Sutradara Legendaris Film Soerabaia 45 dan Saur Sepuh Berpulang di Usia 80 Tahun

oleh -94 Dilihat
IMAM THANTOWI

INGATAN tentang sosok Brama Kumbara, pertempuran Surabaya, dan kisah Tukang Bubur Naik Haji datang dari zaman yang berbeda. Namun, ada satu nama yang berada di belakang cerita-cerita itu. Ya, Imam Tantowi.

Sutradara dan penulis skenario senior tersebut telah meninggal dunia di Karawaci, Tangerang, Banten, Jumat (21/8) petang. Almarhum mengembuskan napas terakhir pada usia 80 tahun akibat komplikasi penyakit jantung yang telah berdampak pada organ vital lain, termasuk paru-paru.

Kabar tersebut disampaikan keluarga dan telah dikonfirmasi Humas Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi), Evry Joe. Sebelum meninggal, Imam masih menjalankan ibadah di rumah duka. Dia sempat menunaikan salat Asar dan Magrib sebelum akhirnya dinyatakan berpulang.

Kepergian Imam menutup perjalanan seorang pekerja seni yang hidup bersama perubahan besar industri hiburan Indonesia. Memulai karier ketika panggung teater masih menjadi salah satu ruang penting bagi seniman muda, kemudian masuk ke film, menyaksikan pasang surut perfilman nasional, berpindah ke televisi, dan tetap menulis ketika generasi penonton berubah.

Lahir di Slawi, Tegal, pada 13 Agustus 1946. Artinya, delapan hari sebelum meninggal, telah genap berusia 80 tahun.

Imam tidak langsung berada di kursi sutradara. Pada dekade 1960-an, dia aktif di teater sebagai aktor sekaligus sutradara. Pengalaman itu membawanya masuk ke industri film pada awal 1970-an. Ia mengerjakan berbagai pekerjaan di belakang kamera, antara lain dekorasi dan tata artistik, sebelum menjadi asisten sutradara.

Katalog Festival Film Indonesia mencatat, Imam masuk ke dunia film pada 1971 melalui Biarkan Musim Berganti sebagai dekorator. Kemudian bekerja sebagai penata artistik dan belajar dari sejumlah pembuat film, antara lain Nya’ Abbas Akup dan Asrul Sani. Pada 1977 , Imam menjadi asisten sutradara dalam Jalal Kawin Lagi.

Pengalaman lintas bidang itu menjadi modal ketika pada 1982 mulai menyutradarai film. Pada masa itu, perfilman Indonesia sedang melahirkan banyak film laga dan petualangan yang menjadi tontonan populer. Imam menemukan wilayahnya sendiri di sana.

Tetapi Imam tidak sekadar membuat film untuk hiburan. Sejumlah karyanya menunjukkan ketertarikan pada sejarah dan tokoh-tokoh yang telah lebih dahulu hidup dalam ingatan masyarakat.

Soerabaia 45, Saur Sepuh dan Piala Citra

Salah satu pencapaian pentingnya datang melalui Soerabaia 45. Film tersebut membawa kisah pertempuran Surabaya ke layar lebar. Imam menyutradarai sekaligus menulisnya, dan pada Festival Film Indonesia (FFI) 1991 meraih Piala Citra untuk kategori Sutradara Terbaik.

Film tersebut berangkat dari keinginan Pemda Jatim ketika itu untuk memperkuat identitas Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Di mana tiap 10 November diperingati secara nasional. Pemda pun menunjuk Imam Tantowi sebagai sutradara. Film ini dibuat besar-besaran dengan pendanaan dari Pemda dan BPD Jatim.

Film Soerabaia 45 sendiri mengisahkan konflik di Surabaya sejak dari kedatangan Sekutu hingga masa ketika pasukan republik mesti menyingkir ke luar kota setelah bertahan selama 23 hari. Berdurasi 123 menit, film yang diproduksi PH Inter Pratama Studio dan Cinema City Studio ini dirilis tahun 1990.

Dua tahun sebelumnya, Imam sudah mendapatkan Piala Citra Penulis Cerita Asli Terbaik melalui Si Badung. Penghargaan tersebut memperlihatkan dua kekuatan yang berjalan beriringan dalam kariernya. Yakni, kemampuan membangun cerita dan menerjemahkannya ke dalam gambar.

Nama Imam kemudian semakin dikenal melalui film-film laga dan kolosal, termasuk Saur Sepuh dan Fatahillah. Produksi Saur Sepuh menjadi salah satu pengalaman yang terus dikenang orang-orang yang terlibat di dalamnya. Film tersebut dibuat dengan ambisi menghadirkan dunia yang sebelumnya populer melalui sandiwara radio ke layar lebar dalam skala besar.

