Tragedi Cartenz: Dua Pendaki Gugur, Fiersa Besari Selamat dari Maut

oleh -52 Dilihat
Fiersa baseri
Foto Fiesra Baseri yang selamat dari maut saat mendaki (Pinterest)

KabarBaik.co- Tragedi di Puncak Cartenz menjadi sorotan setelah dua pendaki dilaporkan meninggal dunia akibat hipotermia. Di tengah duka yang menyelimuti dunia pendakian, kabar selamatnya musisi dan penulis Fiersa Besari yang turut serta dalam rombongan membawa kelegaan bagi banyak pihak. Kejadian ini sekaligus mengingatkan akan bahaya yang mengintai di ketinggian ekstrem. Berikut kronologi lengkap perjalanan pendakian yang berujung duka di salah satu puncak tertinggi Indonesia.

Nama Fiersa Besari jadi sorotan di tengah kabar mengejutkan bahwa ada dua pendaki meninggal dunia saat mendaki Puncak Cartenz di Mimika, Papua Tengah. Dua pendaki tersebut diketahui adalah rekan Fiersa Besari.
Belakangan, Fiersa Besari dipastikan selamat dari kejadian ini. Fiersa Besari adalah penulis dan musisi asal Indonesia yang selamat dari insiden Puncak Cartenz, Papua. Terlepas dari itu, siapa Fiersa Besari lebih jauh? Berikut profil biodatanya :

Profil Biodata Fiersa Besari

Fiersa Besari atau yang akrab disapa ‘Bung’ ini adalah penulis dan musisi asal Indonesia.  Berkat karya-karyanya, nama Fiersa saat ini populer di kalangan anak-anak muda. Pria kelahiran 3 Maret ini terlahir dari keluarga sederhana yang berasal dari Kota Bandung. Ia merupakan lulusan dari STBA Yapari-ABA Bandung, dengan gelar sarjana Bahasa Inggris yang di akhir semesternya mulai mencintai Sastra Indonesia.

Sebelum mengawali kariernya di dunia hiburan Fiersa sempat bekerja di sebuah kantor, namun hanya bertahan beberapa bulan saja. Hal ini disebabkan karena ia merasa tidak nyaman dengan pekerjaan yang dilakukan dan akhirnya beralih ke dunia musik dan Sastra Indonesia.

Di tahun 2009, Fiersa mulai membuat karya-karyanya berupa lagu dan album dan di tahun 2011 ia pun merilis sebuah album yang berjudul “11:11”. Album ini laris manis dan sukses di pasaran. Ia pun kembali merilis dua album lainnya dengan judul Tempat Aku Pulang (2014) dan Konspirasi Alam (2015).

Kedua album ini juga berhasil melejit di dunia musik Tanah Air dan menjadi playlist wajib di beberapa radio hingga acara musik. Selain bermusik, dan kecintaannya pada Sastra Indonesia Fiersa pun aktif menjadi seorang penulis terhitung sejak tahun 2016 hingga 2018 sudah 5 buku yang diterbitkan. Buku yang ia tulis pun juga sukses dan masuk ke dalam jajaran ‘best seller’. Lima buku yang telah ia terbitkan diantaranya adalah Garis Waktu, Konspirasi Alam Semesta, Catatan Juang, Arah Langkah dan Albuk 11:11. Kegemarannya dalam menulis serta menciptakan lagu dengan gaya sasra yang indah, tak banyak yang tahu ia adalah pendiri dari komunitas pecinta buku.

Fiersa mendirikan komunitas yang di beri nama “Pecandu Buku”. Suami dari Aqia Nurfadla ini memiliki hobi berkeliling Indonesia termasuk melakukan pendakian. Hal ini terlihat pada foto-foto yang diunggah di instagram pribadinya.

Selain di instagram Bung Fiersa juga akif di beberapa media sosial lainnya, seperti twitter dan Youtube.
Ia juga pernah mengisi soundtrack untuk film yang berjudul Imperfect, dengan berkolaborasi bersama Audrey Tapiheru.

Selamat Saat Mendaki Puncak Cartenzz

Musisi Fiersa Besari yang sempat hilang kontak dengan istrinya saat mendaki puncak Cartenz, Mimika Papua Tengah, dalam kondisi selamat. Kondisinya jadi perhatian setelah kejadian dua pendaki meninggal dunia di tengah pendakian Puncak Carstensz di Papua Tengah.

Fiersa Besari ternyata ikut serta dalam rombongan tersebut dan sempat hilang kontak dengan sang istri, Aqia Nurfadla. Aqila mengaku sempat kesulitan menghubungi suaminya setelah mendengar tentang kejadian dua pendaki meninggal tersebut.

