Puluhan Tahun Jadi Tempat Sampah, Bantaran Sungai di Songgon Kini Bersih Berkat Banyuwangi Hijau

oleh -147 Dilihat
Bantaran sungai Binaung yang kini bersih dari sampah.
Bantaran sungai Binaung yang kini bersih dari sampah.

KabarBaik.co, Banyuwangi – Masyarakat di Dusun Krajan, Kecamatan Songgon, Banyuwangi sempat punya masalah dengan sampah. Sudah puluhan tahun lamanya area tepi sungai Binaung jadi tempat pembuangan sampah masyarakat.

Di lokasi itu dulunya berderet sejauh kurang lebih 100 meter tumpukan sampah yang berasal dari masyarakat beberapa desa di Kecamatan Songgon. Bahkan sampah pasar juga dibuang di sana.

Seperti diceritakan Rini Setyawati, 40, warga setempat. Ia berkisah, sejak sebelum ia lahir pinggiran Sungai Binaung sudah jadi tempat sampah warga.

“Sejak saya belum lahir sudah jadi tempat pembuangan sampah,” ujar Rini.

Rumah Rini tepat berada di depan lokasi buangan sampah di Sungai Binangun. Seingatnya, sampah dulunya sudah seperti bukit. Sampah berjajar kurang lebih sejauh 100 meter. Seringkali sampah-sampah itu berguguran ke sungai.

“Baunya luar biasa. Apalagi pas hujan, hemmm,” ujar Rini.

Ditambahkan Agus Purnomo, RT setempat. Dulu kondisi itu dibiarkan saja. Sebab dibersihkan seolah tidak ada habisnya.

“Karena setiap hari dibuangi sampah terus. Yang buang gak hanya warga sini tapi juga warga dari desa lain,” bebernya.

Namun situasi itu sirna semenjak adanya TPS 3R Balak dan Banyuwangi Hijau sekitar tahun 2021. Desa Songgon tergabung dalam layanan sampah di TPS tersebut.

“Sampah dikeruk habis lalu dibawa ke TPS, bantaran sungai lalu kami bangun pagar supaya tidak dibuangi sampah lagi,” kata Kades Songgon, Qoderi.

Mengapa dulunya sampah di bantaran dibiarkan sebab tidak ada lokasi lain. Namun semenjak adanya TPS 3R Balak sistemnya terbentuk dan ada lokasi penampungan sampah.

Mulanya bahkan juga sulit, terutama membangun kesadaran masyarakat. Bahkan saat awal-awal ketika petugas kerja bakti masyarakat masih ada yang membuang sampah di bantaran.

“Kami tegur lalu kami suruh bawa sampahnya itu pulang,” ujarnya.

Semenjak adanya TPS 3R Balak dan Banyuwangi Hijau kini pengelolaan sampah jadi tersistem. Masyarakat diajari pilah sampah dari rumah. Sampah diambil sepekan dua kali oleh petugas.

“Setelah Banyuwangi Hijau masuk, kondisinya jauh berbeda. Sampah sudah terkelola, lingkungan lebih bersih, dan warga tidak lagi membuang sampah ke sungai. Kesadaran masyarakat juga meningkat karena ada edukasi dan pendampingan,” ungkap Qoderi.

Senada dengan itu, Pemkab Banyuwangi menilai Program Banyuwangi Hijau sejak 2023 hingga kuartal 1 tahun 2026 telah menjangkau sekitar 500 ribu target populasi. Hal ini tidak sekadar menghadirkan layanan, tetapi membangun budaya baru dalam pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat.

Program ini mendorong desa untuk menjadi bagian dari solusi pengurangan sampah dan pengendalian pencemaran lingkungan.

Hingga 30 April 2026, program ini telah menjangkau 73 desa di berbagai wilayah di Kabupaten Banyuwangi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyuwangi, Dwi Handajani, menyampaikan, capaian tersebut merupakan hasil dari penguatan layanan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang terus diperluas.

“Banyuwangi Hijau bukan hanya soal pengangkutan sampah, tetapi membangun sistem pengelolaan dari hulu ke hilir. Dengan bertambahnya desa terlayani, kami melihat peningkatan kesadaran masyarakat dalam memisah dan mengelola sampah secara mandiri,” kata Dwi.

Dalam operasionalnya, program Banyuwangi Hijau saat ini didukung oleh 127 pekerja Tempat Pengelolaan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS 3R) Balak, Songgon yang berperan penting dalam proses pengumpulan, pengolahan, dan distribusi sampah.

Dari keseluruhan wilayah terlayani, tercatat total 15.304 ton sampah berhasil dikumpulkan hingga akhir April 2026. Dari jumlah tersebut, 8.548 ton merupakan sampah organik yang telah dikelola melalui berbagai metode pengolahan seperti komposting dan pengolahan berbasis TPS.

Sementara itu, 3.623 ton sampah anorganik berhasil dikelola melalui kegiatan pemilahan, daur ulang, dan kemitraan dengan sektor pengelola material daur ulang.

Perwakilan Project STOP Banyuwangi Hijau, Prasetyo Ibnu Toat, menjelaskan capaian ini tidak terlepas dari konsistensi edukasi dan penerapan sistem pengelolaan sampah berbasis data.

“Kami mendorong pemilahan sampah langsung dari rumah tangga, didukung dengan edukasi berkelanjutan serta pemanfaatan teknologi digital untuk pencatatan dan pemantauan layanan. Partisipasi warga menjadi kunci utama keberhasilan Banyuwangi Hijau,” jelas Prasetyo.

Sebagai informasi, Program Banyuwangi Hijau merupakan inisiatif Pemkab Banyuwangi dengan korporasi Borealis, Austria, Clean Rivers dan Uni Emirate Arab, sebagai upaya mengendalikan sampah, khususnya plastik, melalui pemilahan dan pengolahan terintegrasi.

Program ini menargetkan pengurangan sampah sebesar 30 persen dan penanganan sampah hingga 70 persen.

Fokus utama program meliputi pemilahan sampah rumah tangga, peningkatan kapasitas masyarakat melalui edukasi lingkungan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan efektivitas layanan.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Ikhwan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.