”Selalu setiap saya ke kantor PH film Saur Sepuh, produser meminta saya untuk berdoa, “ kata Imam Tantowi semasa hidup dalam sebuah dialog. Imam menerangkan beban mental yang dialami lebih besar daripada sang produser. “Saya membawai ribuan pemain dengan biaya produksi film sekitar satu setengah miliar,” lanjutnya.

Padahal, lanjut dia, ketika itu biaya produksi film biasa rata-rata hanya sekitar Rp 250 juta. Saat film Saur Sepuh tayang perdana, ternyata animo penonton membeludak. Tayang baru jam 17.00, jam 14.00 penonton sudah antre di gedung bioksop.

”Saking membludagnya penonton sampai ada penambahan jam penayangan, yaitu jam 12 malam main dan jam dua dini hari,” kenan Imam ketika itu.

Namun, keuntungan tidak banyak. Sebab, biaya produksinya juga besar.  Baru pada sekuel film Saur Sepuh III karena biaya produksi sudah mulai diatur. ”Kenapa dibuat besar-besaran sampai saya perlu mendatangkan seribu kuda dan juga pasukan gajah, tapi mau bagaimana lagi agar film Saur Sepuh ekspektasinya bisa melebihi sandiwara radionya. “ tandasnya kala itu.

Ketika perfilman nasional memasuki masa yang sulit, Imam tidak berhenti bekerja. Televisi menjadi ruang berikutnya untuk mengembangkan kemampuan bercerita. Dia memperoleh Piala Vidia sebagai penulis cerita asli terbaik melalui sejumlah karya. Di antaranya Madu Racun dan Anak Singkong pada 1994, Jejak Sang Guru pada 1995, dan Suami-Suami Takut Istri pada 1996.

Di televisi pula muncul salah satu cerita yang kelak sangat dikenal masyarakat. Yakni, Tukang Bubur Naik Haji. Cerita tersebut pada mulanya dikembangkan untuk tayangan FTV sebelum kemudian menjadi sinetron Tukang Bubur Naik Haji the Series, yang mulai tayang pada 2012.

Kisah tersebut memperlihatkan sisi lain Imam. Setelah bertahun-tahun dikenal melalui perkelahian, peperangan dan cerita sejarah, ternyata juga mampu bekerja dengan konflik rumah tangga dan kehidupan sosial yang dekat dengan keseharian penonton.

Kemampuan berpindah genre dan medium itulah yang membuat filmografinya sulit ditempatkan hanya sebagai milik satu periode.

Masih Bicara tentang Film di Usia Senja

Pada 2024, ketika usianya telah mencapai 78 tahun, Imam menerima penghargaan Lifetime Achievement Festival Film Indonesia. Penghargaan tersebut seperti penanda atas perjalanan yang telah dimulainya lebih dari lima dekade sebelumnya.

FFI mengenang Imam sebagai pembelajar dan kreator yang menghasilkan karya yang dikenang lintas generasi. Dewan Kesenian Jakarta juga menyampaikan penghormatan atas kontribusinya bagi perkembangan seni dan perfilman Indonesia.

Bagi orang-orang yang pernah bekerja bersamanya, kenangan tentang Imam tidak hanya berhenti pada judul film. Ada sosok pekerja lapangan yang mengetahui bagaimana sebuah produksi harus dijalankan. Ada penulis yang memahami bahwa cerita populer harus memiliki daya tarik bagi penonton. Dan ada sutradara yang berani mengambil risiko ketika sebuah cerita membutuhkan skala produksi yang besar.

Bahkan setelah menerima penghargaan seumur hidup, Imam masih berbicara tentang film dan mengenang pekerjaannya.

Barangkali itu yang paling tepat menggambarkan Imam Tantowi, seorang pembuat cerita yang tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia yang membesarkannya.

Karya seorang sutradara tidak hanya tersimpan dalam daftar filmografi. Namun, tinggal dalam ingatan penonton. Bagi sebagian orang, Imam Tantowi adalah nama di balik Soerabaia 45. Bagi generasi lain, ia sutradara Saur Sepuh, dengan Brama Kumbara dan dunia kolosal yang pernah memenuhi layar. Bagi penonton televisi, namanya mungkin hadir melalui cerita Tukang Bubur Naik Haji.

Judul-judul itu berasal dari masa yang berbeda. Penontonnya pun tidak sama. Tetapi semuanya menunjukkan satu hal bahwa cerita yang dikerjakan Imam berhasil melewati usia penciptanya. Imam Tantowi meninggal pada usia 80 tahun. Meninggalkan dunia perfilman Indonesia yang telah berubah berkali-kali sejak kali pertama menginjakkan kaki di dalamnya pada awal 1970-an.

Namun, beberapa cerita yang pernah dibuatnya masih berjalan. Dan, selama cerita-cerita itu masih ditonton, dikenang, atau diceritakan kembali, nama Imam Tantowi akan tetap berada di sana.  Semoga husnul khotimah. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.