KabarBaik.co, Malang – Ancaman El Nino yang berpotensi memicu kekeringan belum memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Malang. Petani dinilai cukup siap beradaptasi dengan kondisi cuaca, termasuk menyesuaikan pola tanam dan memanfaatkan sumber air alternatif.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Avicenna M. Saniputera mengatakan, pihaknya telah melakukan pemantauan terhadap sejumlah wilayah untuk mengetahui dampak El Nino terhadap lahan pertanian.
“Untuk sementara tidak ada yang terdampak secara serius karena petani masih bisa mengatur pola tanam,” ujar Avicenna, saat di lahan penanaman bawang putih di Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Rabu (19/8).
Menurutnya, kondisi El Nino sejauh ini lebih berdampak terhadap waktu tanam. Sejumlah petani harus memundurkan jadwal tanam, namun keterlambatan tersebut dinilai tidak terlalu berpengaruh terhadap hasil produksi.
Kesiapan petani menghadapi kekeringan salah satunya terlihat di wilayah Sumbersuko, Kecamatan Wagir. Di kawasan tersebut, lahan pertanian yang tidak memiliki cukup pasokan air tetap bisa dimanfaatkan setelah petani menggunakan pompa untuk mengambil sumber air.
“Contohnya lahan yang ada di Sumbersuko Wagir ini sebenarnya tidak ada airnya, tetapi masyarakat menggunakan pompa sehingga tetap bisa digunakan,” jelasnya.
Selain kemampuan petani beradaptasi, pemerintah juga menyiapkan dukungan sarana pengairan. Kementerian Pertanian telah menempatkan pompa air di sejumlah Kodim yang dapat dipinjam petani ketika menghadapi kondisi rawan kekeringan.
Avicenna menyebut terdapat sekitar 85 unit pompa yang tersedia di Kodim-Kodim. Dengan skema peminjaman, petani yang membutuhkan dapat lebih cepat mendapatkan akses terhadap pompa untuk mengairi lahannya.
“Di semua Kodim sudah ada stok pompa yang bisa digunakan kalau terjadi rawan kekeringan. Jumlahnya sekitar 85 pompa,” jelasnya.
Di sisi lain, pola pertanian di Kabupaten Malang juga dinilai cukup fleksibel. Pada lahan yang memiliki ketersediaan air memadai, petani dapat melakukan hingga tiga kali panen padi dalam setahun.
Sementara, jika pasokan air terbatas, petani dapat menerapkan pola dua kali panen padi kemudian dilanjutkan dengan palawija atau sayuran. Bahkan, pada musim kemarau sejumlah petani memilih beralih menanam komoditas hortikultura.
Poncokusumo menjadi salah satu kawasan yang memiliki pola tanam sayuran cukup kuat. Kondisi tersebut turut memperkuat posisi Kabupaten Malang sebagai salah satu sentra hortikultura penting di Jawa Timur.
Avicenna menyebut pada 2025 Kabupaten Malang menjadi salah satu daerah penghasil sayuran terbesar di Jawa Timur. Produksi tersebut bahkan dipasarkan hingga berbagai wilayah di Indonesia. “Kalau se-Jawa Timur berarti di sini penghasil sayur se-Indonesia. Malang ini sudah level nasional,” ungkapnya.
Distribusi komoditas pertanian Kabupaten Malang juga menjangkau wilayah luar Pulau Jawa. Salah satunya tomat hasil produksi petani Kecamatan Ampelgading yang dikirim hingga Balikpapan.
Tak hanya sayuran, komoditas kopi dari kawasan Wonosari juga telah menembus pasar internasional. Kopi Robusta Wonosari disebut telah dipasarkan hingga Belanda dan Singapura melalui PTPN. “Kopi Wonosari lewat PTPN sampai ke Belanda, Singapura. Kopi asli Wonosari jenis Robusta,” kata Avicenna.
Dengan kemampuan petani menyesuaikan pola tanam, dukungan pompa air, serta beragamnya komoditas pertanian, DTPHP Kabupaten Malang optimistis sektor pertanian daerah tersebut mampu menghadapi potensi dampak El Nino. (*)








