KabarBaik.co, Jakarta– Senator asal Jawa Timur Ahmad Nawardi memberikan respon cepat terhadap capaian kinerja ekonomi Jawa Timur sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026 yang tumbuh meyakinkan sebesar 5,33% (ctc). Angka ini tercatat melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11%.
Menanggapi rilis data Asset and Liability Committee (ALCo) APBN KiTa Regional Jawa Timur yang disampaikan oleh perwakilan Kemenkeu Jatim di Surabaya, Senin (30/3), Nawardi menyatakan bahwa dominasi Jawa Timur sebagai penyumbang 14,40% ekonomi nasional merupakan bukti bahwa Jatim adalah motor penggerak utama ekonomi Indonesia.
“Kita patut memberikan apresiasi atas sinergi seluruh unit vertikal Kemenkeu di Jawa Timur. Pertumbuhan 5,33 persen ini mencerminkan industri pengolahan kita tetap tangguh sebagai penopang utama ekonomi, meski tantangan global masih membayangi,” ujar Senator yang juga menjabat sebagai Ketua Komite IV DPD RI tersebut.
Meski pertumbuhan makro menunjukkan tren menggembirakan, Senator yang akrab disapa Cak Nawardi ini memberikan catatan khusus pada aspek kesejahteraan di tingkat akar rumput. Ia mencermati Nilai Tukar Petani (NTP) Jatim yang mencapai 119,92 tertinggi di antara provinsi lain di Pulau Jawa.
“Kenaikan NTP ini sangat positif, terutama karena didorong oleh kelompok sayur-sayuran. Namun, saya mengingatkan agar pemerintah tetap waspada terhadap inflasi pangan. Data Februari mencatat inflasi 4,88 persen (yoy), dengan kontribusi besar dari harga telur dan daging ayam,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa seiring dengan peningkatan permintaan menjelang awal bulan Ramadan, ketersediaan stok pangan dan stabilisasi harga harus menjadi prioritas agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
Mencermati realisasi pendapatan negara yang mencapai Rp 37,05 triliun hingga akhir Februari, Nawardi mendorong optimalisasi di sektor industri pengolahan yang menyumbang 56,2% dari total penerimaan pajak.
Sebagai representasi daerah, Ahmad Nawardi menegaskan komitmennya untuk terus mengawal penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) yang realisasinya sudah mencapai Rp 14,87 triliun atau 17,44% dari pagu.
“Fokus kami di DPD RI adalah memastikan dana transfer ini segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di pelosok Jawa Timur. Fundamental ekonomi Jatim sudah solid, sekarang tugas kita adalah memastikan pertumbuhan ini benar-benar dirasakan hingga ke tingkat desa,” pungkasnya. (*)