Melalui akun Instagram pribadinya @aqianr dikutip Minggu (2/3/2025), Aqia membagikan ia tidak bisa menghubungi Fiersa sejak 28 Februari 2025. Namun, dalam unggahan berikutnya, Aqia akhirnya mengabarkan suaminya selamat dan mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan masyarakat.

Mengutip Tribun Sumsel, selain dua rekannya tewas, Musisi Fiersa Besari dan pendaki lainnya dipastikan selamat dari insiden tragedi di puncak Cartenz, Papua. Informasi itu disampaikan Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Mimika, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Bily Hildiarto Budiman. Sementara itu, penghubung dari Fiersa Besari, yaitu Rizky Ubaidillah, juga membenarkan Fiersa Besari berada dalam kondisi selamat. “Untuk Fiersa, InsyaAllah baik,” ujar Rizky .

Perjuangan di Tengah Tragedi Cartenz

Aparat kepolisian telah meminta keterangan korban selamat dan mendapatkan kronologi kejadian yang dialami para pendaki. Berdasarkan pengakuan dari para pendaki, akhirnya terungkap bagaimana perjalanan mendaki gunung dimulai hingga akhirnya terjadi insiden.

” Para pendaki awalnya terbang dari Bandara Timika menuju Yellow Valley,” kata Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Pol Ignasius Benny Ady Prabowo dalam keterangannya pada Minggu (2/3/2025).
Mereka terbang menggunakan helikopter milik PT Komala Indonesia jenis AS 350 B3 (PK-KIE) pada Rabu, 26 Februari 2025, sekitar pukul 07.00 WIT sampai pukul 09.50 WIT.

Pada Jumat, 28 Februari 2025, para pendaki melakukan penyeberangan di jembatan tyrolean. Menurut laporan dari pendaki Octries Ruslan dan Abdullah yang berhasil turun, seluruh anggota tim berhasil mencapai puncak Cartenz.

Namun, tragedi terjadi saat proses turun, di mana beberapa pendaki mulai mengalami gejala hipotermia. Indira Alaika dan Saroni dilaporkan terkena hipotermia di area teras besar, sementara tim tamu dan pemandu terjebak di area sebelum Tyrollean. Salah satu pendaki, Nurhuda, tiba di basecamp dalam kondisi hipotermia. Ia segera meminta bantuan karena radio komunikasi tim tidak berfungsi.

Mendengar laporan tersebut, pemandu Yustinus Sondegau langsung bergerak membawa perlengkapan darurat seperti sleeping bag, fly sheet, air panas, dan radio. Pemandu internasional, Dawa Gyalje Sherpa, juga turun tangan untuk membantu proses evakuasi. “Dengan cepat, 1 orang guide internasional, Dawa Gyalje Sherpa, naik untuk melakukan pertolongan hingga bertemu salah satu dari ibu-ibu pendaki,” ujar Benny.

Pendaki Poxy melaporkan bahwa Dawa sempat menghubungi basecamp dan berusaha menangani Lilie dan Elsa yang mengalami hipotermia di Teras Dua. Sayangnya, upaya penyelamatan tidak berhasil. Benny, dalam keterangan resmi pada Minggu (2/3/2025), menyatakan bahwa kedua pendaki tersebut telah meninggal dunia.

“Naasnya, pendaki Octries menginformasikan ke pendaki Deshir bahwa dua orang ibu-ibu (Lilie dan Elsa, -red) yang berada di Teras Dua telah meninggal dunia,” ujarnya. Sementara itu, pendaki Huda sempat mencoba naik kembali ke Teras Dua untuk membantu Egi dan tim lainnya di Summit Ridge. Namun, karena kondisi fisiknya yang lemah, ia memutuskan untuk kembali ke basecamp. Dari seluruh tim pendakian, dua orang, yaitu Lilie dan Elsa, meninggal dunia.

Tragedi di Puncak Cartenz menjadi pengingat betapa berbahayanya pendakian di medan ekstrem, di mana persiapan dan kewaspadaan adalah hal yang mutlak. Kepergian dua pendaki dalam insiden ini membawa duka mendalam bagi komunitas pendaki, sementara kabar selamatnya Fiersa Besari dan yang lainnya menjadi secercah kelegaan. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi para pecinta alam agar selalu mengutamakan keselamatan dalam setiap perjalanan.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Marzel Aditiansyah
Editor: Lilis Dewi


No More Posts Available.

No more pages to load.