Sebelum Meninggal Dunia, Santri Banyuwangi Korban Penganiyaan Sempat Minta Tolong ke Keluarga

oleh -3570 Dilihat
Isi chat santri Kediri asal Banyuwangi dengan keluarga

kabarbaik.co – Sebelum meninggal dunia, BBM (14) sempat meninggalkan pesan kepada keluarganya di Afdeling Kampunganyar, Dusun Kendenglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.

Pesan itu berisi permintaan untuk dipulangkan dari pondok tempat ia belajar yang berada di Kecamatan Mojo, Kota Kediri.

“Sini jemput Bntang,” kata korban dalam chatnya.

Keluarga sempat meminta si Anak bersabar. Keluarga berjanji akan menjemput selepas Ramadan.
Namun dengan tegas si Anak menolaknya.

Keluarga sempat memberi pesan motivasi. Bahkan dengan berbagai bujuk rayu, termasuk memberikan sepeda motor ketika lulus sekolah.

Akan tetapi sepertinya santri ini sudah dalam keadaan ketakutan. Dia tetap keukeh meminta agar keluarga segera menjemputnya.

“Gak. Cepat Ma ke sini,” ujar BBM dalam chattingnya.

Dalam pesannya kepada keluarga, santri korban ini sempat mengaku ketakutan. Namun dia tidak menjelaskan apa yang membuatnya takut.

“Cepet sini. Aku takut maaa. Maaa tolonggh. Sini cpettt jemput,” ujarnya lagi.

Keluarga tak menduga ternyata itu adalah pesan terakhir yang diutarakan korban. Pada Sabtu (24/2/2024), santri korban ini benar-benar pulang.

Akan tetapi ia pulang dalam keadaan kaku tak bernyawa. Kepulangannya menyisakan tangis mendalam bagi keluarga.

Ditambah, santri korban ini meninggal dunia dengan kondisi penuh luka di sekujur tubuhnya. Ia diduga menjadi korban penganiayaan oleh sejumlah santri senior di ponpes tersebut.

Kakak korban, Mia Nur Khasanah (20) melihat jenazah adiknya dalam kondisi tidak lazim. Setelah jenazah dikeluarkan dari mobil, di situ lah kecurigaan keluarga mulai muncul.

Kala itu darah terus mengucur dari keranda yang membawa jasad korban. Berawal dari itulah kemudian keluarga meminta jasad korban dibuka.

Permintaan keluarga awalnya sempat dirintangi oleh FTH, sepupunya. Yang ikut mengantarkan jenazah bersama rombongan pesantren yang berjumlah empat orang, lima orang termasuk FTH.

“Kata sepupu saya, jenazahnya sudah suci. Jadi gak perlu dibuka (kain kafan) itu. Tapi kami tetap ngotot karena curiga adanya ceceran darah keluar dari keranda. Di situ perasaan saya dan ibu campur aduk,” ungkap Mia.

Desakan keluarga ditambah tetangga yang ikut menyambut kedatangan jenazah tak mampu ditolak FTH termasuk pihak pesantren. Hingga kemudian terperangah pihak keluarga melihat kondisi jenazah.

“Astaghfirullah. Luka Lebam di sekujur tubuh ditambah ada luka seperti jeratan leher. Hidungnya juga terlihat patah. Tak kuasa menahan tangis. Ini sudah pasti bukan jatuh tapi dianiaya,” tambah Mia.

Mia menambahkan, tak hanya luka tersebut sejumlah luka sundutan rokok terlihat di kaki korban. Jumlahnya lebih dari satu. Termasuk satu luka pada dada yang menurutnya seperti berlubang.

Karena dinilai janggal, keluarga kemudian melaporkan insiden ini ke polisi. Kasus ini pun masih didalami oleh pihak kepolisian.

Sementara Kasat Reskrim Polresta Banyuwangi, Kompol Andrew Vega mengatakan kasus ini tengah ditangani oleh Polres Kediri Kota.

Sebelumnya jenazah korban sempat diautopsi di RSUD Blambangan. Namun hasilnya langsung diserahkan ke Polres Kediri Kota untuk diselidiki lebih lanjut.

“Ya hasilnya benar memang ada luka, tapi untuk mengungkap adanya penganiayaan atau tidak menunggu penyelidikan dari Polres Kediri,” terangnya.

Informasi baru yang berhasil dihimpun, Polres Kediri Kota saat ini telah mengamankan 4 orang santri yang diduga menjadi tersangka penganiaayan. Kasus ini masih didalami lebih lanjut.(ikhwan)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.