Pesantren Tebuireng Jombang, Jejak Perjuangan KH Hasyim Asy’ari Membangun Peradaban

oleh -194 Dilihat
WhatsApp Image 2025 10 21 at 12.00.35 PM
Pondok Pesantren Tebuireng Jombang (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co – Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, kini menjadi salah satu pesantren terbesar di Indonesia. Santrinya pun berjumlah ribuan santri dan telah mendirikan 9 cabang yang tersebar di berbagai daerah.

Namun, siapa sangka pesantren ini berawal dari sebuah rumah bambu berukuran 6 x 8 meter milik KH Hasyim Asy’ari yang didirikan pada 3 Agustus 1899.

Nama Tebuireng diambil dari nama dusun tempat pesantren ini berdiri, yakni Dusun Tebuireng di Desa Cukir, Jombang. Kala itu, kawasan ini mulai tersentuh industrialisasi, salah satunya dengan hadirnya pabrik gula milik pemerintah kolonial Belanda.

Industrialisasi membawa perubahan ekonomi masyarakat. Namun di sisi lain, perjudian dan konsumsi minuman keras juga marak. Fenomena inilah yang mendorong KH Hasyim Asy’ari, kakek dari Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), untuk berdakwah dan membangun pesantren.

KH Hasyim kemudian membeli sebidang tanah dan membangun rumah bambu sederhana. Bagian depan digunakan untuk mengajar santri, sementara bagian belakang menjadi tempat tinggal bersama istrinya, Nyai Khodijah. Saat pertama kali dibuka, jumlah santri hanya 8 orang. Tiga bulan kemudian, jumlahnya bertambah menjadi 28.

“Pesantren Tebuireng didirikan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari tahun 1899. Jadi, sekarang Pesantren Tebuireng sudah berusia 126 tahun,” ujar Pengasuh Pondok Putri Pesantren Tebuireng KH Fahmi Amrullah Hadziq atau Gus Fahmi, dalam keteranganya, Selasa (21/10).

Pada awal berdirinya, Pesantren Tebuireng belum sepenuhnya diterima masyarakat. Selama dua setengah tahun pertama, ancaman dan teror kerap datang. Dinding rumah KH Hasyim dilempari batu, ditusuk senjata tajam, hingga para santri harus berjaga malam secara bergiliran.

Untuk mengatasi gangguan tersebut, KH Hasyim meminta bantuan empat sahabatnya dari Cirebon yakni Kiai Saleh Benda, Kiai Abdullah Panguragan, Kiai Samsuri Wanantara, dan Kiai Abdul Jamil Buntet. Mereka melatih santri pencak silat dan ilmu kanuragan selama sekitar delapan bulan.

Sejak saat itu, gangguan mulai mereda, dan masyarakat semakin menghormati KH Hasyim. Jumlah santri pun melonjak dari 28 pada 1899 menjadi sekitar 200 orang pada 1910, datang dari berbagai wilayah di Jawa dan Madura.

Pada awalnya, Pesantren Tebuireng hanya mengadakan pengajian tanpa sistem klasikal atau madrasah. Santri datang khusus untuk mengaji langsung kepada KH Hasyim Asy’ari.

“Awalnya tidak ada sistem klasikal, hanya pengajian-pengajian. Karena yang mengajar Hadratus Syaikh, sepertinya sudah mengalahkan madrasah. Santri merasa rugi kalau tidak mengaji sekali saja,” ujar Gus Fahmi.

Tahun 1919, pengenalan pendidikan madrasah dimulai. Lalu pada 1933, berdirilah Madrasah Nidzamiyah yang mulai mengajarkan pengetahuan umum seperti matematika. Madrasah ini berkembang pesat di masa KH Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari.

Perkembangan terus berlanjut. Tahun 1975, berdirilah SMP dan SMA Wahid Hasyim di bawah kepemimpinan KH Yusuf Hasyim.

Kemudian, pada masa kepemimpinan KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), didirikan Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ari pada 2008 yang fokus pada pengajaran kitab kuning dan pendidikan diniyah.

“Tahun 2014, Gus Solah ingin mendirikan pondok berbasis sains Al Qur’an. Maka berdirilah SMA Trensains, lalu disusul SMP dan MTs Sains,” kata Gus Fahmi.

Kini, Pesantren Tebuireng memiliki berbagai lembaga pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, SMK, Madrasah Aliyah, Ma’had Aly hingga Universitas Hasyim Asy’ari.

“Yang namanya pesantren tidak hilang ruhnya. Pengajian-pengajian kitab tetap kami berikan di pesantren. Tebuireng ini gabungan antara pesantren salaf dan modern,” tambahnya.

Pesantren Tebuireng juga telah berkembang dengan mendirikan sembilan cabang di berbagai daerah di Indonesia:

1. Tebuireng II: Pesantren Sains (Trensains), SMA & SMP Sains

2. Tebuireng III: Hajarun Najah, Indragiri Hilir, Riau

3. Tebuireng IV: Al Islah, Indragiri Hulu, Riau

4. Tebuireng V: Ciganjur, Jakarta

5. Tebuireng V  (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.