Tidak hanya mobil listrik, mobil berbahan bakar bensin pun juga terdampak. Ini mencerminkan kondisi ekonomi yang memang belum sepenuhnya pulih,” katanya.
Di tengah tren perlambatan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV), penjualan mobil hybrid justru terpantau stabil. Kukuh mencatat, kendaraan hybrid tetap mencatat angka penjualan di kisaran 4.500 unit per bulan.
Sebaliknya, BEV mengalami penurunan tajam hingga hanya mencatat sekitar 1.000 unit terjual per bulan sepanjang pertengahan tahun ini.
Padahal, berdasarkan laporan Electric Vehicle Sales Review Q1-2025 yang dirilis PwC, pasar kendaraan listrik sempat melesat pada kuartal pertama tahun ini. Penjualan EV secara keseluruhan—yang mencakup BEV, PHEV (plug-in hybrid electric vehicle), dan hybrid—tumbuh 43,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selama Januari–Maret 2025, total penjualan kendaraan listrik di Indonesia mencapai 27.616 unit, naik dari 19.260 unit pada kuartal pertama 2024. Lonjakan terbesar disumbang oleh peningkatan penjualan BEV sebesar 152,5 persen dan PHEV sebesar 44,8 persen.
Namun, tren positif itu tidak berlanjut. Memasuki pertengahan tahun, kombinasi antara harga yang belum kompetitif dan tekanan daya beli masyarakat membuat pasar kendaraan listrik kembali melambat.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa akselerasi kendaraan listrik di Indonesia masih memerlukan dukungan kebijakan dan strategi pasar yang lebih adaptif terhadap kemampuan konsumen.






