KabarBaik.co – Setelah pensiun sebagai perangkat Desa Tinggar, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, Fatkurrohman, 60, tak ingin berdiam diri. Lima bulan setelah masa baktinya berakhir, ia justru menapaki jalan baru sebagai peternak ayam petelur.
Kini, ia dikenal warga sebagai sosok ulet yang sukses membangun usaha dari nol. Dengan modal awal sekitar Rp 150 juta dari tabungan pribadi, Fatkurrohman memberanikan diri merintis peternakan.
Karena dana belum cukup untuk membangun kandang dan membeli ribuan ekor ayam, ia menambah modal dengan meminjam dari saudaranya.
“Awalnya saya hanya mampu menampung 1.000 ekor ayam. Sekarang alhamdulillah sudah 4.000 ekor dan terus berkembang,” kata Fatkurrohman saat ditemui di kandangnya, Kamis (6/11).
Ayam-ayam jenis CP merah itu kini menjadi sumber penghidupan utama bagi Fatkurrohman. Tanpa latar belakang pendidikan peternakan, ia belajar secara otodidak.
Ilmu beternak ia dapat dari keluarganya di Kediri yang lebih dulu menekuni usaha serupa. Prinsipnya sederhana: Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM).
“Belajar dari pengalaman orang lain, terus dicoba sendiri. Kalau gagal ya diperbaiki, yang penting tekun,” ujarnya.
Dari 3.000 ekor ayam yang sedang produktif, setiap hari ia bisa memanen sekitar 142–144 kilogram telur. Telur-telur itu dijual ke para tengkulak dan pedagang dari berbagai kecamatan, seperti Gudo dan Megaluh.
Harga telur di tingkat kandang saat ini terbilang stabil, sekitar Rp 26 ribu per kilogram. Menurutnya, harga itu masih memberi keuntungan bagi peternak kecil.
“Dengan harga segitu, kita masih bisa untung, asal biaya pakan tidak naik terus,” tutur Fatkurrohman.
Kesuksesan Fatkurrohman juga tak lepas dari inovasinya menjaga lingkungan kandang tetap bersih dan tidak berbau. Ia rutin menyemprotkan cairan fermentasi EM4 seminggu sekali untuk mengurai limbah dan menjaga udara tetap segar.
“Kalau tidak disemprot, baunya bisa menyengat. Tapi dengan cairan itu, kandang lebih nyaman,” ujarnya.
Meski demikian, perjalanan usaha Fatkurrohman tak selalu mulus. Kenaikan harga pakan, terutama jagung, menjadi tantangan terbesar. Harga jagung yang sebelumnya Rp 5.500 per kilogram kini menembus Rp 7.000 di tingkat gudang.
“Kalau harga pakan naik, ya otomatis untung ikut turun. Tapi sejauh ini masih bisa bertahan,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan ada koperasi khusus peternak yang bisa menyalurkan jagung dengan harga stabil dan terjangkau.
“Kalau ada koperasi yang bisa bantu suplai jagung, peternak seperti kami pasti lebih tenang,” katanya.
Kini, dari kandang sederhana di Desa Tinggar, Fatkurrohman berhasil membuktikan bahwa masa pensiun bukan akhir dari produktivitas. Ia justru menjadi inspirasi bagi warga sekitar untuk terus berkarya.
“Yang penting niat dan sabar. Pasti ada hasilnya,” pungkasnya. (*)








