HANYA dalam empat bulan pertama tahun 2026, cadangan devisa Indonesia telah menyusut lebih dari USD 10 miliar. Dari level USD 154,6 miliar di akhir Januari, posisinya kini tinggal USD 146,2 miliar per akhir April 2026. Anjlok hampir Rp 150 triliun dengan kurs berkisar Rp 17.800 per Dolar.
Angka itu merupakan yang terendah sejak pertengahan 2024, di mana kala itu posisinya sempat menyentuh kisaran USD 140,2 miliar pada Mei 2024 akibat tekanan serupa.
Bank Indonesia (BI) memang masih menyebut posisi cadangan devisa “tetap tinggi” dan setara dengan 5,8 bulan impor. Cukup jauh di atas standar internasional (MF) 3 bulan. Namun, tren penurunan yang konsisten ini memicu kekhawatiran dan pertanyaan besar. Berapa lama lagi “tameng” ekonomi Indonesia ini mampu menahan tekanan pelemahan rupiah yang terus berlanjut?
Penurunan cadangan devisa bukan tanpa alasan. Faktor utamanya antara lain intervensi pasar valuta asing untuk stabilisasi rupiah di tengah ketidakpastian global, pembayaran utang luar negeri pemerintah, arus keluar untuk pajak, jasa, dan dividen.
Rupiah sempat menyentuh rekor terlemah di kisaran Rp 17.800–Rp 17.845 per Dolar AS sepanjang Mei 2026. Tekanan datang dari dolar AS yang kuat, harga minyak dunia yang naik akibat geopolitik Timur Tengah, serta defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD)—kondisi ketika nilai impor barang dan jasa lebih besar dari nilai ekspornya—yang kian memburuk.
Untuk meresponsnya, BI tidak hanya melakukan intervensi, tapi juga menaikkan BI Rate secara mengejutkan sebesar 50 basis points menjadi 5,25% pada pertemuan RDG Mei 2026. Langkah pre-emptive ini bertujuan menarik inflow asing dan meredam imported inflation, yakni lonjakan inflasi di dalam negeri yang dipicu oleh membengkaknya harga barang-barang impor akibat pelemahan nilai tukar—meski efeknya terhadap penguatan rupiah belum terlihat signifikan hingga akhir Mei.
Risiko Jika Tren Berlanjut
Sejumlah Ekonom memperingatkan, jika cadangan devisa terus terkikis tanpa ada perbaikan fundamental seperti penyempitan CAD dan masuknya FDI lebih kuat, maka ruang gerak BI akan semakin sempit.
Kalau cadangan turun terlalu dalam, kepercayaan investor bisa semakin goyah. Rupiah berisiko jatuh lebih bebas, memicu inflasi tinggi dan beban utang dolar korporasi yang membengkak. Dalam skenario ekstrem, situasi ini bisa mengingatkan pada krisis 1998, walaupun fundamental Indonesia saat ini jauh lebih kuat.
Namun, BI optimis. Dengan cadangan yang masih memadai dan berbagai instrumen (SRBI, DNDF, promosi penggunaan rupiah), mereka yakin bisa menjaga stabilitas. Rupiah diprediksi akan cenderung menguat di triwulan III 2026 jika tekanan musiman mereda dan global membaik.
Pelemahan Rupiah dan terkurasnya cadangan devisa datang di saat pemerintahan baru sedang gencar menjalankan program-program ambisius yang butuh dana besar. Ini menjadi ujian berat bagi BI sekaligus pemerintah bagaimana menyeimbangkan antara menjaga stabilitas moneter dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Yang pasti, cadangan devisa yang terus melorot adalah sinyal peringatan dini. Memang bukan akhir dunia, tapi jelas menunjukkan bahwa Indonesia masih rentan terhadap guncangan. Kemampuan BI “membeli waktu” dengan intervensi dan rate hike ada batasnya. Dan, yang paling krusial ke depan adalah memperkuat fundamental domestik agar Rupiah tidak terus bergantung pada “tabungan dolar” BI. (*)






