Saksi Sejarah Bantah Tuduhan Palsu Makam Mbah Dirjo: Bukan Boneka, Beliau Pasukan Diponegoro

oleh -128 Dilihat
WhatsApp Image 2026 04 28 at 12.33.27 PM
Saksi Sejarah Khoirul Ambiya saat menjelaskan asal usul makam yang dikira makam boneka (Achmad Adi Nurcahya)

KabarBaik.co, Sidoarjo – Tudingan miring yang menyebut Makam Mbah Dirjo Joyo Ulomo di Ngelom, Sepanjang, hanya berisi boneka tanah liat dan Alquran dibantah tegas oleh saksi sejarah. Isu tersebut dinilai tidak berdasar dan memicu kegaduhan di tengah masyarakat.

Sosok Mbah Dirjo bukanlah figur sembarangan. Ia diyakini sebagai bagian dari pasukan Pangeran Diponegoro asal Mataram yang melarikan diri dari kejaran Belanda. Dalam pelariannya, ia kemudian nyantri kepada Mbah Raden Ali di Ngelom dan mengabdikan hidupnya untuk merawat keturunan sang guru.

Sejarawan sekaligus warga asli Sepanjang, Khoirul Ambiya, menjadi saksi kunci yang membantah tuduhan tersebut. Ia mengaku terlibat langsung dalam pembongkaran makam pada tahun 2025 untuk memastikan kebenarannya.

“Saya saksi langsung. Kami gali makam itu sampai kedalaman lebih dari 1,5 meter. Tidak ditemukan boneka sama sekali. Yang ada hanya batu nisan atau maesan berhias kelereng, dan bukti videonya masih ada,” tegas Ambiya kepada KabarBaik.co, Selasa (28/4).

Menurut Ambiya, tuduhan bahwa makam tersebut berisi boneka dan Alquran merupakan penggiringan opini yang menyesatkan dan tidak memiliki dasar fakta.

Pembongkaran makam oleh pihak tidak bertanggung jawab juga memicu penolakan keras dari sebagian warga. Mereka menilai tudingan tersebut sebagai bentuk pelecehan terhadap ulama dan tokoh yang selama ini dihormati.

Sebagai bentuk protes, Saifudin selaku ahli waris dari keluarga almarhum Haji Asnan sempat melaporkan kejadian tersebut. Ia juga membawa surat ahli waris sebagai bukti kepemilikan yang telah dimiliki keluarganya sejak lama, meski diakui masih memiliki kelemahan secara administrasi karena tidak dilengkapi segel resmi.

“Iya, kemarin saya sempat lapor kepolisian membawa surat ahli waris sejak tahun 1982, saya selaku ahli waris dari almarhum Bapak saya, yaitu Pak Haji Asnan. Lahan itu dulu tukar guling dengan pemerintah daerah untuk fasilitas umum. Makanya keluarga tidak keberatan asal sesuai dengan aturan yang ada,” ujar Saifudin.

Senada dengan itu, Moh Dahlan yang merupakan paman Saifudin menegaskan pentingnya menjaga hak-hak ahli waris sekaligus menghormati nilai sejarah yang melekat pada lahan tersebut.

“Tanah itu memang hak milik keluarga besar. Terus ada program dari pemerintah daerah untuk pelebaran atau pemindahan pasar itu. Saya hanya pesen, apa yang jadi hak-hak ahli waris ya mohon diperhatikan termasuk adanya makam tersebut, karena niku itu sejarah keluarga,” tambah Moh Dahlan.

Dengan adanya klarifikasi dari saksi sejarah dan ahli waris, masyarakat diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum tentu benar. Makam Mbah Dirjo bukan sekadar situs religi, melainkan bagian dari jejak sejarah perjuangan yang patut dihormati dan dijaga bersama. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.