KabarBaik.co, Teheran – Di sebuah tayangan video, Fatemeh, 62, tampak menata butiran gandum hijau yang baru tumbuh (Sabzeh) ke atas meja kayu tua dengan perlahan. Di sampingnya, terselip sebuah buku doa yang terbuka dan sebuah sajadah yang baru saja tampak disetrika. Itulah rangkaian dari tradisi Nowruz di Iran.
Tahun 1447 Hijriah ini, kalender seolah sedang melukis takdir yang langka. Untuk kali pertama dalam puluhan tahun, fajar Idul Fitri akan menyingsing tepat saat matahari musim semi Nowruz melintasi garis khatulistiwa pada 20 Maret 2026. Namun, bagi Fatemeh dan jutaan warga Iran lainnya, kegembiraan ganda itu datang dengan rasa getir yang menusuk di bawah bayang-bayang agresi brutal AS-Isreal yang berkecamuk.
Nowruz secara harfiah berarti “Hari Baru”. Simbol kelahiran kembali yang telah dirayakan bangsa Persia selama lebih dari 3.000 tahun. Berakar dari tradisi Zoroastrianisme, Nowruz melambangkan kemenangan cahaya atas kegelapan. Legenda Raja Jamshid dalam kitab Shahnameh menceritakan bagaimana ia membangun takhta yang bersinar secerah matahari untuk mengusir musim dingin yang mematikan, sebuah metafora kuno tentang asa yang kini terasa nyata di tengah konflik.
Karena nilai-nilai universal tentang perdamaian, UNESCO pun menetapkan Nowruz itu sebagai warisan budaya takbenda manusia. Namun, tahun ini, harum bunga melati musim semi harus bercampur dengan bau asap mesiu.
Sentuhan Lebaran: Tradisi Bermaaf-maafan
Bagi masyarakat Indonesia, suasana di Iran di momentum itu akan terasa sangat akrab. Seperti tradisi mudik dan silaturahmi di tanah air, warga Iran mengenal Did-o-Bazdid. Sebuah momen di mana yang muda mendatangi yang tua, saling berpelukan, dan menebus khilaf dalam setahun terakhir.
Di Indonesia ada tradisi sungkeman, kemudian mengucapkan “Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Nah, di Iran, mereka saling mencium pipi dan mengucapkan “Eidi” saat memberikan hadiah uang kepada anak-anak.
Namun, tahun ini, ritual saling memaafkan tersebut sepertinya terasa lebih emosional. Di tengah agresi, setiap pelukan silaturahmi bisa jadi dan seolah-olah menjadi pesan perpisahan, sekaligus penguat jiwa. Mereka bermaafan bukan hanya karena mewarisi tradisi, tapi karena menyadari bahwa esok adalah misteri yang kini terancam oleh dentuman meriam.
Menanam Bunga di Atas Reruntuhan
Sejarah bangsa Persia adalah sejarah tentang ketangguhan (resilience). Negeri ini telah melewati penaklukan Alexander Agung hingga gejolak revolusi. Setiap kali badai datang, identitas budaya mereka selalu menjadi benteng pertahanan terakhir. Ritual Chaharshanbe Suri—melompati api untuk membuang kesialan—kini dilakukan dengan makna yang lebih dalam, membakar rasa takut.
Puncak drama spiritual bagi warga Iran sepertinya bakal meledak pada sujud-sujud panjang di lapangan terbuka. Jutaan pasang tangan diperkirakan akan tengadah dalam doa/qunut Idul Fitri yang paling kolosal. Di tengah gempuran, doa bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan senjata metafisika.
Khutbah-khutbah dari atas mimbar boleh jadi bakal menggetarkan tiang-tiang langit. Ada keyakinan yang mengalir di sela-sela takbir, bahwa ketika kezaliman manusia telah melampaui batas, semesta tidak akan tinggal diam. Di balik kepulan asap ledakan, masyarakat menggantungkan harapan pada rahasia “Kun Fayakun”: Jadilah, maka jadilah ia.
Jika Tuhan menghendaki fajar musim semi ini sebagai titik balik berakhirnya penindasan, maka tak ada kekuatan manapun yang mampu menghalanginya.
Harapan di Ujung Sajadah
Mungkin tidak akan ada kembang api yang berlebihan pada Lebaran tahun ini. Uang hadiah yang biasanya untuk berpesta, kini banyak dialihkan ke kotak-kotak bantuan kemanusiaan. Saat matahari terbenam di ufuk Teheran pada hari pertama musim semi ini, dunia terus akan menyaksikan sebuah perlawanan sunyi.
Bahwa martabat sebuah bangsa tidak ditentukan oleh kekuatan senjatanya, melainkan oleh seberapa kuat mereka menjaga cahaya di meja Haft-Sin dan ketulusan doa di atas sajadah mereka. Musim semi di Iran bukan sekadar pergantian cuaca, ia seperti sebuah janji bahwa kehidupan—dan maaf—akan selalu menemukan cara untuk tumbuh kembali. (*)







