Rusia Gelar Pilpres, dan Jalinan Hubungan Baik dengan Indonesia

Editor: Hardy
oleh -184 Dilihat
Vladimir Putin (kiri) calon presiden Rusia yang sudah berkuasa sejak 2000, (BBC)

KabarBaik.co- Jika Indonesia telah melakukan pemilu pada 14 Februari 2024 lalu, Rusia kini sedang melakukan proses coblosan. Pemilihan presiden (Pilpres). Pemilu di Indonesia hanya sehari. Tapi, di Rusia selama tiga hari, Mulai Jumat (15/3) hingga Minggu (17/3).

Seperti diketahui, Rusia tidak lain salah satu negara pecahan Uni Soviet. Negara Adidaya selain Amerika Serikat (AS). Uni Soviet pecah menjadi 15 negara sejak 26 Desember 1991. Nah, Rusia termasuk salah satu di antaranya. Kini, Rusia sedang dipimpin Vladimir Putin sebagai presiden.

Di Pilpres 2024, Putin kembali mencalonkan diri sebagai presiden. Putin memimpin Rusia sejak 2000. Berarti sudah 24 tahun. Relatif berbeda dengan pilpres di Indonesia, pemilu di Rusia jarang menjadi peristiwa yang menegangkan.

Media-media barat memprediksi, Putin akan kembali terpilih sebagai presiden. Dilansir dari BBC, Outlet berita independen Rusia Meduza melaporkan bahwa Kremlin berharap partisipasi jumlah pemilih kali ini setidaknya mencapai 70 persen, dengan sekitar 80 persen suara untuk Putin. Jumlah ini akan melampaui elektabilitas Putin dalam pemilu sebelumnya, yakni sebesar 76,7 persen pada 2018.

Jumlah pemilih di Indonesia masih jauh lebih banyak dibandingkan di Rusia. Sekitar 112,3 juta warga Rusia akan menggunakan hak pilihnya dalam pemilu kali ini. Angka tersebut termasuk penduduk yang tinggal di wilayah pendudukan Ukraina-Krimea dan sebagian wilayah Donbas, yang diambil alih oleh Rusia pada  2014, juga wilayah lain di timur dan selatan Ukraina yang diduduki sejak Februari 2022.

Baca juga:  Konser Picnic Berujung Panik, Aksi Horor Teroris Tewaskan 133 Orang

Selain itu, sebanyak 1,9 juta warga Rusia yang tinggal di luar negeri akan menggunakan hak pilihnya. Termasuk di Indonesia.

Lantas, siapa saja kandidat dalam pemilu Rusia kali ini? Selain Putin, ada tiga capres lain. Yakni, Leonid Slutsky, seorang konservatif nasionalis, kandidat Partai Komunis Nikolai Kharitonov, dan Vladislav Davankov, seorang pengusaha dari Partai “Rakyat Baru” yang baru didirikan, memiliki perwakilan kecil di majelis rendah parlemen Rusia.

Masih mengutip berita BBC, penantang Putin sebenarnya telah dipenjara, disingkirkan, atau meninggalkan negara tersebut. Lawan terberat Putin adalah Alexei Navalny, meninggal di penjara dengan keamanan tinggi pada Februari.

Pilpres Rusia selama tiga hari tersebut baru kali pertama diuji pada pemungutan suara 2020. Tujuannya kala itu untuk menjaga kesehatan masyarakat selama pandemi Covid-19. Proses tiga hari kembali diterapkan lagi pada 2024, walaupun para pengamat independen mengkritiknya. Hal tersebut dinilai akan mempersulit upaya memastikan transparansi proses pemungutan suara.

Baca juga:  Ernando Jadi Pahlawan, Timnas Indonesia Ukir Sejarah Baru, Sukses Tekuk Austalia
Acara perayaan 74 tahun hubungan diplomatik Indonesia dengan Rusia di KBRI Moskow, Februari 2024 lalu. (Capture website Kemenlu RI)

Hubungan Indonesia-Rusia

Hubungan Indonesia dengan Rusia terjalin sejak era kolonial Belanda. Pada masa itu, Indonesia yang masih bernama Hindia Belanda, menjadi salah satu mitra dagang utama Rusia. Hubungan diplomatik formal baru terjalin di era Presiden Soekarno, pada 1950, setelah Indonesia merdeka. Uni Soviet, sebelum pecah menjadi Rusia dan negara lain, menjadi salah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia.

Dikutip dari website Kemenlu RI, pada Rabu (7/2/2024) KBRI Moskow bersama Friendship Society with Indonesia (FSWI) menggelar perayaan 74 tahun pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dan Rusia, bertempat di Restoran Caspian di kawasan elit Stariy Arbat, Moskow.

Jose Antonio Morato Tavares, Dubes RI untuk Rusia, dalam sambutannya menjelaskan, persentuhan Rusia dengan Indonesia dimulai saat Tsar Nicholas II berkunjung ke Hindia Belanda dan menugaskan Modest Bakunin sebagai Konsul Jenderal pertama dan satu-satunya Rusia di Batavia pada 1894. “Pada 1946 wakil Uni Soviet mengangkat Indonesia’s Question di Dewan Keamanan (DK) PBB yang berujung pada pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia,” ujarnya.

Selanjutnya, Menlu Republik Indonesia Serikat (RIS) Muhammad Hatta pada 3 Februari 1950 membalas positif telegram Menlu Uni Soviet Andrey Vysinsky yang memberi pengakuan atas kemerdekaan Indonesia dan undangan menjalin hubungan diplomatik. Pada 1954, kedua negara me,buka kantor perwakilan diplomatik di masing-masing negara.

Baca juga:  Rekapitulasi Nasional 33 Provinsi KPU RI, Suara Prabowo-Gibran Tembus 58,48 Persen

Ada berbagai landmark peningalan Uni Soviet di Indonesia, seperti Rumah Sakit Persahabatan, Stadion GBK Senayan, Jalan Raya Tangkiling di Palangkaraya, Pabrik Krakatau Steel di Cilegon. Lalu, patung Yuri Gagarin yang menjadi saksi bisu kedekatan hubungan kedua negara selama 74 tahun.

Adpaun kerjasama perdagangan, hingga November 2023 nilainya mencapai USD.3,05 miliar dengan komoditas perdagangan bilateral antara lain gandum, pupuk, CPO, karet alam, dan lainnya. Untuk realisasi investasi Rusia di Indonesia pada 2023 mencapai USD 114,1 juta di 3.965 proyek yang menempatkan Rusia sebagai investor ke-23 terbesar di Indonesia.

Sementara itu, angka kunjungan warga Rusia hingga November 2023 mencapai 143.485 orang atau 1,38 persen dari total turis ke Indonesia, yang berjumlah 10.409.411 orang. Turis Rusia menempati peringkat ke-5 turis Eropa terbanyak setelah Inggris, Jerman, Prancis, dan Belanda. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News


No More Posts Available.

No more pages to load.