Tanpa Adegan Campur, Santri Darul Ulum Berani Angkat Isu Perempuan di Panggung Pesantren

oleh -57 Dilihat
WhatsApp Image 2026 02 15 at 11.19.35 AM
Pentas Teater Pitulikur di Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Jombang (istimewa)

KabarBaik.co, Jombang – Sorot lampu menggantung di langit-langit Aula Asrama Al Furqon, Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Jombang. Panggung tak sekadar menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga ruang perenungan.

Di bawah cahaya yang menyempit, seorang gadis duduk dengan tubuh terikat pita merah. Meski ruang geraknya terbatas, suaranya menggema lantang menolak tunduk. Dialah Asih, tokoh sentral dalam lakon “Iswara” yang dipentaskan Teater Pitulikur.

Adegan tersebut menjadi klimaks yang membekas bagi penonton. Pita merah menjadi simbol batas, tekanan, sekaligus kungkungan. Namun dari keterikatan itu lahir perlawanan.

Para pemeran bukan aktor profesional. Mereka adalah santri Asrama Al Furqon, mulai jenjang MTs, SMP, MA hingga SMA. Dengan busana panggung sederhana, mereka berani mengangkat isu besar tentang ketidakadilan terhadap perempuan.

Kisah Perlawanan dari Dalam Rumah

Lakon “Iswara” mengisahkan Asih, putri seorang kepala desa yang terpandang namun otoriter. Sang ayah digambarkan memandang pendidikan perempuan sebagai sesuatu yang tak perlu diperjuangkan.

Bagi Asih, rumah justru menjadi arena pertama pertarungan gagasan. Ia memimpikan sekolah bagi anak-anak desa, sebuah langkah yang dianggap melawan adat dan “kodrat”.

Konflik berkembang dari ruang keluarga ke ruang publik. Tekanan datang dari keluarga dan lingkungan sekitar. Dialog demi dialog menyinggung soal hak, pilihan hidup, hingga tafsir peran perempuan di tengah budaya patriarki.

Penonton tak hanya menyaksikan cerita, tetapi juga diajak merefleksikan realitas sosial.

Tanpa Adegan Campur di Panggung

Ada konsep berbeda dalam pementasan ini. Sepanjang pertunjukan, tak ada adegan yang mempertemukan pemeran laki-laki dan perempuan dalam satu panggung.

Setiap babak disusun terpisah. Saat tokoh laki-laki tampil, panggung sepenuhnya milik mereka. Begitu pula ketika adegan beralih ke tokoh perempuan. Tidak ada tatap muka langsung maupun dialog silang secara fisik.

Meski demikian, alur cerita tetap utuh. Transisi cahaya, musik latar, dan pengaturan adegan membuat emosi penonton tetap terjaga.

Konsep ini disesuaikan dengan prinsip yang dijaga di lingkungan pesantren, di mana seni tetap diberi ruang tumbuh tanpa keluar dari koridor nilai dan syariat.

Pengasuh Asrama Al Furqon PP Darul Ulum Rejoso, KH Mustain Dzul Azmi atau Gus Azmi, mengatakan teater menjadi wadah pembinaan karakter bagi santri.

“Pementasan diatur menggunakan strategi. Setiap babak tidak ada pertemuan ataupun dialog antara santri laki-laki dan perempuan,” ujarnya dalam keterangan yang diterima, Minggu (15/2/2026).

Menurutnya, teater bukan sekadar hiburan, melainkan medium pembelajaran. Santri dilatih percaya diri, bekerja sama, menyusun gagasan, hingga menyampaikan kritik secara santun.

“Aturan tidak dimaknai sebagai penghalang, melainkan sebagai batas yang menuntut kecerdikan artistik. Dari batas itu lahir tata panggung yang unik dan segar,” katanya.

Di akhir pementasan, pita merah di tubuh Asih memang belum sepenuhnya terlepas. Namun pesan yang disampaikan terasa jelas: suara yang berani tak mudah dibungkam.

Para santri membuktikan bahwa seni dapat tumbuh berdampingan dengan nilai. Panggung menjadi ruang dakwah sekaligus ruang kritik, bahkan di tengah keterbatasan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.