KabarBaik.co, Banyuwangi – Asap tipis mengepul dari dapur Warung Makan Sapu Jagad di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Aroma kayu bakar bercampur bumbu masakan memenuhi ruangan, saat para juru masak menyiapkan pecel pitik dan ayam uyah asem untuk pelanggan yang datang silih berganti.
Di tengah penggunaan kompor gas yang kini serba praktis, warung makan tersebut tetap mempertahankan tungku kayu bakar untuk memasak seluruh menu. Cara itu sengaja dipilih agar rasa makanan tetap seperti masakan rumahan masyarakat Osing tempo dulu.
“Pesan utama kami memang ingin menghadirkan kuliner khas yang dibuat sebagaimana warga setempat memasaknya di rumah masing-masing zaman dulu,” kata pemilik Warung Makan Sapu Jagad, Mohammad Yazid Sofyan, Minggu (10/5).
Warung yang berada di kawasan Desa Wisata Adat Osing Kemiren itu hanya menyajikan menu khas Banyuwangi. Mulai pecel pitik, ayam uyah asem, nasi tempong hingga kudapan tradisional seperti kucur dan semanggi. Seluruhnya dimasak menggunakan kayu bakar.
Menurut Sofyan, penggunaan tungku memang membuat proses memasak lebih lama dibanding kompor gas. Besar kecil api tidak bisa diatur secara stabil sehingga membutuhkan pengalaman tersendiri saat memasak.
Untuk mengantisipasi pelanggan menunggu terlalu lama, bahan makanan biasanya disiapkan lebih awal dalam kondisi setengah matang sebelum warung dibuka.
Bukan hanya proses memasaknya yang tradisional, sebagian bahan baku juga disiapkan secara mandiri. Pengelola memiliki peternakan ayam kampung kecil untuk memenuhi kebutuhan menu utama.
Ayam dipilih saat berusia sekitar tiga hingga tiga setengah bulan dengan berat rata-rata satu kilogram.
“Di usia itu ayam tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, jadi teksturnya pas,” ujarnya.
Daun semanggi yang digunakan sebagai kudapan juga ditanam sendiri di kebun yang berjarak sekitar 200 meter dari warung. Sementara ranting dan kayu dari sekitar kebun dimanfaatkan sebagai bahan bakar tungku.
Suasana warung turut dibuat sederhana mengikuti nuansa pedesaan Kemiren. Bangunan didominasi kayu dengan lantai bata merah dan berbagai ornamen lawas. Para juru masaknya pun merupakan warga asli Kemiren yang sejak lama terbiasa memasak makanan khas Osing di rumah masing-masing.
Untuk rombongan besar, pengunjung juga bisa melihat langsung proses memasak di Sanggar Sapu Jagad yang berada di belakang warung. Tungku dan perlengkapan dapur dipindahkan ke lokasi tersebut agar tamu dapat menikmati suasana memasak tradisional secara langsung.(*)






