Review Film Pangku: Haru Biru Kasih Tulus Ibu

oleh -809 Dilihat
24a11986 88b5 423c a011 aba849a850aa
Claresta Taufan dan Christine Hakim tampil memukau dalam film “Pangku”. (Foto: Ist)

KabarBaik.co – Di dunia ini, salah satu yang tidak berbatas adalah kasih sayang ibu. Tokoh ibu sekaligus menjadi sosok yang menembus batas dengan pengabdian yang tak membutuhkan balas.

Reza Rahadian membiuskannya lewat ‘Pangku’, debut sinemanya di balik layar. Dengan caranya sendiri, Reza menyajikan Pangku sungguh semenjana, namun sekuat perjuangan ibu membesarkan anak di tengah keterbatasan.

Sartika (Claresta Taufan) lari entah dari mana dalam keadaan hamil tua. Langkah kakinya yang gontai terhempas di kursi warung kopi reyot kawasan pantura. Percakapan singkatnya dengan Maya (Christine hakim), ibu tua penjaga warung meniatkan Tika untuk mengabdi padanya.

Dengan sadar diri, Tika akhirnya bersedia menjadi pelayan warung usai melahirkan. Ia juga putus asa melakoni pekerjaan yang minim penghasilan. Tugas Tika setiap malam duduk di pangkuan laki-laki yang datang ke warung, merayu agar membeli lebih banyak kopi dan rokok.

Di tengah warung pangku dan di antara keringat sopir pelanggan, Tika dengan nalurinya sebagai seorang ibu, membesarkan anaknya, Bayu (Shakeel Fauzi), sebaik mungkin. Bayu tumbuh besar hingga Tika bertemu dengan Hadi (Fedi Nuril).

Hadi yang seorang sopir pengantar ikan kesengsem dengan keayuan Tika. Hubungan mereka semakin intim dan berlanjut melangkah lebih jauh.

Pangku adalah sajian yang tanpa banyak kata menjadi sebuah penegasan hubungan kuat ibu dengan anak tanpa adanya syarat. Tika merasakan Maya adalah ibu baginya meski air tak sekental darah. Begitu juga Bayu yang baginya Tika adalah segalanya meski setiap malam ia selalu mempertanyakan ibunya yang harus dipangku laki-laki yang bukan ayahnya.

Ya, tanpa banyak kata, Reza sengaja tak menjejali Pangku dengan dialog-dialog panjang dan berat sehingga tak banyak dramatisasi terjadi lewat naratifnya dialog. Namun Reza menggantinya dengan simbol-simbol penuh makna, yang menegaskan belas kasih seorang ibu meski jalan kehidupan menodainya.

Kesederhanaan jika tak boleh dibilang kemiskinan menjadi simbol eksplorasi di sini. Tanpa menyebut waktu, kita tahu latar belakang waktu Pangku lewat reporter di TV. Zaman yang menandai perubahan namun harus dibarengi dengan penderitaan.

Lihat betapa senangnya Tika dan Bayu saat mendapat ikan sisa dari Hadi. Betapa lahap mereka menyantapnya. Sebuah lauk mewah yang menyimbolkan kemirisan dalam kemiskinan. Padahal mereka hidup di pantura, di tengah-tengah banyaknya kapal nelayan yang berseliweran.

Setting juga menjadi keunggulan Pangku. Kita diajak melihat lingkungan pantura yang apa adanya tanpa menyebut tempatnya. Di tengah permukiman yang cukup berada, di seberangnya terbentang kehidupan yang tak bisa dibilang sederhana dengan hiruk pikuk dan gelapnya kenyataan di sana.

Betapa gerah kita menyaksikan Pangku dengan keringat dan wajah-wajah kusut, kumal, dan kucel dari para pelakonnya. Kosmetik murah, kamar short time, hingga birokrasi ruwet menjadi gambaran kenyataan yang akrab dengan kaum lapisan bawah.

Pangku hidup lewat simbol-simbol yang dibawakan apik oleh para pelakonnya. Tak ada yang bermain bukan pada tempatnya, semua berlakon sesuai dengan jalurnya. Claresa Taufan benar-benar rapuh saat ia pertama kali datang ke warung Maya, sekaligus kuat saat melakoni kehidupan keras yang tak berpihak padanya.

Christine Hakim seperti biasanya, selalu memainkan ritmenya dengan prima. Dengan sokongan kemampuannya, Pangku serasa lebih hidup dan makin dalam. Begitu juga dengan Fedi Nuril yang awkard dan kehilangan keparasannya seakan ia pahlawan. Belum cukup sampai di situ, sejumlah cameo bertebaran mengisi sisi realitas yang ada.

Pada akhirnya, Pangku adalah persembahan untuk tulusnya ibu berkaca dari kehidupan pribadi sang sutradara. Lagu penutup di ending, sofa bekas, serta sepucuk surat menjadi gambaran kenyataan dan pengingat bahwa kehidupan kita saja saja tidak pernah cukup untuk membalas ikhlas seorang ibu. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.