KabarBaik.co, Pontianak– Di tengah gemuruh sorak penonton di GOR Terpadu A. Yani, seorang pemuda berpostur tinggi menjulang dengan nomor punggung 10, yang sudah tak asing di kancah voli nasional berdiri kokoh di net. Blok demi blok, smash demi smash, ia seperti menjadi dinding besi yang tak mudah tergoyahkan.
Namanya Raden Ahmad Gumilar, atau yang akrab disapa Deden. Brigadir Dua (Bripda) Polri ini bukan hanya kerap menyumbang poin krusial bagi Jakarta Bhayangkara Presisi, tapi juga mencatatkan namanya dalam sejarah pervolisn Indonesia sebagai Best Middle Blocker di AVC Men’s Championship League 2026, satu-satunya pemain Indonesia yang meraih penghargaan individu di turnamen tersebut.
Bhayangkara Presisi sendiri menorehkan tinta emas. Menjadi wakil Indonesia pertama yang menjuarai kompetisi klub voli terbaik Asia ini. Dari Garut ke panggung Asia, perjalanan Deden adalah cerita tentang talenta lokal yang terus berlatih, mengejar mimpi.
Lahir pada 21 Maret 2003 di Garut, Jawa Barat – kota yang terkenal dengan dodol dan semangat juangnya – Raden Ahmad Gumilar tumbuh dengan bakat voli yang tak mengalir. Tinggi badannya 196 cm, berat 87 kg, dengan jangkauan spike 340 cm dan blok 330 cm, membuatnya menjadi satu ancaman serius di depan net. Tangan kanannya yang dominan sering kali menjadi momok bagi lawan-lawan.
Deden di masa jeda, kadang memperkuat tim lokal Garut, termasuk di turnamen seperti Dadenpom Cup. Ia kali pertama benar-benar tampak menonjol ketika membela Timnas Indonesia melawan Filipina di Ninoy Aquino Stadium, Manila. Penampilan solidnya di sana membuka mata banyak orang bahwa ada talenta muda yang siap bersaing di level lebih tinggi.
Kini, sebagai bagian dari skuad Jakarta Bhayangkara Presisi di Proliga 2026, Deden bukan hanya pemain biasa. Ia adalah Bripda Polri yang masuk melalui jalur rekrutmen prestasi, bukan jalur reguler. Atas prestasinya di dunia voli, Deden ditugaskan di Polda Metro Jaya. Karena menjadi bagian dari skuad Pelatnas, ia juga diberikan dispensasi khusus oleh kesatuannya sehingga bisa fokus berlatih dan bertanding di level klub maupun tim nasional tanpa meninggalkan tugas kepolisian. Kombinasi disiplin kepolisian dan insting voli kelas dunia ini membuatnya semakin tangguh.
Di AVC Men’s Championship League 2026 yang digelar di Pontianak, Kalimantan Barat, pada 13-17 Mei 2026, ia konsisten tampil gemilang. Statistiknya di beberapa laga menunjukkan kontribusi nyata. Quick tajam, blok presisi, dan servis yang juga sering merepotkan lawan.
Perjalanan Bhayangkara Presisi di turnamen ini penuh drama, ketegangan, dan kejutan. Dari kemenangan perdana hingga menembus final melawan tim kuat seperti Foolad Sirjan Iranian, tim dunia asal Iran ini bermain sebagai satu kesatuan. Deden bersama rekan-rekan middle blocker lainnya membentuk benteng pertahanan yang tidak mudah ditembus, sementara bintang asing seperti Keita Noumory menjadi motor serangan.
Puncaknya, Deden dinobatkan sebagai Best Middle Blocker dalam Dream Team turnamen. Prestasi ini semakin istimewa karena ia menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang mendapat penghargaan individu di tengah dominasi pemain-pemain dari klub top Asia.
Bagi Deden, gelar kali inibtentu bukan sekadar trofi pribadi. Tapi buat Garut, buat Indonesia, dan buat Bhayangkara.
Sebagai anggota Bhayangkara yang direkrut lewat jalur prestasi, disiplin dan mental baja Deden terlihat di lapangan. Ia tak mudah goyah meski di bawah tekanan. Kombinasi tinggi badan ideal, timing blok yang tajam, dan kemampuan membaca permainan membuatnya menjadi salah satu middle blocker paling diandalkan di Indonesia saat ini.
Sebelum gabung dengan Bhayangkara, diasa remaja ia juga pernah memperkuat tim Jakarta BNI 46 dan Jakarta Pertamina. Di usia 23 tahun, Deden masih sangat muda untuk standar voli. Potensinya masih sangat besar, terutama dengan pengalaman bermain bersama pemain-pemain top dunia di Bhayangkara. Prestasi di AVC 2026 ini bisa menjadi batu loncatan menuju panggung yang lebih besar, seperti FIVB Club World Championship.
Kisah Raden Ahmad Gumilar adalah bukti bahwa talenta dari daerah bisa bersaing di level tertinggi jika diberi kesempatan dan bekerja keras. Dari lapangan-lapangan sederhana di Garut hingga sorak ribuan penonton di Pontianak, Deden membawa harapan voli Indonesia.
Bagi para pemuda yang bercita-cita menjadi atlet, tetaplah sederhana. Rendah hati, disiplin kuat, dan tak pernah berhenti melompat lebih tinggi. Si Bripda dengan blok mematikan ini telah membuktikan bahwa mimpi voli Indonesia bisa setinggi jangkauan bloknya – 330 cm, dan terus naik. (“)






