KabarBaik.co, Surabaya – Menyambut Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) yang ke-733, Pemkot Surabaya menggelar Ruwatan Kota dan Pagelaran Wayang Kulit di halaman Tugu Pahlawan. Acara budaya yang berlangsung mulai pukul 18.00 WIB ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus langkah nyata menjaga warisan budaya Jawa, di tengah gempuran dan derasnya arus digitalisasi yang semakin meluas.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan kirab budaya dan prosesi ruwatan, yang kemudian dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit menghadirkan lakon Dewa Ruci. Satu hal yang menjadi daya tarik tersendiri dalam pertunjukan ini adalah keterlibatan dalang anak, yang menjadi simbol nyata upaya regenerasi dan keberlanjutan seni tradisi di kalangan generasi muda.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, Fauzie Mustaqiem Yos, menyampaikan bahwa ruwatan kota bukan sekadar seremoni tahunan rutin. Kegiatan ini dipandang sebagai ikhtiar budaya untuk menjaga keselamatan, keharmonisan, serta mempertegas jati diri atau identitas Surabaya.
“Kegiatan ruwatan ini merupakan ungkapan rasa syukur atas keberkahan dan keselamatan yang telah diberikan bagi Kota Surabaya dan seluruh warganya. Selain itu, ini adalah upaya aktif dan kreatif kami untuk menjaga kelestarian budaya, adat istiadat, dan tradisi lokal agar tetap hidup dan dikenal,” ujar Yos, sapaan akrabnya, Minggu (24/5).
Dalam tata nilai dan tradisi Jawa, ruwatan dikenal sebagai ritual sakral yang bertujuan membuang segala sengkala atau hal-hal buruk, agar masyarakat terhindar dari bencana dan mara bahaya. Melalui prosesi ini, diharapkan seluruh warga dan kota Surabaya senantiasa memperoleh keselamatan, kesejahteraan, ketentraman, serta kehidupan yang rukun dan harmonis.
Pemkot Surabaya secara khusus memilih Tugu Pahlawan sebagai lokasi pusat kegiatan. Tempat ini dinilai sangat tepat karena merupakan simbol kebanggaan dan titik sentral Kota Pahlawan. Selama ini, kegiatan serupa seperti sedekah bumi maupun ruwatan umumnya lebih banyak dilaksanakan di tingkat kampung, Rukun Warga (RW), maupun kelurahan.
“Tahun ini kami pusatkan di Tugu Pahlawan agar masyarakat dari berbagai penjuru bisa menikmati bersama, serta merasakan semangat kebudayaan yang lebih luas dan menyatukan kita semua,” tambah Yos.
Lebih dari sekadar seremoni budaya, acara ini juga menjadi wadah kolaborasi yang indah lintas komunitas seni dan budaya. Sebanyak 400 peserta terlibat aktif dalam kirab budaya tersebut, mengenakan beragam busana adat Nusantara sambil mengusung gunungan dan sesaji khas ruwat bumi Surabaya.
Para peserta berasal dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari jajaran Pemkot Surabaya, Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi), Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), beragam komunitas budaya, sanggar tari, para budayawan, seniman, hingga warga masyarakat umum. Pemkot juga mengundang pelaku dan pemerhati budaya dari daerah tetangga seperti Gresik dan Sidoarjo.
Berbagai komunitas pun turut ambil bagian, antara lain Komunitas Anom Suroto Fans Club (KAS FC) Jawa Timur, Roemah Bhineka Surabaya, Warga Macapat Jawi Wetan, Padma Seni Budaya Nusantara (Paseban), Perhimpunan Inti Surabaya, Paguyuban Penata Acara Nusantara (Papan), Komunitas Surya Sumirat, Komunitas Jiwa Nusantara, Paguyuban Ngajeni Sedulur, hingga Waras Surabaya.
“Selain kirab budaya, acara juga dimeriahkan dengan pembacaan kidung suci, ujub sesaji, pembacaan mantra Rajah Kalacakra, hingga prosesi pemotongan tumpeng yang menjadi simbol rasa syukur dan kebersamaan seluruh warga,” jelas Yos lagi.
Pihaknya sengaja mengemas kegiatan ini dengan konsep yang lebih terbuka dan merakyat. Hal ini dilakukan agar generasi muda dapat mengenal dan merasakan budaya lokal secara langsung, bukan hanya sekadar melihat atau membaca lewat layar media digital.
“Anak-anak muda sekarang memang lebih akrab dan dekat dengan dunia digital. Karena itu, kami ingin mengenalkan bagaimana tradisi itu dijalankan secara nyata, langsung, dan dengan cara yang tradisional, supaya mereka paham dan bangga,” terang Yos.
Seluruh rangkaian kegiatan ini dibuka untuk umum secara gratis dan tanpa dipungut biaya sepeser pun. Melalui kegiatan ini, Pemkot Surabaya berharap tradisi ruwatan dapat menjadi ruang edukasi budaya yang berharga, sekaligus semakin memperkuat identitas Surabaya sebagai kota metropolitan modern yang tidak pernah melupakan akar dan kekayaan tradisinya. (*)








