KabarBaik.co, Jakarta – Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) bergerak cepat merespons lonjakan harga kemasan plastik dengan menempuh jalur negosiasi intensif bersama para pemasok. Langkah ini dilakukan untuk menahan dampak kenaikan harga agar tidak langsung dirasakan konsumen.
Ketua Umum Hippindo, Budiardjo Iduansjah, mengungkapkan bahwa tekanan harga mulai terasa sejak sepekan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh terganggunya pasokan nafta—bahan baku utama plastik—akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
“Jaringan ritel sudah menerima pemberitahuan kenaikan harga dari supplier. Saat ini negosiasi masih berlangsung untuk mempertahankan harga lama. Jika tidak memungkinkan, kami berupaya agar kenaikan dilakukan secara bertahap,” ujar Budiardjo, Minggu (19/4).
Menurutnya, kenaikan harga dari pemasok untuk berbagai jenis kemasan plastik, seperti kantong belanja dan pembungkus, berada di kisaran 5 hingga 10 persen. Meski tekanan biaya mulai meningkat, Hippindo belum secara resmi mengajukan insentif kepada pemerintah dan masih mengkaji bentuk dukungan yang paling tepat.
“Artinya, kami masih merundingkan opsi insentif atau kemudahan yang bisa dimintakan kepada pemerintah,” tambahnya.
Di sisi lain, pemerintah berharap gejolak harga dapat segera mereda. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menyatakan optimisme bahwa harga plastik dapat terkendali dalam waktu dekat, seiring upaya mencari sumber alternatif impor nafta.
Pemerintah saat ini tengah menjajaki pasokan dari sejumlah negara di luar Timur Tengah, seperti India, Amerika Serikat, dan kawasan Afrika, guna mengurangi ketergantungan terhadap satu wilayah yang rentan terhadap gejolak geopolitik. “Mudah-mudahan harga plastik bisa turun bulan ini,” kata Budi.
Namun demikian, ia mengakui proses pengadaan dari sumber alternatif masih dalam tahap negosiasi dan belum dapat memberikan dampak cepat terhadap stabilisasi harga. Sementara itu, produsen plastik dalam negeri masih mengandalkan stok bahan baku yang tersedia sambil menunggu kepastian pasokan baru.
Kondisi ini menempatkan pelaku ritel dalam posisi strategis untuk menjaga keseimbangan antara tekanan biaya dan daya beli masyarakat. Upaya menahan kenaikan harga di tingkat konsumen pun menjadi kunci di tengah ketidakpastian pasokan global. (*)






