Trump, Perang Tarif, dan Masa Depan Geopolitik Ekonomi Global

oleh -565 Dilihat
Pengamat Ekonomi-Politik, Hadipras

KabarBaik.co – Kebijakan kontroversial Donald Trump selama masa kepresidenannya, terutama perang tarif melalui slogan “America First,” tidak hanya mengguncang tatanan perdagangan internasional, tetapi juga memunculkan pertanyaan mendalam tentang motifnya. Apakah langkah ini sekadar strategi ekonomi, atau ada tujuan geopolitik yang lebih besar di baliknya? Artikel ini mencoba mengurai motif Trump sekaligus memetakan dampaknya terhadap dinamika ekonomi dunia.

Donald Trump berupaya melindungi kepentingan ekonomi domestik AS, khususnya kelas menengah bawah yang menjadi basis pendukung utamanya. Kebijakan tarif yang tinggi, terutama terhadap produk China, ditujukan untuk:

• Mendorong reshoring atau kembalinya investasi industri ke AS.

• Melindungi industri domestik dari persaingan yang dianggap tidak adil.

• Memperkuat posisi tawar dalam negosiasi perdagangan bilateral.

Trump juga menyasar perjanjian perdagangan lama seperti NAFTA yang ia renegosiasi menjadi USMCA (Perjanjian AS-Meksiko-Kanada), memberi keuntungan lebih bagi AS, terutama dalam rantai pasok otomotif dan pembukaan pasar agrikultur.

Namun, pendekatannya berbeda terhadap China. Trump menerapkan tarif tinggi lebih dari 100%, menuding China melakukan praktik perdagangan tidak adil, mencuri kekayaan intelektual, dan menjadi ancaman utama dominasi ekonomi AS.

Kebijakan Trump juga mencerminkan ambisi besar untuk menata ulang tata kelola ekonomi global agar lebih menguntungkan AS. Beberapa langkahnya meliputi:

• Mengurangi ketergantungan pada multilateralisme seperti WTO.

• Membentuk aliansi baru dengan Uni Eropa untuk menghadapi dominasi China.

• Menggunakan tekanan ekonomi, seperti tarif dan sanksi, sebagai alat geopolitik.

Namun, langkah ini menuai kritik. Risiko perang dagang dapat memperlambat ekonomi global, sementara ketergantungan AS pada rantai pasok China menyulitkan upaya pemisahan total.

Di tengah ketegangan AS-China, Rusia memanfaatkan peluang dengan mendekat ke China melalui proyek energi seperti Power of Siberia dan kerja sama di BRICS. Moskwa juga aktif mengembangkan sistem pembayaran alternatif untuk menghindari tekanan finansial AS, memperluas pasar ekspor ke Asia, Timur Tengah, dan Eropa.

Rusia melihat konflik perdagangan ini sebagai celah untuk memperkuat pengaruhnya dalam geopolitik global, sambil terus mendorong sistem ekonomi yang lebih independen dari dominasi dolar AS.

Indonesia berada di persimpangan penting dalam menghadapi ketegangan global ini. Untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, langkah-langkah berikut menjadi krusial:

• Diversifikasi pasar dan mitra dagang dengan memperluas hubungan ke Uni Eropa, Afrika, dan India.

• Memperkuat industrialisasi melalui hilirisasi sumber daya alam dan digitalisasi manufaktur.

• Meningkatkan investasi di infrastruktur dan SDM unggul untuk mendukung efisiensi logistik dan daya saing tenaga kerja.

• Netralitas aktif dalam perang dagang AS-China sambil memanfaatkan peluang relokasi industri.

Ke depan, hubungan AS, China, dan Uni Eropa akan terus mendominasi dinamika ekonomi global. AS tetap akan bersikap tegas pada China, baik melalui pendekatan multilateral ala Biden maupun unilateral ala Trump. Di sisi lain, China akan memperkuat pasar domestik dan memperluas mitra dagang baru.

Bagi Indonesia, dinamika ini membuka peluang sekaligus tantangan. Dengan strategi yang tepat, Indonesia tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga menjadi pemain penting dalam arus ekonomi global yang terus berubah.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.