KabarBaik.co, Sentul,- Malam ini (26/2) di Sentul seharusnya terasa biasa saja. Namun. di GOR Padepokan Jenderal Polisi Kunarto, atmosfernya berbeda. Lampu arena menyala terang, tribun dipenuhi suporter, dan ketegangan menggantung bahkan sebelum peluit pertama berbunyi.
Di tempat itulah drama puncak musim reguler Proliga 2026 sektor putri dipentaskan. Dua tim terbaik musim ini, Jakarta Pertamina Enduro dan Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia, berhadapan dalam laga yang tak cuma menentukan pemenang pertandingan, tetapi juga penentu takhta klasemen.
Secara matematis, situasinya sederhana namun kejam. Gresik datang sebagai pemuncak klasemen dengan 26 poin hasil sembilan kemenangan dari sebelas laga. Jakarta Pertamina Enduro membuntuti dengan 24 poin dari delapan kemenangan.
Selisih dua angka itu memaksa JPE mengejar kemenangan telak. Mereka harus menang 3–0 atau 3–1 untuk merebut posisi puncak. Menang lima set pun tak cukup. Skor 3–2 hanya akan menjaga Gresik tetap di atas. Artinya, tak ada ruang untuk ragu atau bermain aman. Setiap reli bernilai seperti final.
Pertarungan ini juga sarat gengsi personal. Sorotan antara lain tertuju pada Megawati Hangestri Pertiwi, salah satu mesin poin JPE. Musim ini Mega menunjukkan reputasinya sebagai opposite lokal paling berbahaya. Setiap bola tinggi yang diarahkan kepadanya nyaris selalu berubah menjadi ancaman.
Torehan poinnya sepanjang musim menempatkannya di jajaran 10 besar top skor. Namun produktivitas seorang spiker tak pernah berdiri sendiri. Ia sangat bergantung pada satu sosok yang bekerja senyap di balik layar permainan. Yakni, sang setter.
Di situlah peran Tisya Amallya Putri menjadi krusial sekaligus dilematis. Kapten tim berusia 25 tahun itu bukan sekadar pengatur umpan. Dia adalah otak permainan, penentu tempo, sekaligus jembatan emosi tim. Dari tangannya, arah serangan ditentukan. Apakah bola cepat ke tengah, terbuka ke sayap, atau tipuan tipis yang mengecoh blok lawan. Dalam olahraga secepat bola voli modern, sepersekian detik keterlambatan keputusan bisa mengubah satu set.
Secara reputasi, Tisya bukan nama tosser sembarangan. Dua kali menyandang predikat setter terbaik Proliga dan menjadi bagian penting saat JPE meraih gelar musim lalu.
Namun, seperti banyak playmaker dalam olahraga tim, pekerjaannya paling mudah disorot ketika tim kalah. Dalam beberapa pertandingan terakhir, kritik mulai terdengar. Distribusi bola dinilai kadang kurang presisi, terlalu dekat net, atau ritmenya terbaca lawan. Ketika receive goyah dan blok lawan agresif, variasi serangan terasa menyempit. Spiker utama seperti Megawati sesekali terlihat “kehilangan taji” karena tak mendapat bola ideal.
Sejumlah fans pun menyebut umpan Tisya tak selalu optimal. Bahkan, disebut kerap mengarah ke Wilma Salas atau Yana Shecherban. Bahkan, karenanya belakangan mulai ada suara-suara agar JPE mengganti setter demi memaksimalkan Megatron.
Tekanan itu makin berat karena Tisya juga memanggul ban kapten. Ia harus memastikan pemain muda tetap tenang, sekaligus menerjemahkan instruksi pelatih asal Turki, Bülent Karslıoğlu, yang dikenal disiplin dan tegas.
Dalam situasi genting, ia bukan hanya dituntut cerdas secara teknis, tetapi juga kuat secara mental. Setter yang ragu-ragu akan membuat ritme tim patah, setter yang overthinking justru memberi lawan celah membaca permainan.
Di sisi lain net, Gresik datang dengan kepercayaan diri tinggi. Kemenangan demi kemenangan membuat mereka tampak solid sebagai unit. Blok mereka disiplin, servis menekan, dan transisi bertahan-ke-menyerang berjalan cepat. Rekam jejak pertemuan sebelumnya menunjukkan mereka mampu memaksa JPE keluar dari pola nyaman.
Karena itu, laga malam ini terasa seperti ujian paling jujur. Bukan sekadar siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling tenang saat tekanan memuncak.
Ketika peluit berbunyi nanti, ribuan pasang mata mungkin tertuju pada Megawati yang melompat tinggi atau pada smash keras yang memecah pertahanan. Namun diam-diam, pertandingan bisa saja ditentukan oleh sentuhan pertama Tisya. Kapten atau kambing hitam? (*)









