KabarBaik.co, Surabaya– Pagi seperti biasa, Bu Siti membuka warung tahu-tempenya di sebuah pasar tradisional. Tapi wajahnya tak seluas biasanya. “Dulu satu karung kedelai cukup Rp 550 ribu. Sekarang sudah Rp 650 ribu sampai hampir Rp 700 ribu. Kalau saya naikkan harga tahu, pembeli bilang mahal. Kalau tidak dinaikkan, modal habis duluan. Wong cilik seperti kami yang paling kena getahnya,” keluhnya menata tahu dengan tangannya.
Cerita Bu Siti bukan satu-satunya. Ribuan pedagang kecil, perajin tahu-tempe, pemilik usaha mie ayam kaki lima, pengrajin konveksi, hingga ojek online di berbagai daerah kini merasakan tekanan yang sama. Kurs USD/IDR masih tertahan di kisaran Rp 17.100 – Rp 17.200 per dolar AS dalam sepekan terakhir. Kombinasi pelemahan rupiah yang tak kunjung reda ini dengan gejolak harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah, semakin memukul keras ekonomi wong cilik.
Pelemahan rupiah memicu inflasi impor yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari. Harga kedelai impor yang naik, ditambah bahan baku lain seperti gandum, susu bubuk, kemasan plastik, dan suku cadang mesin, membuat biaya produksi UMKM turut terkerek. Bagi perajin tahu-tempe, kenaikan ini sangat terasa karena 80-90 persen kebutuhan kedelai masih bergantung pada impor.
Di sisi lain, harga BBM nonsubsidi telah ikut menyesuaikan mengikuti dolar tinggi dan fluktuasi minyak global. Meski Pertalite dan Solar subsidi masih dijaga, ongkos angkut naik dan memicu efek domino. Harga beberapa sembako di pasar tradisional mulai merangkak, margin keuntungan usaha kecil pun semakin tipis.
Mengapa Rupiah Sulit Turun?
Tekanan terbesar datang dari faktor global. Investor dunia berlindung ke dolar AS sebagai safe haven di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah dan pasokan minyak. Secara domestik, arus modal keluar (capital outflow) dan kebutuhan impor valas yang tinggi memperburuk situasi.
Bank Indonesia (BI) terus berupaya menstabilkan dengan intervensi di pasar valuta, pembatasan pembelian dolar oleh bank, serta menjaga BI Rate di level yang cukup tinggi. Namun selama sentimen geopolitik dan harga energi belum mereda, rupiah sulit kembali ke bawah Rp 17.000. Sebuah catatan rekor sejak Republik ini berdiri.
Dampak paling berat jelas dirasakan kelompok berpenghasilan menengah ke bawah dan pelaku UMKM. Mengapa? Pertama, 60–70 persen pendapatan mereka habis untuk kebutuhan makan dan transportasi. Mereka tidak memiliki cadangan tabungan dalam dolar atau aset yang bisa menjadi bantalan.
Akibatnya, risiko pengurangan karyawan atau bahkan tutup usaha semakin nyata jika kondisi berlarut-larut. Pemerintah berusaha menahan harga BBM subsidi dan menyiapkan program bantuan sosial. Namun jika rupiah bertahan lama di level ini, beban subsidi energi bisa membengkak dan tekanan inflasi cost-push semakin kuat.
Bu Siti hanya bisa berharap sambil menata dagangannya: “Kami cuma mau dagang biasa, cari makan buat keluarga. Semoga cepat stabil lagi. Kalau begini terus, banyak yang bakal gulung tikar.”
Di balik angka kurs dan grafik harga minyak yang naik-turun di layar monitor, ada ribuan cerita manusia seperti Bu Siti yang berjuang mempertahankan nafkah setiap hari. Stabilisasi rupiah bukan sekadar urusan ekonomi makro, melainkan penentu kelangsungan hidup jutaan keluarga Indonesia. (*)








