Ponpes di Jombang Ini Gelar Pengajian Kitab Kuning 3 Bahasa, Santri Didorong Go Internasional

oleh -114 Dilihat
WhatsApp Image 2026 02 28 at 9.26.39 AM
Para santri saat mengaji kitab kuning (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co, Jombang – Inovasi pembelajaran hadir dari Pondok Pesantren Al Aqobah 4 yang berlamat di Desa Kwaron, Diwek, Jombang. Ponpes ini menggelar pengajian kitab kuning klasik dengan pendekatan tiga bahasa yaitu Arab, Inggris, dan Indonesia.

Program yang rutin dilaksanakan setiap bulan Ramadan itu dirancang berbeda dari metode pengajian tradisional.

Selain mengkaji teks berbahasa Arab, para santri juga mendapatkan penjelasan dan terjemahan dalam Bahasa Indonesia serta Bahasa Inggris secara bergantian.

Pengasuh pesantren KH Akhmad Kanzul Fikri atau Gus Fikri mengatakan penggunaan tiga bahasa dalam kajian kitab merupakan strategi untuk membekali santri menghadapi tantangan global.

“Lulusan pesantren perlu memiliki kompetensi bahasa agar mampu menyampaikan dakwah tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional hingga internasional,” ujar Gus Fikri dalam keterangannya, Sabtu (28/2).

Menurut dia, penguasaan bahasa asing menjadi nilai tambah penting bagi santri di era modern.

Dengan kemampuan tersebut, pesan dakwah diharapkan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, termasuk komunitas di luar negeri.

Suasana pengajian pun terasa berbeda. Para santri tampak menyimak teks kitab klasik dengan serius, lalu mendengarkan penjelasan dalam Bahasa Indonesia sebelum berlanjut ke Bahasa Inggris.

Pola ini membuat santri tidak hanya memahami isi kitab, tetapi juga terbiasa dengan kosakata lintas bahasa.

Salah satu santri, Atayanul Nafis, mengaku antusias mengikuti program tersebut. Santri asal Gresik itu menilai metode pengajian tiga bahasa memberikan pengalaman baru yang memperkaya pemahaman terhadap kitab kuning sekaligus meningkatkan keterampilan berbahasa.

“Belajarnya jadi lebih menantang, tapi juga seru. Kami bisa lebih paham isi kitab sekaligus belajar menyampaikan maknanya dalam bahasa lain,” ungkapnya.

Selama Ramadan, kegiatan di pesantren juga semakin semarak dengan tadarus Alquran, kajian kitab klasik, hingga pelaksanaan qiyamul lail.

Kombinasi penguatan ilmu agama dan keterampilan bahasa asing ini diharapkan mampu melahirkan generasi santri yang mendalam dalam pemahaman keislaman sekaligus adaptif di era global.

Sebagian santri, lanjut Atayanul, telah memiliki dasar kemampuan Bahasa Inggris dan Arab dari pendidikan formal di sekolah.

“Program ini menjadi ruang untuk mengasah dan mempraktikkan kemampuan tersebut secara lebih intensif dalam konteks kajian keislaman,” tambahnya.

Melalui langkah ini, pesantren tidak hanya mempertahankan tradisi keilmuan klasik, tetapi juga membuka jalan baru agar dakwah dan pemikiran Islam dapat menjangkau dunia yang lebih luas. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.