KabarBaik.co- Tradisi Rebo Wekasan di Kabupaten Gresik, tepatnya di Desa Suci, Kecamatan Manyar, bakal dimulai hari ini (1/9). Rangkaian acara berlangsung hingga Rabu (4/9) mendatang. Karena kegiatan itu, akan dilakukan pengalihan Jalan KH Syafii pada Selasa (3/9) mulai pukul 14.00 WIB sampai Rabu (4/9) pukul 14.00 WIB (kondisional).
Berdasarkan data yang diterima KabarBaik.co, beberapa rangkaian acara Rebo Wekasan adalah Minggu (1/9), pukul 05.00-16.00 WIB akan digelar Khotmil Quran di Pendopo Desa Suci serta seluruh musala/masjid di wilayah Desa Suci. Lalu, Senin (2/9), pukul 05.00-16.00 WIB, juga kembali dilaksanakan Khotmil Quran di Masjid Mambaut Thoat.
Nah, pada Senin (2/9) malam, pukul 19.00 WIB, akan diselenggarakan Kirab Tumpeng Agung. Rutenya dari Pendopo Desa ke Masjid Mambaut Thoat. Kirab ini menjadi salah satu agenda menarik yang mengundang banyak pengunjung dari berbagai daerah. Sebab, tumpeng yang dikirab berukuran raksasa.
Selanjutnya, pada Selasa (3/9), mulao pukul 18.00 WIB, ada pembacaan Ratib bertempat di Masjid Mambaut Thoat. Kemudian, pukul 24.00 WIB, warga bersama-sama akan melaksanakan salat malam.
Sementara itu, Pasar Rakyat yang biasa menjadi destinasi hiburan para pengunjung digelar pada Selasa (3/9) mulai pukul 12.00 sampai 24.00 WIB dan Rabu (4/9) mulai pukul 08.00 WIB hingga 14.00 WIB, bertempat di lapangan Desa Suci dan sepanjang Jalan KH Syafii.
Awal Mula Tradisi Rebo Wekasan
Ada sejumlah versi cerita ikhwal tradisi Rebo Wekasan. Dikutip dari laman dinas pariwisata dan kebudayaan (disparbud) Gresik, Rebo Wekasan adalah tradisi sedekah bumi berupa selamatan di sekitar telaga Desa Suci. Kegiatan ini dilakukan setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar.
Dari cerita tutur, pada hari Rabu terakhir bulan Safar itu, Tuhan mengabulkan permintaan warga Dusun Sumber, Desa Suci. Mereka telah lama menantikan sumber air guna mencukupi kebutuhan sehari-hari. Akhirnya, sumber air itu dapat ditemukan. Nah, pada malam Rabu akhir bulan Safar itu, warga kemudian mengadakan tasyakuran atau selamatan.
Lain lagi dari Buku Grisse Tempo Dulu karya Dukut Imam Widodo yang diterbitkan Pemkab Gresik, Rebo Wekasan adalah sebuah upacara unik yang hanya ada di Desa Suci. Wekas berasal dari evolusi kata pamungkas.
Konon, Sunan Giri memerintahkan salah seorang santrinya yang menonjol dan memiliki jiwa kepemimpinan kuat untuk menyiarkan agama Islam di sekitar perbukitan yang agak jauh dari wilayah Giri. Daerah yang dipilih adalah Desa Pelaman, sebuah bukit kapur yang tandus dan gersang.
Langkah pertama yang dilakukan santri Sunan Giri adalah mendirikan masjid di Desa Pelaman. Warga di daerah perbukitan tandus itu tentu sudah mengenal siapa itu unan Giri. Warga pun membantu mendirikan masjid. Bahkan, banyak yang di antara mereka memeluk agama Islam.
Tiba-tiba saja di Desa Pelaman terjadi musibah. Terjadi kemarau panjang. Sebetulnya, warga setempat sudah terbiasa menghadapi kondisi alam yang gersang dan tandus. Namun, musim kemarau saat itu jauh lebih panjang. Perlahan-lahan sumber air di wilayah itu mengering. Banyak tumbuhan layu. Warga dan hewan ternak kehausan sepanjang hari. Sumur di masjid Desa Pelaman ikut mengering.
Sang santri itupun menghadap Sunan Giri untuk melaporkan keadaan Desa Pelaman. Akhirnya, Sunan Giri mengunjungi Desa Pelaman bersama sejumlah santrinya. Setiba di Masjid Pelaman, Sunan Giri melihat sumur masjid yang mengering itu. Sunan Giri pun memberikan petunjuk bahwa beberapa ratus meter tidak jauh dari masjid, terdapat sumber yang sangat besar.
Singkat cerita, apa yang dikatakan Sunan Giri adalah benar. Santri dan para pengikutnya menemukan sumber air di wilayah tersebut. Warga pun bersuka ria ketika menemukan air. ‘’Sumber…sumber…’’ Kalimat itulah yang diucapkan santri dan warga. Lalu, Sunan Giri memerintahkan sejumlah santrinya untuk membuat tiga buah kolam besar untuk padusan atau tempat pemadian. Satu khusus untuk laki-laki, satu untuk perempuan, dan satu lagi untuk keperluan ternak.
Kabar penemuan sumber air baru itu juga menyebar kemana-mana. Sumber air itu pun didatangi banyak orang. Masjid yang semua didirikan di Desa Pelaman, akhirnya dipindah juga ke tempat tersebut. Sejak itu, perkampungan tersebut dinamakan Sumber hingga sekarang.
Menurut penanggalan Jawa, hari diketemukannya sumber dan juga selesainya pembangunan masjid jatuh pada hari Rabu pungkasan di bulan Safar. Begitu berartinya sumber air, akhirnya warga merasa perlu untuk mengadakan tasyakuran. Wujud rasa syukur kepada Tuhan yang telah melimpahkan RahmatNya.
Sejak saat itu, konon Sunan Giri juga berpesan agar setiap tahun di bulan Safar, pada tengah malam Rabu pungkasan, diadakan tasyakuran. Masyarakat pun mematuhi wejangan itu dan berlangsung hingga sekarang. Selain mengadakan tumpengan, juga mengadakan salat sunnah bersama-sama. Warga setempat juga menyajikan makan khusus berupa lontong bumbu ladan, serabi, hingga beberapa makanan khas lainnya. (*)








