Tradisi Malam Sanga di Bojonegoro, Obor Ramadan hingga Pernikahan di Ujung Bulan Penuh Berkah

oleh -269 Dilihat
Tradisi colok obor di Kecamatan Padangan Bojonegoro
Tradisi colok obor di Kecamatan Padangan Bojonegoro (Shohibul Umam)

KabarBaik.co, Bojonegoro – Bojonegoro memiliki tradisi khas yang selalu muncul menjelang akhir Ramadan, tepatnya pada malam ke-29. Tradisi tersebut dikenal sebagai Malam Sanga, identik dengan dua kegiatan utama masyarakat, yakni colok obor atau oboran malam songo, serta pernikahan malam sanga.

Pada malam tersebut, warga menyalakan obor di sepanjang jalan kampung sebagai simbol cahaya Ramadan. Di saat yang sama, tidak sedikit pasangan yang memilih melangsungkan akad nikah pada malam tersebut. Tradisi ini telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Bojonegoro dan Tuban dan menjadi bagian dari budaya lokal yang terus bertahan hingga kini.

Budayawan Bojonegoro yang meneliti tradisi tersebut, Ahmad Wahyu Rizkiawan, menjelaskan bahwa hingga kini belum ada penelitian pasti yang menunjukkan kapan tradisi Malam Sanga mulai dilakukan oleh masyarakat.

Menurutnya, dalam perspektif kajian budaya atau cultural studies, tradisi tersebut erat kaitannya dengan kebiasaan masyarakat Muslim dalam “ngalap barokah” atau mencari keberkahan dari hadirnya bulan Ramadan.

“Tradisi ini selain sebagai bentuk penghormatan terhadap Ramadan, juga menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas datangnya bulan yang penuh berkah,” jelas Rizki, sapaannya, Rabu (18/3).

Tradisi colok obor Malam Sanga yang ditandai dengan nyala obor memiliki makna simbolik yang kuat. Cahaya obor dipandang sebagai representasi dari Ramadan sebagai bulan cahaya, yakni bulan diturunkannya wahyu Alquran yang menjadi tuntunan kehidupan bagi umat Islam.

Karena itu, pada malam-malam terakhir Ramadan, cahaya tersebut diwujudkan secara nyata melalui obor-obor yang dipasang di jalanan kampung.

“Nyala obor itu semacam simbol rasa syukur masyarakat terhadap cahaya Ramadan,” kata Rizkiawan.

Selain obor, tradisi lain yang cukup dikenal adalah nikahan Malam Sanga, yaitu pernikahan yang dilangsungkan pada malam ke-29 Ramadan. Masyarakat setempat memandang Ramadan sebagai momentum penuh berkah sehingga banyak pasangan yang sengaja memilih waktu tersebut untuk memulai kehidupan rumah tangga.

Pilihan malam ke-29 pun bukan tanpa alasan. Dalam kepercayaan masyarakat Bojonegoro, keberkahan sering diyakini berada di bagian akhir.

“Dalam keseharian kita sering mendengar keyakinan bahwa barokah itu ada di bagian akhir. Misalnya saat makan, orang percaya berkahnya ada di suapan terakhir. Sama seperti Malam Sanga, keramatnya diyakini berada di ujung,” ujar Rizki.

Dari data kantor kemenag Bojonegoro menyebutkan, di bulan Ramadan tahun 2026 ini tercatat sebanyak 487 pasangan melangsungkan pernikahan dengan mengucapkan ijab kabul pada malam sanga atau malam 29 bulan Ramadan.

Tradisi colok obor di Kecamatan Padangan Bojonegoro
Tradisi colok obor di Kecamatan Padangan Bojonegoro (Shohibul Umam)

Tercatat dalam Manuskrip Dua Abad Lalu

Tradisi yang berkembang di masyarakat Bojonegoro ini ternyata juga pernah disinggung dalam literatur lama. Salah satunya adalah tulisan ulama pada abad ke-19, yang di tulis Sidi Abdurrohman Alfadangi, yang wafat pada 1877. Dalam manuskrip Risalah Padangan ciptaanya sekitar dua abad lalu, ia menulis karya berjudul Hikayat Fadhilatus Siyam (1820). Dalam naskah tersebut, ia menggambarkan metafora tentang keberkahan bulan-bulan menjelang Ramadan.

Rajab diibaratkan seperti angin, Syaban seperti awan, dan Ramadan seperti hujan yang turun deras membawa berkah. Menurutnya, cahaya keberkahan Ramadan terasa paling jelas dibanding bulan-bulan sebelumnya. Metafora tersebut dianggap sejalan dengan simbol cahaya yang muncul dalam tradisi oboran Malam Sanga.

Sementara itu, dalam risalah lain berjudul Nikahul Khoir Wasyaril Syahri (1820), Alfadangi juga menuliskan tentang bulan-bulan yang baik untuk melangsungkan pernikahan. Ramadan tidak disebut sebagai bulan yang buruk untuk menikah, bahkan dipandang sebagai waktu yang sarat keberkahan. Catatan tersebut dinilai memiliki hubungan dengan tradisi nikahan Malam Sanga yang berkembang di masyarakat Bojonegoro hingga saat ini.

Bagi warga setempat, malam ke-29 Ramadan menjadi simbol puncak dari bulan penuh berkah. Pada malam itulah cahaya obor dinyalakan dan akad nikah dilangsungkan, sebagai wujud harapan agar keberkahan Ramadan mengiringi kehidupan mereka. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini
Penulis: Shohibul Umam
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.